
Arsen memijit pelipis dengan jari tangannya, kepalanya terasa sakit dan rasanya mau pecah. Dia menoleh ke samping kirinya, Sang ibu tertidur pulas di brankar nya dengan wajah yang begitu damai.
"Anda sudah merasa baikan, Pak,?" tanya seorang perawat masuk ke dalam ruangan Sambil membawa makanan dan minuman.
"Tidak Sus, kepalaku rasanya mau pecah,"
"Apakah anda punya masalah dengan....maaf, kejiwaan anda ?" tanya suster bernama Shima.
"Iya sus, saya memiliki Alter ego, yang sulit untuk saya kontrol!"
"Sebaiknya anda berkonsultasi dengan dokter Hans, Pak Arsen, nanti sore dia ada di klinik, saya akan memberitahu anda nanti,"ucap suster Shima.
"Terimakasih suster!"
Arsen bangkit dari tempat tidurnya, berjalan pelan ketempat sang ibu berada.
Arsen menatap lekat wajah yang masih terlelap. Meraih jemarinya dan menciumnya lembut. "Maafkan, Arsen ibu! terlalu lama aku pergi meninggalkan mu, aku tahu ibu telah menjalani kehidupan yang sangat berat. Bahkan terlalu berat, hingga ibu tidak bisa menanggungnya sendiri,"
"Mulai sekarang, aku tidak akan meninggalkan ibu lagi, aku janji," ucap Arsen.
"Arsen....!" panggil sang ibu dalam tidurnya.
"Ini aku ibu!" Arsen mengusap wajah yang sudah mulai mengerut, karena tidak pernah di rawat.
"Arsen, anakku sudah pulang, anakku pulang," racau Marisa,
"Ibu, cepat sembuh ya, kita pulang sama-sama ke rumah baru kita.
Wanita itu membuka matanya, menatap Arsen dengan tatapan tajam. "Kamu siapa?" tanyanya lagi.
"Ibu, ini aku Arsen! Arsen anak ibu satu-satunya," Arsen bingung dengan keadaan ibunya yang masih belum stabil.
"Maafkan ibu Arsen! Gara-gara ibu menikah lagi dengan bajingan itu, kamu yang jadi korbannya, hik..hik!" Marisa menangis terisak-isak mengingat kebiadaban suaminya saat itu.
"Sudahlah Bu, jangan pikirkan itu lagi, kita harus tetap hidup menatap masa depan,"
Arsen memeluk sang ibu dengan penuh kasih sayang.
Makin hari, kesehatan mental Marisa semakin membaik, sejak kehadiran Arsen. Hari ini, Arsen akan membawanya pulang ke sebuah rumah yang telah dipersiapkan Arsen untuk ibunya.
Sebelum pulang, Arsen menemui dokter Hans, dan menyampaikan keluh kesahnya.
"Begitulah dok, aku merasa diriku dipengaruhi oleh kelamnya masa laluku, aku dendam pada orang-orang yang telah merundung ku, hingga menutupi sisi baikku," terang Arsen pada dokter Hana.
"Kisahmu sungguh menyedihkan Arsen, sebaiknya jika ingin sifat benci dan dendam itu lebih mendominasi, cobalah berbicara dengan dirimu sendiri dengan tenang, berdamai dengan masa lalu, kau harus jujur, menceritakan tentang semuanya pada seseorang, atau pasanganmu," Arsen berpikir sejenak, selama ini dia tidak pernah menceritakan semuanya pada Bianca. Arsen memendam sendiri kepahitan hidupnya. Di satu sisi, Arsen sangat mencintai Bianca, namun di sisi lain, kebencian akan penolakan Bianca di masa lalu membuat Arsen tega menyakiti hatinya.
"Apakah kau sudah menikah, Arsen? Tanya dokter Hans.
"Sudah dok, tapi aku meninggalkannya, agar dia tidak semakin tersakiti dengan penyakitku ini,"
"Kalian bisa bicara baik-baik, kurasa!" saran dokter Hans.
__ADS_1
"Dia berada di Jakarta, dok,"
"Bukankan kau bisa komenghubunginya lewat ponsel,"
"Akan ku coba, dokter!" jawab Arsen.
...----------------...
Sementara itu, Bianca masih larut dalam kesedihan yang dalam, Harland sangat mencemaskan kondisi adiknya yang sekarang sedang hamil muda.
"Bagaimana keadaan Bianca, Sayang?" tanya Harland malam itu saat pulang dari kantor. Shanum baru saja keluar dari kamar Bianca.
"Seperti biasa, kak! Bianca hanya diam dan tatapannya kosong," jawab Shanum sedih.
"Sebaiknya kita membawa Bianca ke psikiater, Sayang, kalau dibiarkan berlarut-larut, tidak baik untuk kesehatan bayinya!" saran Harland
"Baik kak! Aku akan menemaninya besok! Apa tidak sebaiknya kita telpon Mommy, kak," lanjut Shanum.
Harland berpikir sejenak, akan lebih baik bagi Bianca jika ditemani Mommy Sarah, sementara Shanum sekarang sedang hamil besar.
"Baiklah, aku akan menelponnya!" Harland hendak melangkah ke kamarnya, namun belum sempat dia berjalan, ponsel Bianca bergetar dalam genggamannya.
Sebuah nama yang teramat di bencinya saat ini, muncul di layar ponsel Bianca.
Harland mengangkat ponsel itu, namun dia tidak bicara.
"Bi, ini aku Arsen, bagaimana keadaanmu sekarang, sayang?"
"Bi...Bianca....Bianca!" Suara itu berulang-ulang memanggil Bianca.
Mendengar suara Harland, Arsen kembali menutup panggilannya.
"AKU AKAN MENCARIMU, ARSEN! Ke ujung Dunia sekalipun," teriak Harland marah.
"Kak, siapa yang telepon?" tanya Shanum, begitu muncul dari arah dapur.
"Bajingan itu!"
"Arsen?"
"Siapa lagi," Harland meneruskan langkahnya ke kamar atas, untuk mengambil ponselnya dan menyuruh Mommy Sarah pulang.
Sementara Shanum masuk ke kamar Bianca, wanita itu berbaring membelakangi Shanum.
"Bi, makan dulu sayang!"
"Aku tidak lapar kak!"
"Bi, jika kamu terus-menerus seperti ini, kamu bisa saja kehilangan bayimu, ...kau harus makan, harus kuat, agar bayi dalam kandungan mu juga kuat," nasehat Shanum.
Bianca mengerjapkan matanya sesaat, air matanya kembali bergenang di pelupuk mata indahnya.
__ADS_1
"Bi, kakak pernah berada di posisimu, saat pernikahan kakak dengan Devan di ujung tanduk, kakak mengalami depresi setelah melahirkan dan rasanya itu sakit, kakak tidak ingin kamu mengalaminya Bi, ayo bangkitlah, tegarkan dirimu!" lanjut Shanum.
"Kak, sebenarnya, Arsen mencintaiku kak, tapi kenapa dia harus pergi,"
"Bi, mungkin Arsen tidak ingin kamu makin terluka, doa kan saja agar dia cepat sembuh, dan kembali lagi bersama kita!"
"Tapi, kalau dia kembali, Kak Harland mengancam akan membunuhnya , kak!" ujar Bianca sedih.
"Kak Harland hanya emosi sesaat, membunuh semut saja, dia tidak tega, apalagi membunuh ayah dari ponakannya," Shanum berusaha menenangkan adik iparnya itu.
"Sekarang, ayo makan yang banyak, biar bayimu sehat, ... Kakak yakin Arsen akan senang memiliki seorang anak yang lucu dari rahimmu, Bi!" bujuk Shanum.
"Kak, tolong bujuk Kak Harland, agar mengembalikan ponselku ya!" ujar Bianca memelas.
"Baiklah, tapi kamu harus makan!" sela Shanum, Bianca mengangguk.
Arsen membuang ponselnya begitu saja di atas ranjang kamarnya. Dia membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, entah mengapa akhir-akhir ini, Arsen sering merasa pusing dan mual, bahkan untuk menelan makanannya pun dia tidak sanggup, karena seperti biasa akan memuntahkannya di kamar mandi.
"Arsen, kau kenapa nak?" Marisa merasa prihatin dengan keadaan putranya.
"Aku tidak apa-apa, Bu! Hanya pusing dan mual, nanti juga akan hilang dengan sendirinya," jawab Arsen."Ibu sudah makan? Ibu ingin sesuatu, katakan saja!"
"Tidak nak, bertemu kembali denganmu saja, ibu sudah merasa senang," jawab Marisa.
Arsen hanya tersenyum, hatinya lega melihat ibunya sudah bisa tersenyum lagi, setelah sekian lama hidup dalam keputusasaan dan depresi.
Arsen sudah menjual rumah lama ibunya, dan membeli sebuah rumah mungil, untuk ibunya di pinggir kota Surabaya. Rumah dengan suasana pedesaan yang nyaman dan menenangkan.
Dengan sisa tabungan yang di milikinya, Arsen membangun sebuah warung kecil untuk Marisa. Agar wanita itu memiliki kesibukan setiap harinya, dan berinteraksi dengan tetangga-tetangga mereka.
Arsen sendiri lebih memilih bekerja secara online di perusahaan asing, dengan keahlian yang dimilikinya, dalam mendesign dan membuat aplikasi di Internet.
"Arsen, kamu sudah menikah nak?" tanya Marisa, malam itu saat mereka selesai makan malam. Arsen menatap ibunya intens.
"Kenapa ibu menanyakan itu!" tanya Arsen.
"Ibu hanya ingin melihat kamu menikah dan hidup normal seperti yang lainnya, ibu rasa umurmu sudah cukup untuk menikah?" kata Sang ibu memperhatikan wajah putranya yang tampak berkerut.
"Aku sudah menikah, Bu!" jawab Arsen kemudian.
"Lalu dimana istrimu? Kalian berpisah?" tanya Marisa bingung.
"Aku meninggalkannya ibu, aku tidak mau istriku semakin terluka, karena aku memiliki penyakit yang sulit untuk disembuhkan,"
"Arsen, kau tidak mencintainya?" Marisa makin bingung.
"Aku mencintainya, Ibu! Namun, aku tidak bisa mengendalikan diriku, jika diriku yang lain muncul dan menyiksanya, aku seperti seorang psikopat," Arsen mengusap wajahnya dengan kasar.
"Semua ada hubungannya dengan masa lalu, kan? Maafkan ibu Arsen, Ibu yang salah," Marisa memeluk Arsen erat.
"Sudahlah Bu, jangan menyalahkan dirimu, semua sudah berlalu!" Arsen berusaha menenangkan ibunya.
__ADS_1
"Kalau kau masih mencintainya, berusahalah untuk menyakinkan dirimu, berjuanglah untuk mengalahkan egomu, Arsen! Kamu pasti bisa!" Marisa mengusap rambut putranya dengan lembut.
"Aku akan berusaha ibu, aku akan melawannya," Arsen bertekad untuk melawan egonya sendiri.