Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
BIANCA HARLAND MYERS


__ADS_3

"Kak, aku pulang besok ya, jemput aku ke Bandara!" ujar Shanum saat menghubungi Harland lewat Video Call.


"Kakak sibuk Bianca, biar Arsen yang jemput!" kata Harland sambil meneruskan pekerjaannya.


"Nggak mau, aku mau kakak yang jemput sama kak Shanum dan Flo juga!" rengek Bianca manja.


"Tidak bisa Bianca, Kakak harus menyelesaikan pekerjaan ini, sebelum pernikahan, pokoknya Arsen yang jemput, kalau nggak mau, naik taksi saja sendiri!" Harland menutup teleponnya sepihak.


"Ih, kak Alan, jahat banget sih!" gerutu Bianca.


"Ngapain lagi, si culun itu yang jemput, liat mukanya aja males gue!" omel Bianca." Bos dan asisten sama saja, nyebelin."


Bianca mengenal Arsen, sejak dia masih duduk di bangku SMA. Arsen adalah teman sekelas Bianca, seorang siswa yang pintar dan selalu menjadi juara umum disekolahnya.


Penampilannya yang cupu dan berkaca mata, membuat Bianca tidak ingin terlalu dekat dengannya. Entah kenapa, Arsen bisa bekerja di perusahaan kakaknya, Harland. Dan dipercaya Harland menjadi asistennya.


Bianca sudah packing semua barang-barangnya untuk dibawa pulang. Tidak lupa dia membelikan hadiah untuk Shanum dan Flower.


Bianca merebahkan tubuh kecilnya perlahan, diranjang kecilnya yang nyaman. Ingatannya menerawang, ke masa SMA nya, 4 tahun yang lalu. Di mana, Bianca terang-terangan menyatakan rasa tidak sukanya, pada Arsen.


Saat cowok itu, diam-diam menyatakan cintanya pada Bianca, melalui selembar surat.


Bianca menemui cowok itu di kelasnya, bersama anggota gengnya, Leona, Freya dan Alea.


"Heh...Arsen, denger ya! sampai matipun gue nggak bakalan jatuh cinta sama Lo, jadi jangan mimpi mau jadi pacar gue, sekalipun Lo cowok terakhir yang ada di muka bumi," seru Bianca kasar.


"Iya nih anak, kok nggak tahu malu banget ya!" cela Leona.


"lagian, Lo itu nggak selevel sama Bianca, Arsen! ngaca dong!" seru Alea.


Arsen hanya memandang Bianca dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Walau Bianca menolaknya, Arsen bertekad untuk menjadikan Bianca kekasihnya.


Begitu tamat sekolah menengah, Bianca kuliah di Amerika dan Arsen, melamar pekerjaan di perusahaan Harland, sebagai office boy. Karena kejeniusannya, Harland membiayai kuliah Arsen di sebuah Universitas ternama di Jakarta. Arsen berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam jangka waktu 3 tahun. Kemudian mulai bekerja di perusahaan Harland beberapa bulan yang lalu.


Bianca bertemu kembali dengan Arsen, saat pulang liburan musim panas, di perusahaan ini kakaknya Harland. Tapi mereka hanya saling diam.


"Baiklah, dijemput si culun juga nggak pa pa, biar gue bisa ngerjain dia !" Bianca tersenyum smirk.


...----------------...

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan panjang dari Amerika ke Jakarta, Bianca mendarat di Bandara Soekarno Hatta dengan selamat. Bianca tidak langsung keluar dari Bandara, dia terlebih dahulu, mampir di sebuah restoran dan makan disana.


"Biarin aja, si cupu itu nungguin, siapa suruh dia yang jemput," gerutu Bianca, duduk dengan santai di restoran Bandara.


Arsen, memandangi Bianca dari kejauhan, dia tahu, Bianca pasti sedang mengerjainya, dengan berlama-lama di dalam restoran.


Perlahan Arsen mendekat, dan duduk di hadapan Bianca.


"Maaf, Nona! apakah bangku ini kosong?Apa saya boleh duduk disini?" tanya Arsen.


Bianca sekilas menoleh kearah Arsen, namun dia tidak mengenali pria dihadapannya itu.


"Oh ya, silahkan..!" Bianca memandang sekeliling restoran dan semuanya terisi penuh.


"Sendirian, Nona?"


"Ya..." jawab Bianca sedikit angkuh.


Arsen masih menatap Bianca yang santai menikmati hidangan yang ada didepannya. Arsen menunggu hingga, gadis manis itu selesai makan.


Bianca menatap heran pria didepannya, dia tidak memesan apa-apa, hanya memandang Bianca dengan senyum manisnya.


"Masih sama kayak dulu," gumam Arsen.


"Apanya yang masih sama?"Bianca mendelik.


"Juteknya!" jawab Arsen.


"Lo kenal gue?" Bianca menatap pria didepannya itu dengan horor.


Pria itu tersenyum geli, Bianca benar-benar tidak mengenali Arsen dengan penampilan barunya. Arsen yang dulu berambut gondrong dengan mempunyai belahan ditengahnya, tersisir rapi dengan memakai Pomade. Tak lupa kaca mata kuda, yang selalu bertengger di hidungnya. Sekarang, Arsen tampak fresh dengan rambut pendek tanpa kaca mata. Hidungnya yang mancung dan rahang yang terlihat tegas, menambah nilai ketampanannya.


"Sudah selesai makannya, nona? waktu anda tinggal 5 menit!" ujar Arsen.


"Siapa Lo, ngatur-ngatur gue!" Bianca menyolot kesal.


"Apa perlu kita kenalan lagi, yang jelas aku disuruh Kak Harland menjemput adiknya yang manja ini!' ucap Arsen.


"Kamu...!" Bianca membulatkan matanya, tak percaya kalau pria yang ada dihadapannya adalah Arsen, orang yang ingin dia hindari.

__ADS_1


"Ayolah, terpesonanya nanti saja, kita pulang sekarang. Sebentar lagi jalanan macet, kalau aku telat, Kak Harland bakal marah, karena dia sudah menunggu nona, dari tadi," kata Arsen percaya diri.


Bianca tidak dapat berkata-kata lagi, dia melihat sosok Arsen yang berbeda dari sebelumnya. Pria itu sangat tampan sekarang. Dan juga punya kepercayaan diri yang tinggi. Bianca hanya menurut saat Arsen menariknya keluar Restoran dan membawanya ke parkiran.


Tidak ada yang bicara di dalam mobil, mereka larut dalam pikiran masing-masing.


"Kenapa Arsen bisa berubah drastis begitu sekarang, tampan sih...uang memang bisa merubah segalanya," batin Bianca.


"Kamu tidak banyak berubah, Bianca! Masih sama kayak dulu, jutek, sombong...tapi aku berjanji akan membuatmu bertekuk lutut didepanku, kamu yang akan memohon cinta dariku," batin Arsen dengan senyum tipisnya.


"Jangan terlalu percaya diri dulu, Arsen! walaupun kamu berubah menjadi pangeran pun, gue nggak bakalan jatuh cinta sama Lo!" gumam Bianca dalam hati.


"Kita lihat saja nanti, Bianca!"


"Kita lihat saja nanti, Arsen!"


Setelah terlibat perang batin, antara keduanya di sepanjang jalan pulang dari Bandara ke Jakarta, mereka sampai di kediaman keluarga Harland, yang mewah dan asri.


...----------------...


Begitu sampai di rumah keluarga Harland, Bianca langsung berlari kearah kamar Mommy Sarah. Bianca berteriak mencari Mommynya di kamar, wanita baya itu baru saja selesai mandi.


"Mommy, kenapa sih nggak nyuruh kak Harland saja yang jemput Bianca....males tahu dijemput Arsen!" gerutu Bianca, saat bertemu Mommy Sarah di kamar.


"Nih anak, bukannya berterimakasih sama Arsen, malah ngomel-ngomel nggak jelas. Kan kakakmu sudah bilang, kalau dia sibuk," jelas Mommy Sarah.


"Habis, apa susahnya sih, jemput sebentar, aku kan nggak suka sama Arsen," Bianca merebahkan tubuhnya di ranjang empuk milik Sang Mommy.


"Hati-hati lho, nanti jatuh cinta sama Arsen, nanti kalau ditolak, jangan nangis," ujar Mommy Sarah.


"Ih, amit-amit Mommy, nggak bakalan....lagi pula Arsen nggak selevel dengan keluarga kita Mommy."


"Bianca....!" Mommy Sarah memandang putrinya tajam. "Mommy tidak pernah mengajari kalian untuk membeda-bedakan orang lain. Miskin atau kaya, semua sama di mata Tuhan. Bagi Mommy, siapa pun yang menjadi pasangan kalian, yang penting mempunyai tanggungjawab, rajin beribadah dan nggak macam-macam." tegur Mommy Sarah.


"Ya Mom, sorry...!" Bianca diam tak lagi bicara, gadis itu menundukkan wajahnya.


Bianca tahu dia salah, hanya karena egonya dia bicara seperti itu. Bianca tahu, Mommynya adalah orang yang baik, dermawan dan senang membantu sesama. Mommy Sarah memiliki banyak teman, bukan hanya di lingkungan sosialitanya, bahkan dengan masyarakat di sekelilingnya pun, Mommy Sarah terkenal ramah.


"Istirahat dulu, Bianca! Nanti malam kita makan bersama diluar," kata Mommy Sarah.

__ADS_1


Bianca mengangguk.


__ADS_2