
Kebahagiaan terpancar dari wajah kedua insan yang baru saja kembali dipertemukan dalam ikatan cinta yang tulus. Marisa tersenyum melihat putra dan menantunya, yang seperti remaja yang baru jatuh cinta.
Marisa sengaja meninggalkan keduanya di rumah dan menyibukkan diri di warung, yang ada di samping rumahnya. Bianca keluar dari kamar dengan langkah yang pelan, karena perutnya yang besar mulai terasa sakit.
"Ibu...ibu!" panggil Bianca, namun mertuanya itu tidak ada dirumah.
"Ada apa, Bianca? Kamu butuh sesuatu?" Arsen keluar mengikuti Bianca.
"Nggak, perutku rasanya mulai mulas, aku pingin tanya ibu, apakah aku akan segera melahirkan!"
"Kalau begitu kita kerumah sakit saja, Bi! Aku akan meminjam mobilnya pak lurah," Arsen keluar dari rumah dan kembali dengan membawa mobil dinas pak lurah yang tinggal tidak jauh dari rumah mereka.
"Bu, Aku dan Bianca akan kerumah sakit, untuk periksa, kalau nanti Bianca harus tinggal, aku akan menjemput Ibu," ujar Arsen, segera melarikan mobil itu menuju rumah sakit.
"Dokter, apakah istriku akan melahirkan sekarang?: tanya Arsen panik.
"Belum, Pak! Ini namanya kontraksi palsu, karena bayi anda bergerak dengan aktif di dalam sana, tapi jika nanti sakitnya sudah menyeluruh dan tidak hilang, barulah Ibu dan bapak Kembali lagi kemari, masih ada waktu sekitar dua Minggu lagi, anda harus banyak bergerak Bu Bianca," jelas dokter bernama Rena.
"Terimakasih dokter!" Bianca tersenyum mengerti. Akhirnya mereka kembali kerumah.
Bianca ingin menyampaikan sesuatu pada Arsen, tapi dia takut Arsen akan tersinggung. Bianca bimbang, dia merasa gelisah sendiri dengan pikirannya.
"Ada apa, Bi! Sepertinya kamu gelisah, ada apa?"
"Arsen, aku ingin membicarakan tentang kelahiran anak kita,"
"Ada apa, Bi? Bicaralah!" Arsen menatap Bianca bingung.
"Bolehkah aku melahirkan di Jakarta, aku ingin berada dekat Mommy," ucap Bianca ragu.
"Kalau kamu melahirkan di Jakarta, aku tidak bisa melihat anakku, Bi," Arsen tampak kecewa dengan permintaan Bianca.
"Kita akan menghadapi Kak Aland bersama-sama, jika itu yang yang kamu takutkan," bujuk Bianca.
Jujur Arsen belum siap untuk bertemu dengan keluarga Bianca. Apalagi dengan Harland. Tak masalah jika Harland membencinya, yang dia takutkan, Bianca akan meninggalkannya, jika sekarang Arsen belum mempunyai pekerjaan tetap.
"Kalau kamu ingin pergi, pergilah! Aku tidak akan menahan kamu,Bi! Tapi aku tidak akan bisa menemanimu disana," lirih Arsen kecewa. Dia masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Arsen, dengar dulu!" Bianca mengikuti Arsen ke kamar dan duduk di sisi ranjang. Bianca merasa bersalah, dia tidak bermaksud untuk menyakiti suaminya.
"Aku minta maaf, jika aku salah, aku tidak mau merepotkan ibumu,"
Bianca bingung, karena Arsen dari tadi diam saja.
"Kamu menyesal hidup bersamaku disini, Bianca?"tanya Arsen menatap Bianca dengan mata yang memerah. Bianca menggeleng.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, Arsen! Aku bahagia, bisa berada di sisimu kembali, aku hanya ingin anak kita mendapatkan pelayanan yang terbaik dikota.
"Aku senantiasa ada di sampingmu, Bianca, aku bisa melakukan apa saja untukmu!" ujar Arsen kemudian.
"Ya, aku minta maaf, tapi apa boleh aku membeli mobil, agar kita bisa kapan saja ke rumah sakit, tanpa harus menyusahkan tetangga." kata Bianca.
Arsen mengangguk, Dia juga sempat berpikir untuk membeli mobil, agar dia bisa mengantar Bianca kemana saja, tapi dia tidak mempunyai uang yang cukup untuk itu.
"Besok, kita akan mencarinya ke Kota!" jawab Arsen. Bianca tersenyum memeluk suaminya erat.
Satu bulan kemudian, Bianca melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan menggemaskan, yang di beri nama Arkan Aditama Myers.
Arsen menatap bayi merah itu dengan sayang, dia tidak percaya jika hari ini dia sudah menjadi seorang ayah. Sebutir air mata jatuh di wajah mungil itu. Arsen mengusapnya lembut.
"Ayah akan menjagamu, sayang! Kamu harus menjadi anak yang kuat dan hebat," bisik Arsen di telinga putranya.
"Arsen,.aku ingin melihatnya!" ucap Bianca yang saja selesai dibersihkan oleh suster setelah melahirkan.
Arsen memberikan bayi mungil itu ketangan Bianca. "Wah, anak Bunda tampan sekali, mirip ayahnya," Bianca tersenyum manis, menciumi wajah imut itu berkali-kali. Arsen mengusap punggung Bianca lembut.
"Masih sakit, Bi?" Tanya Arsen,
"Usah nggak, sakit ku hilang, setelah melihat anak kita sehat dan menggemaskan, aku tidak sabar untuk memperlihatkannya pada Mommy dan kak Shanum," Bianca tampak ceria. Namun Arsen tampak muram.
Bianca menyadarinya. Akhir-akhir ini, Arsen tampak sensitif jika Bianca bicara tentang keluarganya. Dia akan menghindar jika, Bianca melakukan panggilan Video.
"Mungkin besok, Bi! habis kamu ngomongnya mendadak sih, coba kalau kamu kasih tahu sebelum melahirkan, mommy pasti akan menemanimu di sana!" sahut Mommy Sarah.
"Maaf Mi,! jawab Bianca. Bianca menutup panggilannya, setelah Arsen kembali ke ruangan inap Bianca.
"Siapa yang telpon?" tanya Arsen.
"Mommy, mommy akan datang besok, nggak pa-pa kan?" tanya Bianca.
"Nggak apa-apa sih, cuma rumah kita kecil, aku takut jika Mommy tidak nyaman," jawab Arsen datar
"Mommyku tidak akan mempermasalahkan itu Arsen?"
"Kita lihat saja, nanti?" Ucap Arsen sepertinya kurang senang. Bianca hanya menarik nafas panjang, dengan perilaku Arsen yang kembali berubah datar.
Sebenarnya ada hal yang membuat Arsen gelisah, belakangan ini. Dia cemas tidak bisa menghidupi Bianca dan putranya. Karena sampai saat ini, Arsen belum mendapatkan pekerjaan tetap.
Sementara sejak Arsen sakit, hidup mereka di topang oleh Bianca. Penghasilan dari warung ibunya hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Arsen memendam kegelisahannya sendiri.
__ADS_1
Setelah pulih, setelah melahirkan, Bianca kembali ke rumah kecil milik Arsen. Mommy Sarah datang bersama Shanum dan anak-anaknya. Membuat rumah kecil itu penuh.
"Mommy, maaf rumah kami kecil!" kata Arsen merasa rendah diri.
"Tidak masalah, Arsen! Tidak perlu sungkan," ucap Mommy Sarah, tersenyum.
"Mommy, aku kangen!" Bianca memeluk Mommy Sarah erat.
"Mommy juga kangen, sayang! Kamu sehat kan?"
"Iya Mom,"
"Coba lihat cucu tampan Mommy," Mommy Sarah mengendong bayi merah itu dengan penuh kasih sayang.
"Siapa namanya,Bi?" tanya Shanum ikut mengendong bayi mungil itu.
"Arkan Aditama Myers, Kak! Panggil saja Arkan!" jawab Bianca tersenyum.
"Nama yang bagus,"puji Shanum. Bergantian putri-putri Shanum menengok saudara kecil mereka.
"Si kecil Gabriel kok nggak di ajak kak? Tanya Bianca.
"Nggak di izinin sama Kak Aland, takut kalau terjadi apa-apa di jalan," jawab Shanum.
"Oh, tapi nggak pa pa ditinggal?" tanya Bianca lagi.
"Nggak pa pa, Bi, kakak udah nyiapin ASI di kulkas, jadi pengasuhnya tinggal ngasih!" kata Shanum.
"Begitu ya kak?" Bianca menggangguk.
Melihat gelagat Arsen, yang sepertinya kurang senang dengan kehadiran mereka, Mommy Sarah memutuskan kembali hari itu juga. Membuat Bianca dan Ibu Marisa heran,
"Lho Mommy, kok nggak nginap sih, Jakarta Surabaya jauh Mi, Mommy pasti capek di jalan." kata Bianca.
"Iya Bi Sarah, pulangnya besok saja!" kata Bu Marisa.
"Sudahlah, Bi! Rumah kita kecil, mungkin Mommy tidak bisa tidur, dalam keadaan seperti ini!" ucap Arsen datar.
"Bukan begitu, nak! Kami hanya tidak mau merepotkan kalian, bagi Mommy tidur dimana saja tidak masalah," jawab Mommy Sarah bijak.
"Tidak apa-apa Bu Sarah!, Kami tidak merasa direpotkan, kok! Shanum dan anak-anak bisa tidur di kamar Ibu, Bu Sarah bisa tidur sama Bianca, biar Arsen tidur di luar!" kata Bu Marisa lagi.
"Bagaimana Mom? Aku masih kangen sama Mommy, pulangnya besok saja ya!" rengek Bianca.
Mommy Sarah melirik Arsen yang tampak diam, dengan wajah ditekuk. Dia ingin bicara dengan menantunya itu, dari hati ke hati.
__ADS_1
"Baiklah, Mommy akan menginap," kata Sarah.
Bersambung...