
"Tidur yang nyenyak ya, sayang!" Shanum membaringkan tubuh mungil baby Flo di tempat tidur kecilnya, yang berhiaskan gambar-gambar kartun lucu, yang didominasi warna merah muda. Kemudian menyelimutinya dengan hangat.
Shanum baru saja selesai menyusui bayi mungil itu. Senyuman manis terukir dibibirnya yang merah merona.
"Terimakasih, Tuhan! Akhirnya aku bisa merasakan indahnya menjadi seorang ibu, walaupun Flo bukan anakku," gumam Shanum, sambil memberikan ciuman manis dikening bayi mungil itu.
Setelah Flo terlelap, Shanum keluar dari kamar Flo dan turun kelantai bawah. Dia menemukan Nyonya Sarah dan Mbak Mirna sedang memasak untuk makan siang.
"Selamat pagi, Nyonya Sarah!" sapa Shanum dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Shanum, cucuku sudah tidur?" Nyonya Sarah memandang Shanum dengan senyuman ramah.
"Sudah nyonya, sepertinya baby Flo kekenyangan," jawab Shanum senang.
"Baguslah, sekarang Flo lebih sehat dan gemuk,setelah meminum ASI darimu. Shanum, terimakasih kamu sudah mau menyusuinya!" ucap Nyonya Sarah tulus.
"Tidak perlu berterimakasih, Nyonya!, saya sudah menganggap Flo seperti anak saya sendiri," ujar Shanum.
"Shanum, kalau kamu dua bulan yang lalu pernah melahirkan, dimana anakmu itu sekarang?" tanya Nyonya Sarah.
Shanum menundukkan wajahnya, dia malu untuk mengakui, bahwa dia pernah meninggalkan anaknya, dirumah sakit, tapi bukankan berkata jujur lebih baik, dari pada berbohong. Karena satu kebohongan akan menciptakan banyak kebohongan lainnya.
"Saya tidak tahu, nyonya! saya meninggalkan anak saya dirumah sakit, karena saat itu, saya mengalami depresi setelah melahirkan," jawab Shanum jujur.
"Apa karena itu, kamu bercerai dengan suamimu?" nyonya Sarah memandang Shanum dengan menyipitkan mata.
"Bukan, ceritanya panjang,Nyonya," Shanum merasa sedih, karena harus membuka lagi cerita lama yang ingin dia lupakan. Namun sebagai majikan, Nyonya Sarah harus tahu, tentang latar belakang kehidupan Shanum.
"Kalau begitu, ceritakan lah!aku akan mendengarkan mu!" Nyonya Sarah mengajak Shanum untuk duduk dimeja makan. Dia mendengarkan kisah sedih Shanum dengan seksama. Wanita baya itu menghela nafas panjang.
"Menyedihkan sekali kisahmu, Shanum. Aku tidak habis pikir, kok ada ya, orang yang bersikap egois seperti itu," gumam nyonya Sarah dengan wajah kesal.
"Mungkin karena dari awal, Devan sudah membohongi orang tuanya, Nyonya. Hingga mereka tidak merestui pernikahan kami," Shanum menunduk sedih.
"Jujur, dulu aku juga tidak merestui hubungan Alan dengan Monica, tapi itu karena Monica bukan tipe wanita baik-baik, dia hanya memanfaatkan kekayaan Harland untuk bersenang-senang, dia sengaja memakai alat kontrasepsi, supaya tidak hamil, karena dia tidak ingin bentuk tubuhnya berubah karena hamil, tapi aku terus mendesaknya untuk segera punya anak," ungkap Nyonya Sarah.
"Lalu, baby Flo? bagaimana dengan baby Flo?" tanya Shanum.
"Aku memaksa mereka untuk mengadopsi anak, sebagai pancingan, agar Monica cepat hamil,mereka setuju. Tapi ya itu, dasar Monica, dia tidak mau mengurus anak itu sendiri, malah mencari baby sister untuk Flo," ungkap Nyonya Sarah kesal.
__ADS_1
Shanum mengangguk, sejak kedatangannya dirumah itu, Monica makin sering pulang malam, kadang pulang pagi dalam keadaan mabuk. Monica bahkan jarang berinteraksi dengan anak adopsinya.
"Kamu tahu dimana anakmu itu, sekarang ?" tanya nyonya Sarah lagi.
Shanum menggeleng, dia tidak pernah tahu wajah putrinya, bahkan Shanum tidak memberinya nama.
"Ya sudah, sekarang kamu fokus merawat baby Flo, anggap saja dia putrimu!" ujar Nyonya Sarah lembut.
"Terimakasih nyonya !" ucap Shanum tulus.
Flower Harland Myers, bayi mungil itu memiliki wajah cantik dan mata yang indah. Wajahnya mengingatkan Shanum akan wajah Jasmine, Putri sulungnya. Shanum sangat menyayangi bayi mungil itu, sejak Shanum memberikan ASI untuknya.
Tuan Harland dan Nyonya Monica, mengambil bayi Flo dirumah sakit, setelah dokter Hana mengabarkan ada seorang bayi, seperti yang diinginkan keluarga Harland. Saat itu, baby Flo, masih berusia 1 Minggu.
Setelah melihat bayi mungil itu, Harland langsung jatuh hati, dan tanpa pikir panjang, memboyong bayi itu pulang kerumahnya.
Namun karena kesibukan Harland diperusahaan, dia tidak punya waktu untuk bermain dengan sikecil. Sementara Monica yang merasa terbebani dengan kehadiran baby Flo, dia menggunakan jasa baby sister, untuk merawat putri adopsi mereka.
Bahkan, Monica tidak pernah mengurus bayi Flo, sejak Harland sering pergi ke Jerman. Dia tidak peduli. Dia hanya mementingkan kariernya di dunia modelling. Dan berselingkuh dengan pemilik agensi, tempat Monica bernaung.
...----------------...
"Selamat Malam, Mommy!" Harland mencium kening ibunya dengan lembut.
"Kamu sudah pulang, Alan," Nyonya Sarah memeluk pinggang putranya dengan mata berbinar. Harland tersenyum lebar.
"Mommy masak apa? Aku lapar," ujar Harland sambil mengusap perutnya yang rata, kemudian duduk di meja makan.
"Masakan kesukaanmu, steak daging sama kentang goreng!" Nyonya Sarah mengambilkan makanan untuk putra tampannya itu.
"Makasih mommy! Sudah lama aku tidak makan masakan mommy," Harland menatap Sang Mommy dengan mata bercahaya.
"Kalau begitu habiskan makanannya!" ujar Nyonya Sarah. Setelah selesai makan, Ibu dan anak itu duduk diruang tengah.
"Bagaimana kelanjutan perceraian mu dengan Monica, Alan?" tanya Mommy Sarah, menatap Harland, penasaran.
"Sepertinya akan lama, Mommy! Monica menuntut harta gono-gini yang tidak sedikit," Harland memijit keningnya dengan kasar.
"Berapa banyak?"
__ADS_1
"Hampir 1M, Mommy! Aku tidak akan menghadiri sidang itu, biar pengacara saja yang mengurusnya," kata Harland. "Aku tidak akan mengabulkan permintaannya yang sebanyak itu, aku sudah menyiapkan bukti perselingkuhannya."
"Mommy hanya terserah padamu, Alan!, apapun keputusanmu, mommy akan selalu mendukungmu," ujar Mommy Sarah.
"Trimakasih, Mommy!" jawab Harland sambil memeluk wanita yang telah melahirkannya itu erat.
Harland tidak terima tuntutan Monica untuk memberinya harta gono-gini yang tidak masuk akal, karena Monica lah yang menggugat cerai, Monica juga tidak memiliki anak darinya. Harland pun sudah mengumpulkan bukti perselingkuhan Monica dengan seorang pemilik agensi tempat dia bernaung, sebagai model papan atas.
Harland merasa dikhianati, dan meminta pengacaranya untuk tidak memberikan satu sen pun uangnya. Bukannya pelit, tapi Monica pantas mendapatkan balasan yang setimpal, atas pengkhianatan nya,
...----------------...
"Nyonya Sarah ...!Tuan....! Baby Flo demam lagi!" teriakan panik Shanum, membuat Harland dan nyonya Sarah kaget.
"Tenang dulu, Shanum, jangan panik !" Nyonya Sarah bangkit dan naik kelantai atas, menuju kamar Baby Flo diikuti Shanum dan Harland. Bayi itu tampak menangis dengan keras, nafasnya sesak, dan berbunyi kasar dan kulitnya berwarna kebiruan.
"Ya ampun, panas sekali, ayo Nak! kita bawa baby Flo ke rumah sakit" ucap nyonya Sarah pada Harland putranya.
"Ya Mom, aku siapkan mobil dulu!" Harland kembali ke lantai bawah dan mengeluarkan mobil dari garasi.
Buru-buru Shanum menyiapkan peralatan baby Flo didalam sebuah tas kecil, dan mengikuti nyonya Sarah dan Harland ke mobil.
"Flo sudah dikasih obat penurun panas , Shanum?" tanya Nyonya Sarah, begitu berada diatas mobil.
"Sudah Nyonya, tapi panasnya nggak turun-turun, saya takut terjadi apa-apa pada Flo," Shanum tampak mencemaskan keadaan anak asuhnya itu.
Sementara baby Flo, tidak berhenti menangis.
Shanum memeluk bayi itu erat.
"Tenang ya sayang, sebentar lagi kita sampai, anak Bunda pasti kuat," Ucap Shanum.
Harland, memandang pengasuh Flo itu dari kaca mobil, wanita itu tampak panik.
Tak lama berselang mobil yang dikendarai Harland tiba dirumah sakit, Shanum segera membawanya keruangan Unit Gawat Darurat.
"Duduk dulu, Shanum! jangan panik begitu, mudah-mudahan Flo tidak kenapa-napa, dan bisa cepat sembuh." Sahut Harland.
Shanum mengangguk dan duduk disebelah Nyonya Sarah, dengan air mata menggenang, disudut matanya.
__ADS_1