Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
KEKECEWAAN NYONYA SONIA


__ADS_3

Nyonya Sonia dan beberapa asisten rumah tangganya telah selesai menyiapkan jamuan makan malam, Vania dan kedua orangtuanya telah tiba dirumah itu dengan membawa berbagai macam hantaran.


"Selamat malam Tante Sonia...!" Vania tampak ceria, memeluk wanita baya yang akan menjadi calon mertuanya itu.


"Malam, Vania sayang ! Mmmh,...kamu makin cantik saja!" Nyonya Sonia cipika-cipiki dengan keluarga calon menantu idamannya.


"Makasih Tante...! oh ya, Devan mana,Tan?" tanya Vania, mencari sosok yang ingin dia temui sedari tadi.


"Devan sedang ada pertemuan dengan seorang rekan bisnisnya, katanya sedang membicarakan rencana untuk membangun resort di Bali," jawab nyonya Sonia, merasa tidak enak.


"Tapi Devan akan pulang kan, Tan!" tanya Vania tampak kecewa.


"Katanya sih, dia akan mengusahakan pulang secepatnya, jika pertemuan itu selesai,"


"Tadi aku bertemu Devan di Mall, Tante, dia membeli cincin pernikahan couple dan itu limited edition, kupikir dia akan memberiku kejutan malam ini,"adu Vania.


" O ya, lalu dia bilang apa?" tanya Mama Sonia penasaran.


"Tidak ada, katanya dia buru-buru, cincin itu untuk hadiah pernikahan temannya. Tapi nggak mungkin kan, Tante! harga cincin itu sangat mahal,"terang Vania.


Nyonya Sonia berpikir sejenak. Untuk siapa Devan membeli cincin couple yang limited edition, dan tentunya harganya sangat mahal.


"Kita tunggu saja ya ! mungkin Devan memang sedang menyiapkan kejutan untukmu!" hibur Nyonya Sonia.


Vania hanya diam, dengan wajah cemberut.


"Vania sayang,...Tante pastikan, Devan akan menjadi milik Kamu,...!"


" Janji ya, Tan ...!" Vania tampak sumringah. Nyonya Sonia mengangguk pasti.


Nyonya Sonia memang tidak merestui hubungan Devan dengan perempuan lain, selain Vania. Bahkan wanita itu terang-terangan meminta kekasih-kekasih Devan untuk menjauhi putranya dengan cara mengancam akan menjatuhkan bisnis orang tua mereka, jika mereka masih saja berhubungan dengan Devan tanpa sepengetahuannya.


"Saya minta maaf, Mas Ronald....! Mbak Riska..


! Devan tidak bisa hadir, Saya tidak tahu kalau hari ini dia ada pertemuan bisnis dengan relasinya, Nyonya Sonia merasa tidak enak hati, karena berkali-kali Devan mengelak, untuk membicarakan pernikahan dengan keluarga Vania.


"Tidak apa-apa, Jeng...! kami justru senang kalau Devan adalah seorang pekerja keras, kalau nanti Devan sukses, Vania pasti juga akan menikmatinya," Sahut Nyonya Riska, mamanya Vania


Kedua keluarga itu akhirnya menikmati makan malam, tanpa kehadiran Devan.


Nyonya Sonia sudah berulangkali menghubungi ponsel Devan, tapi putra semata wayangnya itu, mematikan ponselnya.


"Dasar, anak itu benar-benar membuat mama kesal!" gerutu Nyonya Sonia, saat Devan tak kunjung menyalakan ponselnya.

__ADS_1


"Sudahlah Ma, mungkin dia sedang tidak ingin diganggu, soalnya pertemuan itu penting untuknya," sahut Tuan Adam Mahendra menenangkan istrinya.


"Ini sudah kesekian kalinya Devan menolak pertemuan dengan keluarga Vania, Pa...! mama kan jadi malu sama Tuan Ronald dan Nyonya Riska," ketus Nyonya Sonia.


"Mama juga yang salah, sudah tahu Devan tidak mau menikah dengan Vania, mama tetap maksa, jadinya kan kita yang malu!" sela Tuan Adam.


"Jadi, Papa menyalahkan Mama, gitu!" Nyonya Sonia mulai merajuk.


"Sudahlah, Papa tidak mau ribut...papa mau istirahat dulu," Tuan Adam meninggalkan istrinya sendirian diruang tamu.


Sementara itu, ditempat lain, Devan baru saja selesai berbelanja keperluannya dan Shanum disebuah Supermarket. Dengan kecepatan penuh, dia mengendarai mobilnya menuju kota Bandung. Untuk segera kembali kepelukan istrinya.


Shanum baru saja selesai menyantap makan malamnya. Sepotong roti dan segelas susu menjadi pilihannya. karena dia terbiasa mengkonsumsi makanan yang tidak terlalu berat dimalam hari.


Setelah selesai makan, Shanum duduk didepan televisi, menonton serial televisi yang menjadi favoritnya belakangan ini.


Shanum mencoba menghubungi Devan lagi, tapi ponsel Devan masih tidak aktif atau berada diluar jangkauan.


"Kok telpon kak Devan nggak aktif, sih !" Shanum merasa khawatir. Masalahnya, suaminya itu belum menghubunginya lagi sejak tadi siang.


Akhirnya, Shanum tertidur pulas diatas sofa.


Diantara sadar dan tidak, Shanum merasakan sentuhan lembut diwajahnya. Sebuah ciuman terasa begitu manis dibibirnya yang ranum.


Shanum ingin membuka matanya, namun rasanya terlalu berat untuk dibuka. Shanum menggeliat, sentuhan itu semakin lama semakin membuatnya bergairah.


"Kak ... Ahh !" Shanum mende**h manja. Harum aroma tubuh Devan begitu menggoda indra penciumannya. Dia hafal wangi itu, Shanum memaksa untuk membuka mata. Tubuh bagian atasnya sudah setengah terbuka. Devan menyembunyikan wajahnya disana. Menggigit dan menghisap dengan rakus. Senyuman manis mengembang diwajahnya.


"Kak,....katanya 2 hari di Jakarta, kok sekarang sudah ada disini?" Shanum bangkit dari tidurnya. menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, saat Devan menghentikan aksinya.


"Aku merindukan istriku yang cantik ini ...!"Devan memeluk tubuh istrinya dengan posesif.


"Aku juga merindukanmu, kak!" Shanum melingkarkan kedua tangannya dileher sang suami.


Berinisiatif untuk mencium bibir Devan dengan lembut. Keduanya saling memagut dan bertukar Saliva. Tak ada lagi yang bicara, hanya suara de***an dan jerit manja Shanum, setiap kali Devan melakukan penyatuan raga. Menaburkan benih-benih cinta di rahim sang istri tercinta. Berharap agar benih itu tumbuh dan berkembang menjadi seorang pewaris tahta keluarga Mahendra seterusnya.


Shanum tidak ingat lagi, berapa kali suaminya itu menggempurnya sejak semalam, yang pasti pagi nya, Shanum sulit untuk berjalan. Devan memang sangat perkasa diatas ranjang, untungnya Shanum sanggup mengimbanginya. Walaupun hal itu pengalaman baru baginya.


"Kak...kakak tidak ke kantor hari ini?" Shanum membangunkan Devan yang masih terlelap. Pria itu menggeliat sesaat, tapi kemudian tidur kembali.


"Kak...bangun, sudah siang!" Shanum menekan hidung mancung Devan dengan kedua jarinya.


"Nanti saja, sayang ! aku masih ngantuk!" racau Devan dalam keadaan setengah sadar.

__ADS_1


Shanum akhirnya, membiarkan suaminya itu tidur. Dengan langkah tertatih-tatih, Shanum melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mandi.


Beberapa menit kemudian, Shanum sudah berpakaian rapi dan menyiapkan makanan diatas meja makan.


"Tok...! Tok...! Tok ...!"


Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Shanum segera membuka pintu rumahnya itu.


"Daniel...silahkan masuk dulu! Kak Devan masih tidur," sahut Shanum, sambil mempersilahkan Daniel masuk.


"Makasih, Buk bos..!" ujar Daniel tersenyum, dan masuk kedalam rumah berukuran minimalis itu.


Rumah yang hanya seukuran kamar Devan, Daniel tidak habis pikir, kenapa sang bos, mau tinggal di kampung itu.


"Kamu sudah makan, Daniel? kalau belum, makan dulu sana, dimeja ada banyak makanan!" titah Shanum.


"Nanti saja buk bos....! nungguin bos Devan saja, nggak enak, masa dirumah orang tamunya makan duluan!" ujar Daniel terkekeh


"Yah, disini mah, nggak apa-apa atuh, Niel, anggap saja rumah sendiri!" ujar Shanum ramah.


"Yang ada nanti saya dipecat buk bos!" ucap Daniel.


"Ada yang penting, mau disampaikan ya...? sebentar aku bangunin sekali lagi!"


"Nggak kok, buk bos... memangnya semalam Bos Devan pulang jam berapa?" tanya Daniel.


"Kira-kira jam sepuluh," jawab Shanum.


"Ada apa sih, Daniel ? pagi-pagi udah bertamu kerumah orang!" timpal Devan keluar dari kamar sambil bertelanjang dada dan memakai handuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Sekujur tubuh Devan dipenuhi bekas gigitan dan cakaran. Membuat jiwa jomblo Daniel meronta-ronta.


"Pake baju dulu, kenapa sih bos! bos sengaja ya manas-manasin saya !" seloroh Daniel.


"Iya kak, mandi dulu sana, ini sudah siang kak, sudah hampir jam sebelas!" timpal Shanum.


"Aku mandinya lama, sayang...! nanti Daniel malah kelamaan menunggu," ujar Devan.


"Nggak apa-apa bos, dari pada aku ngeliatin jejak percintaan bos tadi malam, jiwa jomblo ku meronta-ronta," kelakar Daniel.


Devan memandang tubuhnya, astaga... dia lupa kalau ditubuhnya banyak terdapat tanda kepemilikan dari Shanum. Pria itu segera berlalu dari hadapan Danie, menuju ke kamar mandi. Shanum tersenyum malu, saat Daniel memandang kearahnya, dengan senyum menggoda.


Dalam hati Daniel berkata,"Ternyata buk bos, ganas juga!"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2