
Malam itu, Arsen duduk sendiri di teras belakang rumah, saat semua orang berkumpul di ruang tengah. Waktu baru menunjukkan pukul 10 malam. Arsen menyandarkan tubuhnya di dinding rumah, yang berhadapan dengan sawah.
Tatapannya kosong, menatap hamparan sawah yang terletak persis dibelakang rumah kecilnya itu. Puluhan kunang-kunang beterbangan dengan memancarkan cahayanya yang berkilauan.
"Arsen!" panggil Mommy Sarah lembut. Arsen memandang ke arah wanita itu.
"Ada apa, Mommy?" tanya Arsen hendak berdiri.
"Duduk saja, nak!" Mommy Sarah duduk di samping Arsen. Arsen tampak gugup, dia menarik nafasnya perlahan.
"Arsen, katakan sama Mommy, jika ada yang menganggu pikiranmu!" titah Mommy Sarah.
"Tidak ada, Mom!'
"Arsen, Mommy sudah mengenalmu dari sebelum kamu menikah dengan Bianca, Mommy sudah menganggap kamu anak Mommy sendiri, jadi kamu tidak bisa menyembunyikan apapun dari Mommy," ucap Mommy Sarah lembut.
"Mommy, maafkan Aku! Aku tidak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi Bianca!" kata Arsen akhirnya bicara.
"Kehidupan seperti apa? Mommy lihat Bianca senang-senang saja bersamamu disini,"
"Aku tahu Mommy, Bianca tidak pernah menuntut apapun dariku, itulah yang membuatku merasa menjadi suami yang tidak berguna, Aku hanya menjadi parasit dalam keluarga Mommy!" Arsen mengusap wajahnya dengan kasar.
"Siapa bilang kamu itu parasit, Arsen! Kau tahu, perusahaan membutuhkanmu, Bianca tidak bisa sendirian mengurus perusahaan yang telah kau tinggalkan. Perusahaan itu milikmu, kau yang membangunnya tanpa bantuan kami, kembalilah ke Jakarta, Nak!' ucap Mommy Sarah.
"Aku malu pada kalian semua, terutama Kak Harland, aku telah mengecewakannya, Mommy!" ujar Arsen dengan berlinangan air mata.
"Tidak ada manusia yang sempurna, Arsen! Kita semua pernah melakukan kesalahan, namun jika kita bertobat, dosa kita pasti di ampuni oleh Yang Maha Esa!" Jawab Mommy Sarah bijak.
"Apakah aku maafku masih bisa diterima, Mom?"
"Tentu saja, Nak! Kami semua telah memaafkan mu, kamu adalah bagian dari keluarga Harland Myers, selamanya akan seperti itu, jadi putuskan lah mana yang terbaik, jika kamu ingin kembali ke Jakarta, kita akan berangkat bersama-sama besok!"
"Terimakasih, Mommy!" Arsen menangis memeluk mertuanya yang berhati mulia itu.
"Sekarang, beristirahatlah, angin malam tidak baik untuk kesehatanmu." kata Mommy Sarah, beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah. Arsen menurut, dia kemudian menjatuhkan dirinya di atas sofa.
"Arsen, ini selimutnya dan bantalnya, maaf kamu.harus tidur di luar," Bianca memberikan bantal selimut untuk suaminya.
" Nggak apa-apa, Bi?" Arsen menumpukan kepalanya di bantal.
"Bi, bagaimana kalau kita kembali ke Jakarta!" sahut Arsen.
"Aku terserah padamu, Arsen, jika kamu mau kembali ke perusahan, aku akan berhenti bekerja dan fokus merawat bayi kita," jawab Bianca tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, kita kembali ke Jakarta!" ucap Arsen akhirnya.
"Tapi ajak ibu tinggal bersama kita, ya!" pinta Bianca.
"Kalau ibu tidak Mau, Aku tidak akan memaksanya," kata Arsen.
"Aku tidak tega meninggalkan ibu sendiri disini, Arsen! Lagi pula jarak dari Jakarta ke Surabaya sangat jauh, jika terjadi sesuatu pada ibu, kita tidak bisa segera melihatnya," kata Bianca berusaha meyakinkan Arsen.
"Aku akan bicara dengan ibu besok pagi," janji Arsen."Sekarang tidurlah, kamu pasti capek seharian ngurusin bayi kita," Arsen meraih wajah Bianca dan mencium keningnya lembut.
"Selamat tidur, Sayang!"
"Selamat malam,Arsen?" Bianca mematikan lampu ruang tengah dan masuk ke kamar untuk segera tidur.
Suasana sangat hangat dan ceria, suara anak terdengar memecah pagi yang dingin. Arsen bergegas bangun, saat si kembar Shera dan Shena berlarian di ruang tengah.
"Shera, Shena, cukup! jangan berlarian lagi! Om Arsen sedang tidur!" Shanum menegur kedua putrinya yang berkejaran sambil merebutkan sebuah mainan.
"Nggak apa-apa, Kak Shanum! sudah siang ini," Ucap Arsen tulus. Kemudian Arsen beranjak kearah kamarnya, saat Mommy Sarah sudah berada di luar rumah.
"Segar ya Oma, udara disini!" ucap Jasmine sambil menghampiri Sarah.
"Iya kak,kita jalan-jalan pagi yuk, sambil lihat-lihat pemandangan," ajak Sarah.
"Ayo Oma, aku ajak si kembar ya!" Jasmine memanggil kedua adiknya, Dan berjalan mengikuti Oma mereka."
"Ibu, ada yang mau aku omongin sama ibu!" kata Arsen sedikit ragu.
"Ada apa nak? sepertinya tegang sekali!" goda Marisa.
"Bu, aku ingin kembali ke Jakarta, meneruskan usaha kami di sana, " kata Arsen menatap ibunya lekat, untuk menunggu jawaban.
"Pergilah, kalau itu keinginanmu!" kata Marisa setuju.
"Tapi, Aku dan Bianca sudah sepakat untuk mengajak ibu pergi bersama kami," kata Arsen.
"Ibu disini saja, Arsen! Ibu merasa tidak enak jika harus merepotkan kalian,"
"Tidak ada yang merasa direpotkan, ibu! Aku ingin Ibu menemani Bianca dan Arkan dirumah, jika aku pergi bekerja, kami akan tinggal di rumah sendiri, bukan di rumah Mommy Sarah," bujuk Arsen.
"Baiklah, tapi bagaimana dengan warung Ibu?" tanya Marisa.
"Kalau masalah itu gampang, Ibu, kita titip sama pak RT, agar mau mencarikan orang untuk membeli rumah ini," kata Arsen.
__ADS_1
Arsen senang, karena ibu Marisa mau ikut mereka ke Jakarta. Hari itu juga mereka berangkat ke Jakarta bersama-sama.
Sesampainya di Jakarta, Shanum segera mencari putra kecilnya Gabriel di kamar. Harland berada di sana sambil bermain dengan putranya.
"Kalian sudah kembali?" Harland tersenyum memeluk istrinya.
"Iya kak, sama Bianca juga!"
"Bianca?" Harland buru-buru keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.
"Bianca!" Harland memeluk adik yang dicintainya itu erat.
"Kalau Aland, maafkan Bianca ya, kak?" Bianca membalas pelukan kakaknya.
"Kamu baik-baik saja kan, Bi?" Tanya Harland mengurai pelukannya dan memindai tubuh Bianca dari kaki hingga kepala.
"Aku sehat kak," jawab Bianca tersenyum. Pandangan Harland beralih pada Arsen yang diam menundukkan wajahnya.
"Angkat wajahmu, Arsen!" Bentak Harland marah.
"PLAKK!"
Sebuah tamparan melayang di wajah suami Bianca itu.
"Kak Aland!" Bianca kaget dan mendorong Harland agar menjauhi Arsen. Begitu juga Mommy Sarah dan Marisa.
"Maafkan aku, kak Aland!" Arsen bersimpuh di kaki Harland. Hanya itu yang bisa Arsen lakukan.
"Aku pantas menerima semua kemarahan Kakak! Aku pantas untuk di benci!" Arsen bersujud di kaki Kakak iparnya itu.
"Aland, sudahlah nak! Jangan marah lagi, yang penting sekarang, Bianca sudah bersama kita, dan Arsen sudah mengakui kesalahannya." Mommy Sarah menenangkan Aland yang tampak emosi.
Harland kemudian diam sambil mengusap wajahnya. Bianca membantu Arsen untuk kembali berdiri dan mendudukkan Arsen di sofa.
"Maafkan Kak Aland ya!" Bianca merangkul Arsen dengan perasaan sedih.
Arsen mengangguk, "Aku memang salah, Bi! Aku bisa memahami, kak Aland menyayangimu dan tidak ingin adiknya terluka.
"Kak, maafkan Bianca juga!" Bianca kembali memeluk sang kakak, dengan berurai air mata.
"Kakak tidak mau hal buruk yang menimpamu terulang lagi, Bianca!" Harland mulai melunak.
"Tidak akan, Kak! Arsen sudah sembuh, dan satu-satunya obat yang ampuh adalah saling mencintai dengan ketulusan,"
__ADS_1
"Aku tidak akan menyakiti Bianca lagi, kak! Aku janji!" Arsen mengangkat wajahnya dan menatap Harland untuk mendengar sebuah pengampunan.
"Aku pegang janjimu, Arsen! Jika kamu melakukannya lagi, aku bersumpah akan menghabisi mu, " tunjuk Aland ke wajah Arsen. Arsen mengangguk. Pasti!