
Shanum membaringkan tubuhnya di tempat tidur setelah selesai memandikan Flo dan membaringkan anak itu disisinya. Shanum menatap wajah mungil itu dengan senyum melengkung di wajahnya.
"Makin lama, kamu semakin mirip Kak Jasmine nak!" gumam Shanum. mengusap wajah itu dengan lembut. Si kecil Flo sudah bisa merespon ucapan Shanum dan mengoceh tidak jelas.
"Da....da..da....dah!" oceh Flo sambil tertawa, menggerakkan tangannya dengan riang.
"Mau ngomong apa, mmhh?" Shanum mengulurkan telunjukmu, bayi mungil itu memegang jarinya erat.
"Wah, anak Daddy udah mau ngomong ya?" tanya Harland saat masuk ke kamar.
"Da...dah" suara kecil itu terdengar memanggil Daddynya.
"Mmmh, mau manggil Daddy, apa sayang? Mau digendong?" Harland mengulurkan tangannya. Bayi Flo tampak gembira. Shanum tersenyum melihat interaksi antara kedua ayah dan anak itu. Harland mendekap putrinya itu dengan erat.
"Bunda kenapa? Kelihatannya pucat sekali!" Harland menatap istrinya khawatir.
"Tidak tahu kak, tubuhku rasanya lemah, pusing dan mual!" jawab Shanum lirih.
"Kalau begitu kita ke dokter sekarang, sayang! Kamu tidak boleh sakit!" ujar Harland.
"Aku tidak apa-apa kak, sebentar lagi pasti juga hilang!" jawab Shanum.
"Tidak bisa sayang, kita pergi sekarang, ayolah! " Harland menarik Shanum untuk berdiri. Sementara tangannya yang lain, mengendong Flo dalam dekapannya.
Shanum menurut, mengikuti Harland menuju mobilnya.
"Flo diajak Kak!" tanya Shanum.
"Iya, tak masalah, biar Flo bersamaku! Lagi pula Mommy sedang mengantar Bianca kerumah barunya." jawab Harland.
Sesampai dirumah sakit, Shanum langsung menemui dokter ahli kandungan. Karena dia curiga karena sudah hampir tiga bulan ini, dia tidak kedatangan tamu bulanannya. Sejak menikah dengan Harland.
"Bu Shanum, selamat ya, anda hamil," kata dokter Amira tersenyum ramah.
"Benarkah!?" Harland tampak sukacita, dia memeluk Shanum dengan erat. Harland memang menginginkan seorang anak, keturunan keluarga Harland Myer. Dulu dia pesimis karena Monica tidak kunjung hamil, dan mengira dirinya mandul. Hingga Harland mau mengadopsi seorang anak, untuk menemani hari-harinya.
"Iya, Pak Harland, saat ini kandungan Bu Shanum, menginjak usia 26 Minggu atau 3 bulan lebih. Trimester ini seorang ibu rentan mengalami keguguran, jadi bapak harus menjaga Bu Shanum dengan baik." nasehat dokter Amira.
"Terimakasih Dokter, saya pasti akan menjaga istri saya dengan baik," sahut Harland tersenyum bahagia.
Shanum tersenyum haru, melihat kebahagiaan Harland. Dalam hati Shanum berkata, akan merawat kehamilannya dengan baik, dan memenuhi semua keinginan Harland.
Sesampai di rumah, Shanum dikejutkan dengan kedatangan Jasmine dan si kembar Shera dan Shena bersama Ayah mereka.
__ADS_1
"Jasmine! Shera! Shena!" Shanum memeluk ketiga putrinya itu hangat.
"Bunda, bolehkah kami tinggal di rumah Bunda?" tanya si kembar Shena dengan suara imutnya.
"Tentu saja boleh sayang, Ya kan Dad?" Shanum melirik suaminya yang tampak asyik mengajak Flo bermain bersama Shera.
"Iya, kalian semua boleh tinggal disini," kata Harland tersenyum ramah.
"Terimakasih Ya Om!" Sahut Jasmine tersenyum senang.
"Mulai sekarang kalian semua manggil Daddy ya!" kata Harland dengan senyum mengambang di bibirnya.
"Ya Daddy!" Sahut Shena memeluk pria itu riang.
"Ya udah, Jasmine ajak adik-adikmu bermain dulu, Daddy akan bicara dengan Ayah kalian!"
"Ya Daddy!' jawab anak-anak serentak.
Rumah itu semakin ramai dengan suara hiruk pikuk anak-anak Shanum. Shanum tersenyum bahagia. Mommy Sarah dan Harland, tidak mempermasalahkan kehadiran putri-putrinya.
"Terimakasih Kak, Kakak sudah mau menerima anak-anakku, " ujar Shanum tersenyum haru.
"Aku hanya ingin, istriku bahagia apalagi sekarang kamu sedang mengandung anakku, kamu tidak boleh Stres atau banyak pikiran, semoga kehadiran Jasmine dan si kembar bisa membuatmu lebih tenang menghadapi kehamilanmu," ujar Harland.
"Perusahaan mereka sedang pailit, Sayang! Mereka harus menanggung kerugian karena ada yang melakukan korupsi di perusahaannya."
"Oh ya! Separah itu kak?"
"Iya!"
"Trus, kakak mau membantu mereka?" tanya Shanum.
"Ya, selama mereka bisa mengembalikan pinjaman tepat waktu, aku akan memberikannya, tapi menurutku yang membuat mereka hancur adalah gaya hidup Nyonya Sonia, dan Vania yang hedonis, mereka suka berburu barang-barang Branded, yang menghabiskan uang perusahaan," Shanum mengangguk mengiyakan ucapan Harland.
"Kalau mereka tidak bisa mengembalikan pinjaman itu?" tanya Shanum lagi.
"Perusahaan mereka akan aku sita," jawab Harland. Shanum menarik nafas panjang.
"Ayolah, jangan pikirkan mereka! Malam ini kita ajak anak-anak makan di luar!" ujar Harland. Shanum tersenyum, memeluk suami nya itu erat.
...----------------...
"Apa! Shanum hamil?" Mommy Sarah tersenyum lebar saat Harland memberitahukan kehamilan Shanum.
__ADS_1
"Akhirnya, Mommy punya cucu juga darimu, Lan! Mommy bahagia mendengarnya. Awas lho, jangan bikin Shanum stres, kamu harus membuatnya selalu bahagia!" nasehat Mommy Sarah.
"Iya, Mommy...aku pasti akan membahagiakan Shanum, mommy tidak usah khawatir!" Ucap Harland mencium punggung tangan mommynya lembut.
Sementara itu di rumah barunya, Bianca baru saja selesai menata perabotan rumahnya, semua serba baru. Arsen mendatangkan seorang penata ruangan profesional, untuk membantu Bianca.
"Kamu suka rumah kita, Bi?, walaupun tidak sebesar rumah Mommy, kuharap kamu bahagia bersamaku disini," ucap Arsen dengan suara lembutnya. Membuat siapapun meleleh mendengarnya. Namun tidak dengan Bianca. Dia hanya diam, tak berani menatap suaminya. Dia bingung dengan perilaku Arsen, yang kadang lembut seperti kucing dan kadang ganas seperti singa.
"Ayolah, Bi! Jika kamu tidak menyukai sesuatu, bilang saja!" kata Arsen memeluk istrinya hangat
"Aku mau istirahat, Arsen!" Bianca masuk ke kamar dan merebahkan diri disana. Arsen hanya memandangi Bianca dengan tatapan tak terbaca.
Arsen mengikuti Bianca ke kamar, dan berbaring disamping istrinya. Arsen memejamkan matanya. Kepalanya tiba-tiba berdenyut dengan keras, Arsen gelisah. Dia menarik Bianca dengan kasar, Bianca kaget dan berusaha melawan.
"Lepaskan aku Arsen!" Teriak Bianca sambil meronta dalam kungkungan Arsen.
"Jangan pernah melawanku, Bianca! Tidak ada yang akan menyelamatkanmu dirumah ini, disini hanya ada kita berdua!" Arsen melucuti pakaian Bianca dengan merobeknya kasar. Bianca menangis. Pria itu kembali melukai harga dirinya. Arsen menuntut Bianca untuk melayaninya dengan cara yang tidak wajar dan menjijikkan. Bianca merasa mual, kepalanya pusing, semuanya terasa gelap, Ava terkapar tak sadarkan diri.
Setelah membuat Bianca tak berdaya, Arsen tampak menyesali perbuatannya. Dia memeluk Bianca erat dan berusaha mengobati luka-luka di tubuh Bianca sendiri.
Bianca menangis terisak-isak di dalam kamarnya, hatinya semakin hancur. Ingin berteriak memohon pertolongan, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Bianca, makan dulu sayang! Kamu harus sembuh, maafkan aku ya!" ucap Arsen merasa bersalah.
"CERAIKAN AKU ARSEN!AKU TIDAK SANGGUP LAGI MENGHADAPI MU!" jerit Bianca.
"Aku tidak akan menceraikanmu Bi! Jangan bicara seperti itu!" Arsen berusaha menenangkan Bianca yang terluka.
"KALAU BEGITU BUNUH SAJA AKU, AGAR KAMU PUAS MENYAKITIKU, HIKS...HIKS!" Bianca histeris.
"Sssttt!" Arsen meletakkan jarinya dibibir Bianca.
"KALAU KAMU MEMBENCIKU, KENAPA KAU MENIKAHI KU, ARSEN? KENAPA?" Bianca memukul dada Arsen dengan kuat, namun tak sebanding dengan tenaganya yang lemah.
"AKU MENCINTAIMU, BIANCA!" Arsen memeluk Istrinya erat. Bianca menggeleng lemah. "Itu bukan cinta," gumam Bianca lirih.
Bianca terbangun saat menjelang pagi, dia tidak melihat kehadiran Arsen disampingnya. Di atas nakas, telah tersedia makanan dan minuman untuk Bianca sarapan. Bianca berusaha menggerakkan tubuhnya, intinya masih terasa sakit namun dia menguatkan dirinya untuk berjalan ke kamar mandi. Dan membersihkan tubuhnya yang lengket karena melayani nafsu bejat suaminya.
Arsen pulang kerumah lebih awal, namun pria itu tidak masuk kedalam kamar mereka. Bianca mengikutinya, Ia kaget saat mendengar suara erangan Arsen dari dalam kamar sebelah. Bianca penasaran dengan apa yang terjadi pada Arsen. Bianca menempelkan telinganya, di pintu. Arsen berteriak-teriak sendiri, sambil memegang kepalanya yang terasa mau pecah, bahkan memukul kepalanya ke tembok.
"Pergi! pergi dari hidup gue, Brengsek, jangan ganggu gue lagi, jangan ganggu istri gue, gue mencintai Bianca, " suara Arsen terdengar memilukan. Bianca menarik nafas perlahan. Dia penasaran, dengan apa yang telah di alami Arsen. Bianca merasa, seolah Arsen mempunyai kepribadian ganda, dan Alter igo nya yang keras sangat mendominasi Arsen.
Tak lama, suara itu tidak lagi terdengar, Arsen keluar dari kamar itu. Bianca berdiri mematung, saat Arsen berdiri didepannya. Pria itu tampak kacau, matanya memerah, karena habis menangis. Arsen memeluk Bianca erat. Bianca membalas pelukan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Tak ada yang bicara, Bianca berjanji akan mencoba memahami suaminya. Dan mencoba membujuk Arsen agar mau mendatangi psikiater.
__ADS_1