
"Harland, Mommylihat, hubunganmu dengan Shanum makin akrab sekarang!" Ungkap Mami Sarah, saat mereka duduk bersama diruang kerja Harland.
"Masa sih, Mom! biasa aja !" jawab Harland santai.
"Kemaren Mommy lihat, kalian pulang dari Mall, kayaknya mesra banget, pakai rangkul rangkul segala," goda mami Sarah.
" Oh, itu..!" Harland tampak tersipu.
"Kalau kamu mau serius sama Shanum, Mommy akan mendukungmu, Lan, walaupun Shanum bukan orang kaya dan berpendidikan tinggi, tapi dia adalah wanita yang baik, Mommy yakin kamu akan bahagia, bila menikah dengannya," kata Mommy Sarah.
"Mommy, kali ini aku akan mendengarkan kata Mommy. Kalau menurut Mommy, Shanum baik untukku, aku akan menerimanya dengan tangan terbuka," ucap Harland yakin.
Mommy Sarah tampak senang dengan jawaban putranya. Dulu, Harland pernah menantangnya karena Mommy Sarah melarang Harland untuk menikahi Monica. Merasa tidak cocok dengan Monica, Mommy Sarah pergi ke Jerman dan menenangkan diri disana.
Namun pernikahan Harland dan Monica tidak berjalan mulus, sebagaimana keinginan Harland. Harland menginginkan Monica untuk tinggal dirumah, hanya untuk mengurus dirinya dan anak-anaknya kelak. Tapi Monica bukanlah tipe wanita rumahan, dia tidak bisa meninggalkan dunia yang telah membesarkan namanya sebagai model dan juga selebritis.
Pertengkaran demi pertengkaran, mulai mengiringi pernikahan keduanya. Monica berbohong, kalau dia tidak bisa memiliki anak, karena suatu penyakit. Padahal sesungguhnya Monica menolak untuk hamil, karena tidak ingin disibukkan dengan urusan anak dan takut tubuhnya yang ramping akan melar, jika melahirkan.
"Mommy akan membuat Shanum, merasa pantas untuk berdampingan denganmu, Harland. Serahkan semuanya pada Mami, " Kata Mami Sarah tersenyum lebar.
Mami Sarah, memanggil Shanum untuk datang ke kamarnya. Tidak biasanya, wanita itu, memanggil Shanum ke kamar, biasanya hanya di ruang keluarga atau didapur.
"Ada apa Mommy! tanya Shanum, masuk kekamar wanita yang masih cantik diusianya yang lagi muda.
Kamar mami Sarah, tampak luas dan mewah.
Suasana tenang dan damai tercipta dari lembutnya warna soft blue yang menghiasi seluruh ruangan.
"Duduklah, Num...!" titah nyonya Sarah lembut.
"Makasih, Mommy! Ada apa ya, Mom? Apa saya punya salah?" tutur Shanum, merasa cemas.
"Ya, kamu punya salah, kesalahan yang besar !" ucap mami Sarah dengan wajah serius.
"Saya salah apa, Mom! Maafkan kalau saya khilaf, tapi katakan apa yang telah saya perbuat," Shanum tampak hampir menangis.
"Kamu telah membuat Harland jatuh cinta padamu!" Shanum memandang Mami Sarah tidak percaya. Memang akhir -akhir ini Harland dekat dengannya, tapi...
"Mommy, saya tidak pernah menggoda Tuan Harland, demi Tuhan, saya tidak melakukan apapun!" sahut Shanum dengan wajah mulai pucat pasti, dia takut Mami Sarah akan memarahinya, karena wanita itu pasti tidak menginginkan putranya memiliki istri seperti Shanum.
"Menggoda atau tidak, Harland menginginkanmu menjadi istrinya, Bunda untuk Flower," lanjut Mami Sarah dengan wajah datar.
"Mami Sarah, maafkan saya! saya akan pergi, jika Mami menginginkan saya pergi, Saya tahu diri, saya tidak pantas untuk Tuan Harland," air mata Shanum mulai menggenang dipelupuk matanya.
__ADS_1
Mami Sarah masih dalam mode datarnya.
"Kamu ingin merasa pantas bersanding bersama Harland?"
"Tidak, Mommy ! aku tidak menginginkan itu!"
"Kenapa?"
"Aku hanya seorang yang miskin dan tidak berpendidikan tinggi seperti nyonya Monica!"
"Tapi Mommy mau, kau menikah dengan Harland!" ucap Mami Sarah, membuat Shanum merasa tak percaya.
"Aku...aku...tidak pantas, Mommy...!" Shanum menggeleng.
"Siapa bilang kamu tidak pantas ! Mami akan membuatmu merasa pantas bersanding dengan Harland, syaratnya cuma satu, kamu harus percaya diri," tukas mami Sarah.
Shanum menarik nafasnya perlahan, ...dia tidak tahu harus bahagia atau bersedih, bahagia karena Mami Sarah menyayanginya dan menginginkan Shanum menjadi menantunya. Sementara Shanum sedih, gelisah, bagaimana kalau nanti Harland tahu, bahwa dia bukanlah seorang ibu yang baik, seperti yang mereka katakan. Shanum pernah menelantarkan putrinya dirumah sakit, dan dia tidak tahu dimana anak itu sekarang.
"Mami Sarah, ...maafkan saya,...mungkin saya tidak sebaik yang anda kira," tutur Shanum sedih.
"Apa maksudmu, Shanum?" Mommy Sarah menatap Shanum penuh selidik.
"Aku bukan seorang ibu yang baik, aku ibu yang tega meninggalkan putrinya dirumah sakit, aku ibu yang jahat," Shanum menangis terisak-isak.
"Iya, Mommy, tapi sekarang aku menyesalinya," Shanum mengusap air matanya yang tumpah .
"Kalau begitu, nanti kita cari bersama,kamu masih ingat kan, tempat kamu melahirkan," tanya Mommy Sarah.
"Ya, Mommy, aku ingat !" Shanum mengangguk, dia memeluk wanita baya itu dengan erat, wanita yang baik hati dan penyayang.
Sejak saat mami Sarah, meminta Shanum menjadi menantunya, Shanum merasa malu untuk bertemu Tuan Harland. Bahkan wanita itu sengaja menghindar.
Siang itu, tanpa sengaja Shanum bertemu dengan Harland di dapur, pria itu sedang mengambil sesuatu didalam lemari es. Shanum sedang memasak makanan sehat untuk Baby Flo.
"Masak apa, Shanum?" tanya Harland berdiri persis dibelakang Shanum. Shanum, menahan nafasnya, agar Harland tidak mendengar suara debaran keras di jantungnya.
"Oh, masak sayur Sop untuk Flo, Tuan!" jawab Shanum sedikit gugup.
"Mommy mana ya, kok sepi!" tanya Harland sambil menenggak minuman kaleng yang dia ambil dari lemari es.
"Mommy pergi kerumah temannya, Tuan! "
"Shanum, bisa nggak kalau manggil saya, nggak usah pake kata Tuan," ujar Harland sambil bersandar dimeja dapur.
__ADS_1
"Oh, lalu saya harus panggil apa?" tanya Shanum.
"Panggil aku Aland!" kata Harland
"Tapi tuan," Shanum merasa makin deg degan.
"Nggak pake tapi, Shanum!"
"Baiklah, tapi aku manggilnya kak Alan saja ya!" kata Shanum tersenyum simpul. Harland hanya mengangguk.
"Flo, mana Num?" tanya Harland lagi, sambil mengikuti Shanum yang sudah selesai memasak, menuju kekamar Flo.
"lagi tidur di kamar, tu..eh...kak," jawab Shanum gugup.
"Shanum, bisa kita bicara sebentar!" Harland menahan tangan Shanum agar berhenti melangkah.
"Bicara apa, Kak?"
"Tentang rencana Mommy untuk menjodohkan kita!" jawab Harland dengan mode seriusnya.
"Jadi, Mommy yang menjodohkan aku dengan Harland, tapi bagaimana dengan Harland, apakah dia juga menginginkanku," batin Shanum
"Apakah kamu bersedia, Shanum?" tanya Harland sambil menatap mata Shanum dalam.
"Kak, apakah kamu mencintaiku?" Shanum balik bertanya.
"Apakah itu harus?" tanya Harland lagi.
"Ya, Saya takut, jika pernikahan saya gagal lagi, karena anda tidak mencintai saya!" ungkap Shanum ragu
"Shanum, bukankan dalam sebuah pernikahan tidak ada syarat tertulis, bahwa menikah itu harus dengan cinta," imbuh Harland. Shanum termangu, Harland benar, Shanum menikah dengan Devan karena mereka saling mencintai, tapi cinta itu pupus seiring berjalannya waktu. Begitu pun Harland, Dia sangat mencintai Monica, namun setelah mengetahui Monica membohonginya, Harland lebih memilih menceraikan Monica. Setelah mereka mengadopsi seroang anak dari rumah sakit.
"Kuharap cinta itu bisa tumbuh, setelah kita menikah!" kata Harland lagi. "Yang penting dalam sebuah pernikahan adalah kepercayaan dan kesetiaan. Bagiku itu sudah lebih dari cukup."
Shanum tidak bisa lagi berkata-kata, dia melihat ketulusan dimana pria itu. Harland meraih jemari Shanum dan menggenggam kedua tangannya mesra. Shanum tersipu malu.
"Eemm...!" Keduanya dikagetkan oleh deheman Mommy Sarah, Shanum buru-buru menarik tangannya dari genggaman Harland. Namun Harland tampak biasa-biasa saja.
"Mommy, kok aku nggak denger Mami masuk," tanya Harland.
"Orang lagi pacaran! Mana denger Mommy teriak- teriak dari tadi," sahut Mommy Sarah.
"Bisa aja, Mommy !" sela Harland tersenyum lepas.
__ADS_1