Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
MAMPUKAH UNTUK BERTAHAN


__ADS_3

Setelah pernikahan, Bianca dan Arsen tinggal bersama di rumah keluarga Harland. Tidak ada yang mencurigakan, Arsen seperti biasa menjalani hari-harinya dengan santai. Dia tampak menyayangi Bianca, sebagaimana pasangan suami istri yang lain. Dan Bianca pun berusaha menutupi keadaan dirinya yang tidak baik-baik saja. Mommy Sarah sangat senang melihat kebahagiaan anak-anak dan menantunya. Bianca dia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Mommynya.


"Sayang, aku berangkat duluan ya!" Arsen memberikan sebuah kecupan manis di kening Bianca, sebelum berangkat bekerja. Sekarang Arsen bukan lagi Asisten Harland. Harland menunjuk Arsen menjadi CEO di salah satu perusahaan miliknya.


"Ya, hati-hati Arsen!" ujar Bianca sambil memamerkan senyuman palsunya.


Shanum bisa merasakan bahwa sesuatu yang tidak baik terjadi pada adik iparnya itu. Tapi, Shanum tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga adiknya. Dia hanya menunggu Bianca untuk menceritakan sendiri keadaannya.


"Kak Alan, aku mau bekerja di perusahaan kakak ya! aku suntuk dirumah terus !" keluh Bianca. Pagi itu sebelum Harland berangkat bekerja.


"Tak masalah, Bi, tapi minta izin dulu sama Arsen Ya!" kata Harland.


"Ya kak, nanti aku akan minta izin sama Arsen." jawab Bianca tersenyum getir.


Bianca tidak yakin, Arsen akan mengizinkannya bekerja, karena sekarang Arsen yang dia kenal, bukan lagi Arsen yang dulu. Arsen sangat posesif dan tidak akan mengizinkan Bianca keluar dari penjara cintanya.


Shanum baru saja memandikan si kecil Flo dan mendandaninya dengan rapi.


"Mmh, udah cantik anak Bunda, Flo main sama Aunty Bi dulu ya, Bunda mau keluar sebentar." Shanum menitipkan Flo pada Bianca. Shanum bisa melihat wajah Bianca yang sembab karena sering menangis


"Bi! Kamu ada masalah sayang!" tanya Shanum lembut.


"Tidak kak, ...aku baik-baik saja!" jawab Bianca berbohong.


"Kalau kamu punya masalah, katakan pada kakak, biar kakak bisa membantu!" kata Shanum lagi.


"Ya Kak!" jawab Bianca mencoba tersenyum manis.


"Kakak titip Flo sebentar ya! Kakak mau beli peralatan Flo di swalayan,"


"Ya kak!"


Shanum meninggalkan Bianca dengan penuh tanda tanya.


...----------------...


Di sel kantor kepolisian sektor kota, Monica masih tidak terima dengan perlakuan Harland yang mengurungnya disana.


Satu bulan Monica dalam kurungan, seseorang yang misterius membebaskan Monica dari penjara dengan uang jaminan. Dan meminta Monica meninggalkan kota Jakarta, agar Harland tidak mengetahui kebebasannya.


"Siapa sih, yang sudah membebaskan gue, pake nyuruh gue pergi lagi dari Jakarta, trus gue ngapain di luar kota," Monica mengoceh tak karuan, dia akhirnya pergi ke kota Surabaya, karena ada saudara jauhnya yang tinggal disana, untuk sementara waktu, Monica bisa menumpang di rumah saudaranya itu.


Sebuah pesan chat di aplikasi WhatsApp nya, membuat Monica merasa ngeri.

__ADS_1


"Ingat Monica, Kebebasanmu tidak cuma-cuma, ada harga yang harus kau bayar dan aku akan meminta imbalannya setelah waktunya tiba. Kamu tidak akan lepas dari pengawasanku, Monica!"


Monica menarik nafasnya kasar, dia merasa takut. Dia tidak mengetahui manusia seperti apa yang dia hadapi. Dia mencoba menduga-duga.


Monica menghubungi nomor kontak Hary, namun pria benalu itu tidak mengangkat panggilannya.


"Dasar Parasit!" omel Monica.


Setelah Monica sampai di Surabaya, orang misterius itu menghubunginya lagi, namun dengan nomor yang berbeda.


"Monica, setelah sampai di Surabaya, Kirimkan nomor rekeningmu padaku, aku akan mengirim mu uang, selama berada disana,"


Monica menurut, dia melakukannya, karena dia memang tidak punya uang lagi, begitu keluar dari penjara. Bagi Monica, tak masalah Selagi dia masih memegang uang. Perkara siapa yang mengirim, ia akan memikirkannya nanti.


Arsen baru saja kembali dari luar kota untuk mengurus bisnis barunya.


Dia menemui Bianca di kamar, wanita itu masih tampak murung.


"Sayang, kamu sudah makan,?" tanya Arsen lembut. Bianca hanya menoleh sesaat dan kemudian menatap kosong kearah jendela kamar.


"Belum!" jawab Bianca singkat.


"Kalau begitu, aku akan membawakan makananmu ke kamar, oke!" Arsen menatap Bianca untuk meminta persetujuan.


"Ayolah, nanti kamu sakit sayang, aku tidak mau kamu sakit," Arsen menyentuh wajah Bianca dan menciumnya lembut. Bianca hanya diam.


"Aku tidak mau kamu tidak punya tenaga menghadapi ku nanti, karena malam ini, kita akan bercinta lagi," bisik Arsen menyeringai, membuat Bianca tergidik ngeri.


"Menurut Lah, sayang! Atau aku akan bersikap kasar padamu," ancam Arsen. Bianca menelan Salivanya kasar.


Dengan terpaksa, Bianca melangkah keluar kamar, seluruh anggota keluarganya telah berada di meja makan.


"Malam Mommy! Kak Alan! Kak Shanum!" sapa Arsen ramah


"Malam Arsen! duduklah! Ayo Bi ambilin Arsen makan!" titah Mommy Sarah.


"Ya Mom!" Bianca tersenyum samar, dia mengambilkan Arsen nasi dan sepotong ayam goreng.


"Cukup sayang!" Arsen mengambil makanannya dari tangan Bianca.


"Makasih sayang!" Arsen tersenyum manis.


Begitu selesai makan, Arsen mulai bicara di depan keluarga Bianca.

__ADS_1


"Mommy! Aku minta izin, mau mengajak Monica tinggal di rumah baru kami, kebetulan aku mempunyai tabungan dan membeli sebuah rumah di pinggir kota, walaupun tidak besar, tapi cukup untuk kami berdua." papar Arsen. Bianca tampak kaget, dia tidak menyangka Arsen akan secepat itu membawanya keluar dari rumah Mommynya.


"Mommy sih nggak masalah,Arsen! Bagaimana dengan Bianca?" tanya Mommy.


"Bianca menolak Mommy, dia masih belum bisa jauh dari Mommy dan Kak Alan, karena itu dari kemaren dia marah padaku," ujar Arsen seolah memojokkan Bianca di depan Mommy Sarah dan Harland..


"Bi, sudah seharusnya seorang istri itu, mengikuti kemana pun suaminya pergi, kamu sudah dewasa, Bi ! Kamu harus bisa mengurus rumah tanggamu sendiri," ujar Harland menyetujui permintaan Arsen.


"Aku akan memikirkannya Kak?" jawab Bianca lirih. Arsen tersenyum penuh kemenangan.


...----------------...


Sementara itu, di rumah kediaman keluarga Mahendra. Tuan Adam mengalami serangan jantung saat perusahaannya mengalami kebangkrutan. Satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan perusahaannya adalah Harland, namun Harland menolak memberikan bantuan.


Akhirnya, Devan datang menemui Harland sendirian, di kantornya.


"Devan, ternyata anda punya nyali juga menemuiku disini!" ucap Harland meremehkan Devan.


"Apapun akan ku lakukan untuk menyelamatkan perusahaan keluargaku, Harland, tolong kami, banyak keluarga yang bergantung hidup pada perusahaan kami, Harland," mohon Devan.


"Baiklah, tapi ada syaratnya Devan!" ucap Harland kemudian .


"Apa syaratnya, jika aku bisa aku akan memenuhinya." Devan tampak bercahaya.


"Berikan hak asuh Jasmine dan si kembar pada Shanum! Karena istriku menginginkan putri-putrinya." pinta Harland. Devan tampak terkejut, dia tidak menyangka, Harland akan meminta anak-anaknya. Devan menarik nafas panjang, Dia sangat menyayangi anak-anaknya, Jika Shanum meminta mereka, Devan akan kesepian.


"Apakah tidak ada syarat yang lain, Tuan Harland? Aku menyayangi anak-anakku, aku tidak bisa jauh dari mereka!" ujar Devan kecewa.


"Jika aku tidak membantumu, dengan apa kau akan menghidupi keluargamu, Devan, apalagi Ayahmu membutuhkan uang yang banyak untuk pengobatannya, pikirkanlah, aku akan memberimu waktu sampai besok untuk berpikir!" ucap Harland santai. Harland benar, jika perusahaannya bangkrut, Devan akan kehilangan mata pencahariannya. Otomatis, keluarganya akan menderita.


"Baiklah! Tapi izinkan aku menengok mereka setiap Minggu!" pinta Devan.


"Kalau itu, tergantung kebaikan hati istriku!" jawab Harland tersenyum penuh kemenangan.


Devan berjalan dengan gontai memasuki rumah Mamanya.


"Bagaimana Devan? Apakah Harland setuju membantu kita?" tanya Mama Sonia penuh harap.


"Iya ma, tapi Harland meminta hak asuh anak-anak untuk Shanum," jawab Devan lemah.


"Ya sudah, berikan saja anak-anakmu pada ibu mereka, jadi kita tidak perlu pusing lagi memikirkan biaya pendidikan anak-anakmu!" ucap Mama Sonia egois.


Devan hanya diam, tidak menanggapi ucapan maminya. Devan naik kelantai atas rumahnya, menemui Jasmine dan si kembar di kamarnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2