Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
MALAM PERTAMA


__ADS_3

Shanum menarik tubuhnya dari dekapan Devan, saat seseorang masuk kedalam ruangan itu.


"Upps...maaf aku mengganggu kalian !" sesal Farah pura-pura merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, kak !" seru Shanum sambil berdiri menjauh kearah sofa dan duduk disana.


"Ada apa, Farah ?" Devan duduk disisi ranjang.


"Aku hanya mau memberimu suntikan antihistamin, setelah itu kau bisa pulang, jika kau sudah merasa lebih baik."


"Oh, syukurlah....! aku tidak tahan dengan bau rumah sakit. " racau Devan.


"Kau tinggal dimana, Van ! Aku boleh main ketempat mu, kan!" seru Farah.


"Sebaiknya jangan, aku tinggal diruangan yang ada di kantorku...!" tolak Devan.


"Jadi, aku tidak punya kesempatan lagi nih, buat balikan !" sungut Farah.


"Maaf, Farah..!.bagiku tidak ada yang namanya balikan sama mantan, jalan itu harus melihat kedepan dan bagiku sekarang Shanum adalah masa depan."


Shanum bersorak dalam hati, dia tahu sepertinya Farah berusaha mengambil hati Devan kembali. Dia tidak tahu sejauh apa hubungan keduanya dan kenapa mereka berpisah. Dan dia pun tidak ingin mengetahuinya. Yang penting sekarang Devan sedang berusaha untuk meyakinkan hatinya.


"Sepertinya kau sedang menjaga hati, Shanum !" tebak Farah, sambil melirik kearah Shanum dengan tatapan tak terbaca.


"Iya .. walau bagaimana pun, Shanum akan menjadi istriku, ...aku ingin jujur terhadap hubungan kami. Hubungan diantara kita hanya masa lalu dan itu sudah lama berakhir. Sekarang aku akan menjaga masa depanku, tanpa mengenang masa lalu, !" tegas Devan.


Farah menelan Salivanya dengan kasar, dia tersenyum pahit. Farah menyesal dulu telah selingkuh dari Devan. Hanya karena rayuan Nico yang saat itu sedang menjadi artis terkenal. Tapi sayang hubungan mereka kandas karena Nico dipenjara karena kasus narkoba yang menimpanya.


"Baiklah, kalau begitu selamat ya ! Semoga hubungan kalian lancar hingga ke pernikahan," ucap Farah dengan senyum yang dipaksakan.


Kemudian Farah keluar dari ruangan itu dengan perasaan kecewa.


Devan menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Dia duduk disamping Shanum yang dari tadi hanya diam mendengar pembicaraan Devan dan Farah.


"Kak,...kakak mantannya banyak ya !" tanya Shanum memecah kebisuan diantara mereka.


"Tidak terlalu,...hanya beberapa orang, ...tapi tidak ada yang setia,"


"Kakak selingkuh atau diselingkuhi ?" tanya Shanum polos.


Devan tersenyum lebar, menatap gadis manis itu lama.


"Menurutmu !?"


"Kalau menurutku, dua-duanya !" canda Shanum tertawa.


"Tapi yang banyak sih, mereka yang selingkuh, bagiku tidak masalah, " tutur Devan.

__ADS_1


"Ya iya lah, Kakak Devan kan punya segalanya, pasti gampang kan nyari wanita lain yang lebih cantik !?" cetus Shanum.


"Wanita cantik banyak sayang ! tapi nyari yang setia itu susah,"


"Kak,...!" Shanum memandang wajah Devan yang mulai kembali normal setelah alerginya diobati.


"Mmh..." Devan meraih dagu Shanum yang seperti lebah bergantung itu. Shanum memejamkan matanya, saat hangatnya nafas Pria tampan itu menyentuh sukmanya. Devan mendekatkan wajahnya mengikis jarak diantara mereka. Devan mencium bibir Shanum untuk kedua kalinya dihari yang sama. Kali ini bukan hanya sekedar ciuman, Devan ******* bibir itu dengan lembut. Tak ada gairah. Shanum menikmatinya, sekali-sekali dia menarik wajah untuk mengatur nafasnya yang tersengal.


"Kak,...aku lapar !" bisik Shanum saat, perutnya berbunyi, karena belum sarapan dari pagi.


"Maaf, ...aku lupa ! Makananmu ada diatas meja, tadi Daniel yang bawa." Devan tersenyum manis sambil mengusap bibir merah itu dengan ibu jarinya.


"Aku makan dulu kak !" Shanum mengambil makanan yang ada diatas meja, dan memakannya dengan lahap.


...****************...


Hubungan Shanum dan Devan, berjalan dengan mulus, bibi Raya pun merestui hubungan mereka. Wanita itu tampak bahagia, Karena Devan berniat untuk segera melamar Shanum menjadi istrinya.


"Kapan kalian akan menikah ?" tanya bibi Raya siang itu saat keduanya datang menemui Bibi Raya di cafe.


"Secepatnya bibi, Daniel sedang mengurus surat-surat untuk melengkapi persyaratan pernikahan ," ujar Devan.


"Kalian akan menikah disini atau di Jakarta ?"


" Disini aja, bi...tapi orangtuaku tidak bisa datang, mereka sedang berada di luar negeri!"


"Terimakasih bi, besok aku akan mengajak Shanum untuk berbelanja ke kota, bibi mau ikut !" ajak Devan.


"Tidak usah, kalian saja yang pergi ! melihat Shanum bahagia saja, bibi sudah senang...bibi harap kau bisa menjaga Shanum dengan baik, Devan !" pesan bibi Raya.


"Ya Bi, tentu saja aku akan menjaganya !" janji Devan didepan bibi Raya.


...----------------...


" SAUDARA DEVAN AGYA MAHENDRA, SAYA NIKAHKAN ENGKAU DENGAN SHANUM ANINDIRA KAYSA BINTI RAHMAT ATMAJA, DENGAN MAHAR SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DIBAYAR, TUNAI."


" SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINNYA, SHANUM ANINDIRA BINTI RAHMAT ATMAJA DENGAN MAHAR SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DIBAYAR TUNAI "


" BAGAIMANA SAKSI ? SAH !"


" SAH....!" sambut para semua yang hadir didalam rumah bibi Raya yang telah disulap menjadi tempat nikah.


Shanum mengucap syukur saat Devan mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas. Dan mengucapkan janji pernikahan tanpa keraguan.


Bibi Raya menangis haru, sambil memeluk Shanum yang sudah dia anggap putrinya sendiri.


"Selamat ya, sayang ! semoga kalian bahagia, mewujudkan keluarga sakinah, mawadah warahmah!" doa bibi Raya.

__ADS_1


"Makasih bi,...terimakasih untuk semuanya !" ucap Shanum tulus.


Bibi Raya mengangguk.


Bibi Raya sudah menyiapkan jamuan makan, untuk tamu mereka, di pesta yang sederhana. Pesta pernikahan yang hanya dihadiri para pekerja yang membangun hotel milik Devan, asisten Daniel dan beberapa orang sahabat Devan.


"Selamat ya Devan, Shanum...!" ucap Farah saat menghadiri pesta pernikahan mantan kekasihnya itu.


"Terimakasih sudah datang Farah !" sambut Devan tulus.


"Istrimu cantik...!" pujinya, Shanum hanya tersenyum kecil. Shanum memang cantik dalam balutan kebaya brokat tipis berwarna cream dengan kemben didalamnya. Baju itu dipesan Devan seminggu sebelum menikah saat pergi ke kota.


"Makasih kak ..!"


Mak ningsih serta tetangga Shanum juga hadir dalam pesta itu.


"Selamat atuh neng geulis, cantik pisan !" kata Mak Ningsih dengan logat Sundanya yang kental.


"Makasih, Mak ! Shanum memeluk wanita yang telah membantunya sejak dia menjadi yatim piatu.


"Mak,nggak nyangka...neng menikah dengan orang kaya, semoga bahagia ya neng !"


Setelah pesta usai, Shanum tinggal dirumah minimalis warisan ayahnya, yang telah di renovasi Devan sebelum mereka menikah.


Devan juga melengkapi rumah itu dengan perabotan lengkap dan juga baru.


Shanum sudah selesai membersihkan diri sebelum merebahkan tubuhnya diranjang medium yang baru diganti. Sebenarnya Devan ingin membeli ranjang yang berukuran besar. Namun, kamar itu tidak muat untuk menampungnya. Terpaksa mereka membeli ranjang yang menengah saja.


Devan pun segera membersihkan tubuhnya dikamar mandi, dirinya tidak sabar untuk segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami dimalam pertama mereka.


Shanum menarik nafasnya perlahan, dadanya berdebar dengan kencang, saat melihat Devan keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya saja. sementara dadanya yang bidang terpampang nyata didepannya. Shanum memalingkan wajah, yang sepertinya sedang bersemu merah. Devan berbaring disampingnya. Lagi-lagi Shanum menghirup aroma tubuh Devan yang membuatnya melayang. mengundang hasratnya untuk segera bercinta.


"Shanum, kau sudah siap sayang !" Devan berbisik mesra di telinganya. Wajah pria itu sudah berada diceruk lehernya, menciumi pundaknya dari belakang.


Shanum merasakan sensasi yang luar biasa, saat pria tampan yang telah menjadi suaminya itu, membelai sekujur tubuhnya dengan lembut dan perlahan.


"Kak,...apakah rasanya sakit ?" tanya Shanum polos, saat Devan sudah melucuti semua pakaiannya.


"Awalnya mungkin, tapi kalau sudah terbiasa tidak akan sakit lagi, aku akan melakukannya perlahan. " kata Devan mencoba menenangkan Shanum yang nampak tegang.


Shanum mengangguk. Sebentar lagi dia bukan lagi gadis perawan, tapi sudah menjelma menjadi wanita dewasa. Shanum menggigit bibir bawahnya saat Devan telah mengambil haknya sebagai seorang suami. Shanum menjerit tertahan.


"Sakit kak !" gumam Shanum lirih.


"Sebentar lagi sakitnya akan hilang, sayang...!" Devan bergerak perlahan, agar Shanum merasa nyaman, karena istrinya masih perawan. Hingga akhirnya Shanum terbiasa dan mulai Merasakan kenikmatan yang luar biasa. Shanum merasa ribuan kupu-kupu terbang bersamanya. Tubuhnya melayang menuju nirwana, percintaan mereka baru saja dimulai.


"Ahh, kak !" Shanum mendesah, mengeluarkan suara -suara laknatnya. Devan tampak semakin sexy dengan tubuh yang sudah basah oleh keringat.

__ADS_1


Kamar kecil itu menjadi saksi indahnya malam pertama mereka. Lenguhan panjang keduanya mengakhiri percintaan panas itu dan menghempaskan keduanya dalam buaian malam yang dingin dan menggairahkan.


__ADS_2