
Shanum baru saja menyelesaikan tugasnya membersihkan seluruh ruangan yang ada dirumah itu, tubuhnya terasa lelah dan berkeringat. Merasa tidak enak badan, Shanum membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Rasa perih menyerang ulu hatinya, karena dari pagi perutnya belum diisi apapun.
"Surti, mana anak kampung itu?" tanya Nyonya Sonia, saat tidak melihat Shanum didapur.
"Dia istirahat dikamar nyonya, katanya kurang enak badan," kata Surti.
"Hah, dasar pemalas, kerja sedikit saja langsung sakit," gerutu Nyonya Sonia, tanpa mengetahui apa yang terjadi pada Shanum.
Devan pulang kerumah, karena ada berkas yang tertinggal dikamarnya. Buru-buru dia naik kelantai dua. Tidak ada yang mencurigakan, dia mengira Shanum sedang tertidur pulas diranjang.
"Shanum...! kamu melihat map yang berwarna biru diatas meja, aku menaruhnya disini semalam," tanya Devan. Namun tidak ada jawaban dari istrinya.
"Shanum...!sayang ...!" Devan mendekati tubuh istrinya yang tampak lemah tak bergerak.
"Shanum, ....! kenapa begini? Dia pingsan," Devan tampak panik, dia buru-buru mengangkat tubuh Shanum keluar kamar dan membawanya kerumah sakit.
"Apa yang terjadi dengan istri saya dok!" tanya Devan.
"Sepertinya istri anda kelelahan, istri anda sering terlambat makan," terang dokter.
Devan menarik nafas dalam-dalam, dia tidak habis pikir, Shanum bukanlah tipe orang yang mengabaikan rasa laparnya. Tapi kenapa dia sampai menderita nyeri ulu hati.
"Shanum, kenapa kau sampai kelelahan begitu, apa mama memperlakukanmu dengan tidak baik., dia menyuruhmu bekerja !" tanya Devan. Shanum hanya diam.
"Jawab aku sayang! kau tidak boleh menyembunyikan apapun dariku!" ucap Devan kesal.
"Tidak, kak...! Aku hanya melakukan pekerjaan yang ringan saja," lirih Shanum.
"Sampai harus telat makan," geram Devan.
Shanum memejamkan matanya, dia ingin mengadu pada Devan, namun dia tidak mau hubungan Devan dengan orangtuanya akan kembali rusak hanya karena dirinya.
"Kak....Kita tinggal di apartemen saja ya!" kata Shanum.
"Bukankah kita sudah berjanji pada mama, untuk tinggal dirumah, jika ingin mendapat restunya,"jelas Devan.
"Iya, tapi aku..." Shanum tidak melanjutkan ucapannya.
"Katakan! Kamu diapain sama Mama?"desak Devan.
"Tidak ada, kak!" jawab Shanum bimbang.
Jawaban yang diberikan Shanum, tidak membuat Devan puas. Dia segera pulang kerumah dan mencari Mbak Surti.
"Mbak, katakan padaku, apa yang telah mamaku lakukan pada istriku!" Devan memaksa Mbak Surti untuk menjawab.
__ADS_1
"Maaf Tuan, saya tidak berani," jawab Surti gugup.
"Jawab atau kau mau dipecat!" bentak Devan.
"Nyonya, hanya menyuruh Nyonya Shanum untuk membersihkan rumah,nyuci dan gosok, Tuan," jawab Surti merasa takut.
"lalu kerjamu apa saja, Surti!"
"Saya....," Surti menundukkan wajahnya.
"Ada apa Devan, kenapa kamu marah-marah sama Surti?" Nyonya Sonia keluar dari kamarnya, saat mendengar ribut-ribut didapur.
"Mama keterlaluan banget sih, kenapa harus nyuruh Shanum yang bersihkan rumah sebesar ini? dia istriku, Ma, bukan pembantu !" geram Devan.
"Van, nggak ada salahnya kan, seorang istri itu beresin rumah, nggak usah sok manja," ujar Nyonya Sonia, tanpa rasa bersalah.
"Memang nggak salah ma, kalau rumahnya kecil, tapi ini bukan kerjanya Shanum, lagi pula dia sedang hamil sekarang. Mama nggak tahu, kan? Kalau sekarang Shanum dirumah sakit," ungkap Devan kesal.
Nyonya Sonia hanya diam.
"Kalau mama nggak suka Shanum tinggal disini, oke, kita akan pindah," ucap Devan.
"Van, bukan begitu. Baiklah, sekarang kau manjakan saja istrimu itu, " Nyonya Sonia berlalu dari hadapan putranya.
"Dan kamu, Surti...! Kalau kamu memperlakukan Shanum dengan tidak baik, lebih baik kamu keluar dari rumah ini!" ancam Devan, membuat Surti menunduk ketakutan.
Karena Shanum harus beristirahat total, setelah kehamilannya mengalami masalah.
Hingga saat kelahiran anak pertama mereka, 6 bulan kemudian. Shanum mengalami baby blues Syndrom. Seorang putri cantik yang diberi nama Jasmine Agya Mahendra.
"Devan, biar Mama yang merawat putrimu,
sepertinya Shanum mengalami stres, hal tersebut tidak baik untuk perkembangan anakmu!" ujar Nyonya Sonia, saat menjenguk kelahiran bayi Shanum dirumah sakit.
"Apakah, Shanum akan baik-baik saja Ma?" tanya Devan cemas.
"Mungkin setelah beberapa Minggu, .kata dokter istrimu mengalami baby blues Syndrom, dia tidak akan bisa mengurus anaknya," Devan mengangguk, kondisi Shanum memang terlihat tidak baik, setelah melahirkan, dia tampak cemas, dan takut seandainya tidak bisa mengurus anaknya.
"Baiklah, terimakasih karena mama mau mengurus Jasmine, " ucap Devan tulus.
Hampir satu bulan, sejak kelahiran Jasmine, Shanum belum diizinkan nyonya Sonia untuk merawat putrinya. Shanum hanya bisa melihat Jasmine dari kejauhan. Nyonya Sonia, justru menyewa seorang baby sister untuk membantunya merawat bayi Jasmine.
"Ma, izinkan aku merawat Jasmine!" pinta Shanum, saat bayinya itu sakit.
"Kamu itu tidak tahu apa-apa, Shanum. Kamu tidak bisa merawat anak, aku tidak mau cucuku akan seperti kamu," ketus nyonya Sonia.
__ADS_1
"Aku akan mencobanya, Ma....!"
"Tidak, kamu itu tidak punya pendidikan tinggi, Shanum. Tahu apa kamu tentang mengurus dan mendidik anak," sarkas Nyonya Sonia.
"Ma, menjadi seorang ibu, tidak memerlukan ijazah bukan. Aku memang miskin,tapi bukan berarti aku tidak bisa memberikan kasih sayang untuk anakku," sanggah Shanum.
"Tidak....! sekali tidak, tetap tidak, Shanum. Devan sudah mengizinkanku merawat Jasmine, biarkan dia tumbuh dengan baik, agar dia tidak bodoh seperti kamu !" ujar Nyonya Sonia Angkuh.
Shanum hanya bisa menangis dengan perlakuan mertuanya. Apalagi sekarang Devan mulai mempercayai Mamanya.
"Kak, izinkan aku merawat Jasmine!" Shanum memohon pada suaminya.
"Biar saja mama yang ngurus, Sayang. Lagi pula, Mama kan bukan orang lain, Mama sangat menyayangi Jasmine, biarkan saja yang penting Jasmine tumbuh dengan sehat," kata Devan saat malam itu, Shanum memohon kepadanya.
"Tapi Kak, aku juga pingin merasakan menjadi seorang ibu!" kekeh Shanum.
"Sayang, biarkan Jasmine diasuh sama Mama, mungkin dengan begitu, mama akan menerima pernikahan kita. Lagi pula, kita bisa membuatnya lagi kan?" ujar Devan ambigu.
"Lebih baik sekarang, kamu merawat dirimu, Shanum. Lihatlah, kamu kurus sekali. Pergilah ke salon... ke Mall! Biar kamu kelihatan lebih segar," sahut Devan.
Shanum hanya diam, bagaimana mungkin dia pergi ke salon, dia tidak pernah memegang uang tunai sepeserpun, sejak tinggal dirumah keluarga Mahendra.
"Kak, bagaimana mungkin aku pergi ke salon, kakak tidak pernah memberiku uang," protes Shanum.
"Aku menitipkan uang untukmu sama Mama, Shanum!" ujar Devan tak terima ucapan Shanum.
"Oh ya !?...lalu mana? yang menjadi istrimu itu aku kak, bukan Mama!" teriak Shanum kesal.
"Shanum, ....! kenapa sekarang kamu menjadi pembangkang seperti ini, sudahlah....aku males berantem, aku mau kerja!" Devan meninggalkan Shanum sendirian dikamar.
Sejak pertengkaran Shanum dengan Devan, pagi itu, hubungan keduanya mulai tidak harmonis, ditambah hasutan Mama Sonia, membuat Devan semakin tak percaya pada Shanum.
Rasanya, Shanum ingin pergi dari rumah itu, tapi berat jika harus berpisah dengan putrinya Jasmine. Bertahan adalah satu-satunya cara, agar Shanum masih bisa melihat Jasmine, walaupun dia tidak bisa menyentuh putrinya itu.
Saat Jasmine berumur 2 tahun, Shanum kembali Hamil anak ke dua, dan lagi-lagi bayinya perempuan dan kali ini kembar.
Nyonya Sonia kembali mengambil alih untuk mengurus cucu-cucunya, tanpa memberi kesempatan untuk Shanum menjadi seorang ibu.
"Van, mama pengennya, kamu itu mempunyai anak laki-laki. Biar bisa menjadi penerus keluarga Mahendra," pinta Mama Sonia, saat mereka berkumpul di ruang makan.
"Ya ma, nanti aku bilang sama Shanum," kata Devan.
"Kalau dia tidak bisa memberimu anak laki-laki, sebaiknya kau menikah lagi dengan Vania, dia masih setia menunggumu, Van," saran Tuan Adam.
"Akan kupikirkan Pa, aku sekarang jadi kesal sama Shanum, ...dia tidak bisa mengurus dirinya, aku malu membawanya ke pesta teman-temanku," ungkap Devan.
__ADS_1
"Dulu juga mama bilang apa, kamu nya saja yang tidak percaya sama mama !" sahut Nyonya Sonia tersenyum samar.