
Jam di dinding kamar menunjukkan angka 11.30 malam. Arsen belum juga pulang ke rumah. Seharusnya, Bianca merasa senang, karena sejenak terbebas dari kekerasan pria itu. Namun, kali ini Bianca resah, sesuatu terjadi pada suaminya. Bianca ingin menghubungi kakaknya Harland, namun Bianca membatalkan niatnya, karena tidak ingin mengganggu kakaknya yang sedang beristirahat.
Bianca berkali-kali mengintip dari balik tirai kamar, belum ada tanda-tanda pria itu datang.
Akhirnya Bianca menghubungi ponsel Arsen, panggilannya tersambung,
"Hallo Bi, ...!" suara Arsen terdengar serak.
"Arsen, kami dimana? Kenapa belum pulang?" tanya Bianca cemas.
Diseberang sana, Arsen tersenyum samar, hatinya senang, mendengar Bianca mencemaskan dirinya.
"Aku masih di kantor, Bi! Sebentar lagi aku pulang!"jawab Arsen.
"Baiklah! hati-hati!' pesan Bianca menutup panggilannya.
Arsen menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Dia segera bangkit dari kursi kebesarannya, dan berjalan keluar gedung perkantoran untuk pulang kerumahnya.
"Sayang! Kenapa belum tidur?" Arsen memeluk Bianca, saat wanita pujaannya itu membukakan pintu.
"Aku mencemaskan mu, Arsen!" ucap Bianca.
Arsen menatap manik indah itu, tidak ada kebohongan di dalamnya.
"Terimakasih, sayang!" Bianca mencoba tersenyum dan memeluk pria yang telah menjadi suaminya itu mesra.
Arsen mencoba memejamkan matanya, hanya beberapa menit, dirinya kembali tersentak dari tidurnya. Nafasnya tersengal-sengal. Bayangan kisah masa lalunya yang suram, kembali menghantui dirinya. Masa lalu yang ingin dia kubur untuk selamanya. Tapi ternyata sulit untuk dilupakan.
Dia ingin jujur pada Bianca, tentang dirinya, namun Arsen takut, Bianca akan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Arsen menatap sendu Bianca yang telah pulas tidur di sampingnya. Perlahan disentuhnya garis wajah yang halus dan lembut itu, mengusap bibirnya yang ranum dan membuatnya candu.
"Maafkan aku Bianca!" bisiknya lembut ditelinga Sang Istri, "Aku menyakitimu, walau itu bukan keinginanku." Arsen memeluk istrinya dari belakang, menyandarkan tubuhnya dan mencari kehangatan di balik tubuh Bianca.
...----------------...
ENAM BELAS TAHUN YANG LALU
Seorang bocah kecil berusia delapan tahun, berlari sekuat tenaga meninggalkan rumahnya di sebuah perkampungan padat penduduk di kota Surabaya. Dia baru saja menyaksikan sebuah peristiwa yang membekas dalam jiwanya. Sang ibu, Marisa Anggraini, baru saja membunuh suaminya dengan kalap, dengan sebuah pisau dapur.
Kemudian dengan langkah lesu berjalan keluar rumah, untuk menyerahkan dirinya pada polisi.
Polisi sektor kota, heran melihat Marisa datang kekantor polisi dengan tangan yang penuh darah.
"Ada apa, Nyonya? Apa yang terjadi pada anda?" tanya Polisi
"Saya telah membunuh suami saya, Pak! Silahkan tangkap saya!" Marisa tampak bingung, tatapan matanya kosong, dia memandang nanar keluar jendela, menatap kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.
"Saya serius Pak! Tolong, pria itu masih berada dirumah saya!"
"Saya akan mengirim orang untuk datang kerumah anda nyonya, berikan alamatnya?"
Kata seorang polisi satunya lagi bernama Brama."Jalan Ahmad Yani no. 15 pak!" jawab wanita itu lancar.
Polisi segera bergerak menuju sebuah rumah kecil yang terletak di sebuah tempat yang agak terpencil dari rumah yang lain. Polisi menemukan sesosok mayat, yang diketahui bernama Baron. Pria itu adalah seorang residivis dalam kasus pencabulan anak-anak dibawah umur.
"Nyonya Marisa, katakan dengan jujur, kenapa anda sampai membunuh suami anda?" tanya polisi yang bernama Johan.
"Dia telah mencabuli putra saya yang baru berusia 8 tahun, Pak!"
__ADS_1
"Dia mencabuli putranya sendiri?" tanya polisi lagi
"Dia pria yang baru saya kenal tiga bulan yang lalu, awalnya dia baik, dia sangat menyayangi anak saya." Mata Marisa berkaca-kaca, mengingat nasib putranya yang malang karena harus menerima perlakuan buruk dari Suami barunya.
"Ibu, aku tidak mau tinggal sama Om Baron," pinta Anak yang bernama Arsen siang itu, mengadu pada ibunya.
"Kenapa Arsen, bukankah, Om Baron menyayangimu?" tanya Marisa.
"Dia menyakitiku ibu, dia selalu memegang alat k*****nku, aku takut padanya," adu Arsen.
Semula Marisa tidak percaya ucapan Arsen, namun siang itu, saat dia pulang bekerja dia melihat sendiri perbuatan suaminya, yang sedang mencabuli Arsen dengan mengikatnya di sebuah tiang, agar anak itu tidak memberontak. Baron marah, karena aksinya ketahuan dia memukul Marisa dengan keras. Marisa jatuh ke lantai, pria itu kembali hendak melakukan aksinya di depan Marisa. Dengan sisa kekuatannya, Marisa mengambil pisau dapur yang terletak di atas meja makan, dan menghunjamkannya berkali-kali ke punggung pria itu. Dengan cepat Marisa melepaskan tali yang mengikat Arsen di tiang.
"Cepat pergi Arsen, pergilah yang jauh!" teriak Marisa ketakutan, Karena tangannya kotor oleh d***h.
Setelah yakin, Baron tidak bergerak, Marisa mencuci tangannya di wastafel, kemudian pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan diri.
"Anda berhak di dampingi pengacara Nyonya!" ujar polisi. "Untuk sementara kami akan menahan anda, untuk pemeriksaan lebih lanjut, namun tindakan anda melenyapkan orang lain, tetap akan kami proses sesuai dengan hukum yang berlaku," ujar Polisi Johan, setelah mendengar keterangan Marisa. Wanita itu hanya mengangguk pasrah. Air mata menggenang di pelupuk matanya yang indah.
Si kecil Arsen, berlari tak tentu arah, hingga dia sampai di sebuah Panti Asuhan. Arsen memohon untuk bisa diterima di tempat itu. Pengurus panti mengizinkan Arsen tinggal disana, dan menyekolahkan Arsen sebagaimana anak-anak panti lainnya.
Arsen tumbuh menjadi anak yang pendiam dan introvert. Meskipun dia memiliki wajah yang tampan, namun Arsen selalu menutupi wajahnya dengan kaca mata tebal.
Di usia Arsen yang menginjak 16 tahun, karena kepintarannya, dia mendapat beasiswa penuh untuk bersekolah disebuah yayasan pendidikan yang notabene berisi orang-orang kaya dan berpangkat. Disekolah itu, Arsen hanya menjadi bahan bullyan dan olok-olokan dari teman-teman sekelasnya termasuk Bianca.
Arsen terang-terangan menyatakan cintanya kepada Bianca, namun Bianca menolak dan mempermalukan Arsen didepan teman-temannya. Sejak saat itulah, cintanya yang tulus untuk Bianca, berubah menjadi kebencian, dan memunculkan Alter igo dalam dirinya. Keinginan untuk mendapatkan Bianca, semakin menjadi, seiring dengan dendam yang ingin dia balaskan, termasuk kepada orang-orang yang meremehkannya.
Dengan prestasinya yang tinggi, Arsen memberanikan diri melamar pekerjaan di perusahaan milik Harland, kakaknya Bianca. Harland menyukai Arsen yang sopan dan ramah kepada siapa saja, Harland bukan hanya memberi Arsen pekerjaan, namun juga membiayai kuliah Arsen di sebuah Universitas ternama di ibu kota. Arsen mampu membuat dirinya pantas bersanding dengan Bianca, dan dengan percaya diri, Arsen melamar Bianca pada keluarganya. Gayung bersambut, keluarga Bianca menerima Arsen dengan tangan terbuka.
Namun setelah mendapatkan Bianca, "dirinya yang lain" hadir menjadi penghalang hubungan Arsen dan Bianca. Jiwanya yang dulu merasa dendam dan sakit hati karena penolakan dan penghinaan yang dilontarkan Bianca bangkit tanpa Arsen sadari sebelumnya. Arsen mencoba menentangnya, namun kebencian lebih mendominasi dari pada rasa sayangnya pada Bianca.
__ADS_1
Bersambung....