Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
MERINDUKANMU


__ADS_3

Jarum jam di dinding kamar rumah sakit, seolah berjalan begitu lambat. Detik demi detik terasa begitu panjang dan melelahkan.


Bianca duduk dengan nanar memandang keluar jendela rumah sakit, berharap Arsen kembali datang menjenguk. Dan dia akan menyampaikan berita gembiranya itu pada sang suami, namun di hari kelima Bianca di rumah sakit. Arsen tidak lagi menampakkan batang hidungnya.


"Bi, besok kita sudah bisa pulang, Sayang!" kata Shanum, setelah kembali dari ruang dokter untuk berkonsultasi tentang penyakit Bianca.


"Ya, kak!" jawab Bianca singkat.


Setelah berkemas, Shanum mengajak Bianca untuk kembali kerumah Mommy Sarah, namun Bianca menolak, dan bersikeras untuk kembali kerumahnya.


Dengan langkah yang masih lemah, Bianca menapaki satu demi satu, tangga ke lantai atas menuju kamar tidurnya. Rumah itu sepi, Arsen telah benar-benar pergi. Bianca duduk disisi ranjang, matanya berkeliling menyapu semua ruangan. Manik biru itu berhenti pada sehelai kertas yang ada di atas nakas. Bianca mengambil kertas itu, menyingkirkan begitu saja kartu-kartu yang ada diatasnya. Sebuah tulisan tangan yang dikenal Bianca sebagai tulisan tangan Arsen, bersih dan rapi.


Untuk istriku Bianca


Disaat kamu membaca surat ini, aku mungkin telah menjauh dari hidupmu, Bi. Maafkan aku, aku harus pergi meninggalkan mu, bukan karena aku tidak mencintaimu, tapi aku takut, kamu akan tersiksa dengan pernikahan kita.


Maafkan, karena aku telah menyakitimu, telah membuat hidupmu menderita. Namun jauh di lubuk hatiku, aku menyesal karena tidak mampu membahagiakan mu,


Aku meninggalkan semua kartu-kartu ini, karena semuanya adalah milikmu, Bianca.


Aku akan mencoba hidup tanpa bayang-bayang keluarga Harland Myers. Terimakasih telah mau menerima kekurangan ku, Bianca. Sampaikan salam dan maafku pada Kak Shanum, Kak Harland dan juga Mommy Sarah. Aku mencintaimu, Bianca.


Arsen


Bianca menarik kertas itu ke dadanya, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang masih memucat. "Kenapa kau harus pergi Arsen, disaat aku mulai memahami mu, Aku merindukanmu!" desis Bianca.


"Bianca!" panggil Shanum, Wanita itu duduk disamping Bianca dan memeluk adik iparnya itu erat.


"Bianca, kita pulang ya! Kakak tidak bisa meninggalkan kamu sendirian dirumah ini, lagi pula kakak juga tidak bisa setiap hari menemanimu, kita akan sama-sama menghadapi ujian ini, Kakak tidak akan membiarkanmu terluka lagi,"


Bianca hanya mengangguk. Kemudian membereskan beberapa barangnya. Untuk dibawa kembali kerumah Mommy Sarah.


Sementara itu, di sebuah rumah kecil milik ibunya Arsen, pria itu duduk terpaku disebuah kursi tua, memandang foto-foto dirinya dan Sang ibu saat masih kecil. Rumah itu masih sama seperti dulu, namun dipenuhi debu dan sarang laba-laba yang menggantung di setiap sudut rumahnya.


Bayang-bayang kelam masa kecil, kembali berkelebat di pikirannya, hatinya menjerit.


"Ibu, dimana kau sekarang?" ratap Arsen memegang sebuah foto usang ibu kandungnya.


Masih sehat dalam ingatan Arsen, saat sang ibu berteriak agar Arsen pergi jauh dari rumah, setelah menusuk ayah tirinya berkali-kali dengan pisau dapur. Pria bejat itu berdarah-darah ditangan sang ibu.

__ADS_1


"TIDAK!" teriak Arsen sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. Seolah Arsen masih melihat darah yang berserakan dilantai ruang tengah.


Dia memejamkan matanya sejenak, "Ibu, aku merindukan mu!" rintih Arsen ditengah keterpurukan.


Seorang pria tua datang menghampiri Arsen, karena melihat pintu rumah yang telah lama kosong itu terbuka.


"Siapa kamu nak?" tanya pria tua itu, hati-hati.


Arsen menoleh pada.sumber suara itu.


"Kakek Hasan!" Arsen masih ingat pria tua itu, dia adalah tetangga Arsen, yang tinggal di samping kanan rumahnya.


"Kau Arsen?" tanyanya tak percaya.


"Ya kek, ini aku! Kakek tahu dimana ibuku?" tanya Arsen mendekati pria tua itu dan menyalaminya dengan hormat.


"Kau sudah besar sekarang, nak! Bagaimana kabarmu?" tanya kakek Hasan, tak langsung menjawab pertanyaan Arsen.


"Aku baik-baik saja, Kek! Kakek tahu dimana ibuku?" ulang Arsen.


"Ibumu...!" pria itu meneteskan air matanya iba.


"Kenapa dengan ibu, Kek?" Arsen tak sabaran untuk mengetahuinya.


"Kakek mau mengantarku kesana?" tanya Arsen berharap.


"Baiklah! Kakek harap dia bisa sembuh setelah melihatmu kembali, Arsen!" doa sang kakek.


"Semoga Kek!" Arsen mengaminkan ucapan kakek Hasan.


Kakek Hasan, membawa Arsen, ke sebuah rumah sakit pemerintahan, tempat merawat orang-orang dengan kelainan jiwa. Mata Arsen mengitari setiap sudut halaman rumah sakit, mengira-ngira seperti apa rupa ibunya.


Kakek Hasan bicara pada seorang petugas rumah sakit, kemudian mengajak keduanya ke dalam sebuah bangsal rumah sakit. Wanita itu duduk di tempat tidur dengan sebuah boneka lusuh ditangannya. Mengayun-ayunkan boneka itu, seolah-olah menidurkan anaknya.


Arsen menelan salivanya kasar, perlahan dia mendekat, dan memanggilnya,"Ibu!"


Wanita itu berhenti mengayunkan bonekanya. Menatap tajam ke arah Arsen dan pak Hasan.


"Ibu, ini aku, Arsen!" Arsen memeluk wanita itu erat, dengan berderai air mata pilu.

__ADS_1


"Arsen?"!ulangnya. Arsen mengangguk.


"Aku anakmu, ibu Marissa?" Arsen menangis dipangkuan ibu yang telah melahirkannya. Arsen bisa merasakan tangan wanita itu terangkat perlahan menyentuh pucuk kepala Arsen dengan ragu-ragu.


"Benarkah kau anakku!" tanya wanita itu lirih.


"Iya Bu, aku Arsen anakmu!" Arsen memposisikan duduknya di depan sang ibu, mencoba menatap dalam manik yang berkilat karena air mata.


"Anakku sudah kembali, ....anakku sudah kembali!" seru Marisa melemparkan boneka lusuhnya ke sembarang arah. Wanita itu tertawa terbahak-bahak, tapi kemudian menangis pilu.


"Kamu tidak apa-apa kan, nak? Ibu sudah membunuh pria itu, ibu sudah membunuhnya, dia tidak akan mencabuli mu lagi," racau Marisa dengan wajah penuh amarah.


"Ibu aku sekarang baik-baik saja, ibu harus sehat dan pulang bersamaku ke rumah kita," ucap Arsen sedih.


"Tidak, ini tidak mau kembali ke rumah itu, rumah itu jahat,...rumah itu terkutuk..." jerit Marisa dengan air mata yang masih berderai membasahi wajahnya yang tampak kacau.


"Baiklah,.kita akan pindah dari tempat itu Bu, aku akan mencari rumah yang bisa membuat ibu tenang," ucap Arsen kemudian.


Wanita itu hanya memandang kosong keluar jendela. Arsen menautkan jemarinya, menggenggam erat kedua tangan lemah itu.


Seorang perawat masuk membawakan makanan dan obat-obatan untuk Marisa, namun dia menampiknya.


"Aku tidak butuh obat lagi suster, anakku sudah kembali...anakku kembali!"


"Syukurlah, Bu Marisa...semoga ibu Marisa bahagia berkumpul lagi dengan putranya," sahut perawat itu ramah.


"Jadi kapan ibu saya bisa pulang, suster?" tanya Arsen.


"Nanti saya akan tanyakan pada dokter yang menangani Bu Marisa, Pak, memang, Bu Marisa hanya menginginkan Bapak kembali, selama ini dia hanya bicara pada boneka lusuh itu!" ungkap suster.


Arsen mengangguk, dia bisa memahami kondisi kejiwaan sang ibu, yang kehilangan dirinya sejak Arsen berusia 8 tahun. Menyerahkan diri pada polisi, tidak membuat Marisa tenang. Dia justru dihantui rasa bersalah, karena harus menikah dengan pria kasar dan pedofil seperti Baron. Yang membuat putranya harus menerima perlakuan tidak senonoh dari ayah tirinya itu.


Tidak sampai 2 tahun di dalam penjara, Marisa di pindahkan ke rumah sakit jiwa karena keadaan mentalnya yang terganggu.


Atas bantuan kakek Hasan, tetangganya, Marisa menjadi penghuni rumah sakit Jiwa hingga beberapa tahun belakangan ini.


Arsen duduk seorang diri, di luar ruangan tempat ibunya di rawat, wanita itu baru saja tertidur setelah dokter menyuntikkan obat penenang.


Tiba-tiba, kepalanya berdenyut kencang, Alter egonya datang lagi. Arsen mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya yang terasa berat.

__ADS_1


"Pak...Pak Arsen!" perawat yang tadi menangani Bu Marisa, melihat keadaan Arsen yang memprihatinkan, dengan cepat dia membawa Arsen ke ruangan yang sama dengan ibunya, dan memberikan suntikan penenang, sebagai pertolongan pertama.


Bersambung....


__ADS_2