
"Maafkan Ayah, Nak!" Devan meraih jemari mungil yang tergolek lemah di brankar rumah sakit, sambil mengecupnya berkali-kali.
"Ayah tahu, Flo anak yang kuat, Flo akan kembali sehat seperti semula," ucap Devan membelai rambut Flo dengan lembut. Si kecil Flower membuka matanya, dia tampak ketakutan melihat Devan dan berteriak sambil menangis.
"Daddy...!" Harland dan Shanum tersentak mendengar suara Putrinya. Keduanya buru-buru masuk.
"Flo," Harland mendekat dan menenangkan putri kecilnya itu.
"Daddy, aku takut!" gadis kecil itu memeluk Harland erat, sambil menyembunyikan wajahnya dari pandangan Devan.
"Maaf Devan, sebaiknya kamu keluar dulu, Flo tidak terbiasa dengan kehadiran orang yang belum dikenalnya dengan baik," ucap Harland.
Devan mengangguk, namun dadanya bergemuruh dengan hebat, putri kecil itu, menolak kehadirannya. Dengan berat hati, Devan melangkah keluar ruangan itu.
"Devan, Flo mungkin belum bisa menerima kehadiranmu sekarang, kamu bisa mendekatinya secara perlahan," nasehat mommy Sarah.
"Ya, Bu Sarah!" jawab Devan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya
"Dia juga belum mengerti, kalaupun kamu bilang kamu ayahnya," kata Mommy Sarah lagi.
Devan menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku yang ada di ruang tunggu. Penyesalan begitu membebani jiwa dan raganya saat ini. Menyesal telah menyia-nyiakan Shanum, menyesal dengan kebodohannya yang begitu mudah dipengaruhi ibunya.
Seandainya waktu bisa di putar kembali, Devan akan menjaga Shanum dengan baik, hidup bersama dengan anak-anak yang menggemaskan, di rumah kecil Shanum yang ada di desa. Jauh dari kebisingan ibu kota, dan jauh dari kehidupan yang penuh kepalsuan dan tipu daya.
Namun semua hanya tinggal angan-angan yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Harland sudah keluar dari ruangan Flo, saat anak itu kembali tertidur. Pria itu duduk di samping Devan, dan menepuk pundak ayah Flo itu lemah.
"Flo sudah tidur, kamu masih ingin melihatnya?" tanya Harland.
Devan menggeleng, "Nanti saja, Harland, kalau Flo sudah sembuh,"
"Kamu boleh menemuinya kapan saja," kata Harland.
"Terimakasih, Harland! Kamu memang pantas hidup bersama Shanum, karena Shanum adalah wanita yang lembut, dan pengertian,"
Ucap Devan tulus.
"Kamu juga orang baik, Devan! semoga kamu juga segera mendapatkan wanita yang baik, sebagai ibu sambungnya Darren," ucap Harland tersenyum.
Darren, Devan teringat putranya yang di tinggal bersama ibunya di rumah.
"Harland, kalau begitu permisi dulu, sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengan Darren, karena kesibukanku, aku memang ayah yang tidak baik," kata Devan menyalahkan dirinya sendiri.
Devan bergegas melangkah masuk ke dalam rumah yang sekarang sepi. Si kecil Darren berlarian melihat kedatangan ayahnya.
"Ayah!" seru Darren memeluk Devan erat.
"Apa kabar, sayang?" Devan menciumi wajah chubby putra kecilnya itu.
__ADS_1
"Ayah kemana saja?" tanya Darren dengan suara imutnya.
"Ayah pergi bekerja, nak! Waktu ayah berangkat, Darren belum bangun, waktu ayah pulang, Darren sudah tidur, jadi ayah susah main sama Darren," jawab Devan tersenyum, putra kecilnya itu sudah mulai protes dengan ketidakhadirannya di rumah.
"Tumben kamu cepat pulang, Van!" Mama Sonia datang dari arah dapur, sambil membawa minuman untuk Darren.
"Ya ma, aku habis dari rumah sakit,"
"Siapa yang sakit?" tanya Mama Sonia penasaran.
"Flo,ma,"
"Flo? putrinya Harland dan Monica?"
"Flo putriku,Ma?" jawab Devan lesu.
"Apa??" Mama Sonia tampak kaget.
"Ya, dia putriku dan Shanum, putri yang dulu di tinggal Shanum di rumah sakit, karena dia mengalami depresi setelah melahirkan.
"Memangnya, Flo sakit apa?"
"Flo mengalami penyakit jantung bawaan, Ma! Dia harus bolak-balik ke rumah sakit, untuk mengontrol kesehatannya, semua terjadi karena kita Ma!" sesal Devan.
"Mama juga menyesal, Van! Maafkan Mama!" Sonia tampak murung. "Tapi, mama juga bersyukur, anak-anak berada di tangan yang tepat,"
"Ayah, Flo itu siapa?" si kecil Darren yang dari tadi mendengar pembicaraan ayah dan neneknya. Ikut bertanya.
"Dia saudaramu, Darren! Nanti kita akan menengok Flo sama-sama," ucap Darren.
"Janji ya, yah!" Darren mengangkat jari kelingkingnya dan mengaitkannya ke jari Devan.
"Ayah janji!" Ucap Devan tersenyum sumringah.
Sementara itu di suatu tempat di luar kota, Vania tampak panik, mendengar berita kecelakaan Monica dari temannya. Buru-buru Vania mencari keberadaan sahabatnya itu di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan teman saya dokter?" tanya Vania khawatir.
"Nyonya Monica sedang berada di ruangan ICU, nona!' jawab seorang dokter yang bertugas malam itu.
"Apa yang terjadi, Dok? Apakah lukanya parah?"
"Ya, dia mengalami benturan keras di kepalanya, sekarang dia masih belum sadarkan diri." kata dokter lagi.
Vania terhenyak, duduk di bangku ruang tunggu tempat Monica dirawat. Walaupun Vania dan Monica sering ribut, namun persahabatan mereka tetap berjalan.
"Kenapa sih, Lo harus mengalami kecelakaan segala Monica?" gerutu Vania sendiri. "Mana gue nggak punya uang lagi, gue harus nelpon siapa? Bandot tua itu atau Harland," Vania bingung sendiri.
"Gue telpon Harland aja deh, siapa tahu dia masih peduli sama Monica, secara Harland itu orangnya nggak tegaan melihat orang susah," kata Vania di dalam hati.
__ADS_1
Harland baru saja sampai di kantornya, saat Vania menghubunginya di telepon selular.
"Ada apa, Vania?" tanya Harland dengan nada yang kurang bersahabat.
"Harland, Monica mengalami kecelakaan, sekarang dia berada di rumah sakit di Surabaya." suara Vania terdengar serak.
"Lalu, apa hubungannya denganku, " sarkas Harland.
"Monica sudah tidak punya siapa-siapa, Land, tolong dia, hanya kamu yang bisa menolong Monica, please!" mohon Vania.
Harland tidak menjawab, dia menarik nafas perlahan. Kemudian, Harland buru-buru keluar dari ruangannya, untuk kembali kerumah.
"Lho, Kak, kok udah pulang?" Shanum menyambut suaminya heran.
"Shanum, baru saja Vania meneleponku, katanya Monica mengalami kecelakaan dan sekarang dia sedang koma di rumah sakit, di Surabaya," kata Harland jujur.
"Kasihan sekali, Monica!" gumam Shanum.
"Vania memintaku untuk datang ke Surabaya, karena tidak ada yang mengurus Monica di sana!"
"Kakak mau pergi?"tanya Shanum.
"Sebenarnya aku malas berurusan lagi dengan Monica, tapi aku tidak bisa menutup mata begitu saja, kalau kamu mengizinkan, aku akan pergi untuk beberapa hari,"
"Pergilah Kak! Nggak apa-apa, kasihan Monica, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi," kata Shanum tulus.
"Bagaimana dengan keadaan Flower?" Harland mencemaskan keadaan putrinya.
"Flo sudah mulai membaik, Kak! Dia sudah bisa tidur dengan nyenyak," jawab Shanum.
"Baiklah, aku akan menengok Monica, setelah urusan di sana selesai, aku akan segera pulang," kata Harland.
"Ya udah, hati-hati Kak!" Shanum mengantar kepergian Harland menuju mobilnya. Pak Tono, supir keluarga Harland, sudah menunggu di atas mobil, untuk mengantar majikannya menuju Bandara.
Mommy Sarah yang baru pulang dari pasar, heran melihat putranya keluar dari rumah dengan terburu-buru.
"Harland kenapa,Num? Kok buru-buru gitu? Tanya Mommy Sarah.
"Monica mengalami kecelakaan di Surabaya, Mom, Kak Alan minta izin untuk berangkat ke sana menengok Monica," jawab Shanum polos.
"Kok dikasih Izin, Shanum? Monica itu ular berwujud manusia!" seru Mommy Sarah kesal.
"Monica sedang koma, Mommy! Aku percaya, Kak Harland tidak akan mudah di tipu oleh Monica," kata Shanum.
"Kita lihat saja, Shanum! Jangan sampai kalian berpisah gara-gara ular itu," kata Mommy Sarah mengingatkan.
"Aku akan mengingatkan Kak Alan nanti," kata Shanum tersenyum tipis.
Bersambung...
__ADS_1