Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
KEKESALAN JASMINE


__ADS_3

Sementara itu, dirumah kediaman keluarga Mahendra. Nyonya Sonia sedang mengadakan pesta syukuran untuk menyambut kelahiran putra Devan dan Vanya, yang digadang-gadang akan menjadi penerus keluarga kaya itu. Seorang anak laki-laki bernama Darren Agya Mahendra.


Nyonya Sonia, sibuk menyambut para tamu yang hadir, wajahnya terlihat bahagia, sambil memamerkan bayi laki-laki itu pada teman-temannya..


"Wah, anaknya ganteng sekali ya!" seru wanita bertubuh gemuk bernama Nyonya Dilla.


"Iya, lucu sekali, siapa namanya jeng?"


"Namanya Darren, Vania, sini nak!" Nyonya Sonia mengajak Vania mendekat kearahnya.


"Ada apa, Mam?" tanya Vania, sambil mengambil bayi Darren dari pangkuan Nyonya Sonia.


"Kenalin, ini teman-teman Mama!" Vania menyalami tamu-tamu mertuanya satu per satu.


"Wah, istri Devan cantik, ya Jeng,kayak model," puji Bu Mira.


"Iya dong, jeng," Nyonya Sonia tersenyum bangga.


Sementara itu, Devan sibuk melayani para relasinya yang datang untuk mengucapkan selamat.


Devan menyadari, ketidak hadiran putri-putrinya.


"Jasmine dan adik kembarnya, mana bi?" tanya Devan saat Bibi Surti lewat didepannya.


"Mereka dikamar, Tuan!" jawab Surti.


"Kenapa mereka tidak turun?".


"Saya tidak tahu, Tuan,"


Devan kemudian pergi kekamar anak-anaknya dilantai atas. Jasmine sibuk dengan gadgetnya. Tanpa memperdulikan Devan yang masuk kedalam kamar.


"Jasmine, kamu sudah makan, nak?" tanya Devan lembut. Jasmine menoleh sesaat dan kembali fokus pada ponselnya.


"Aku tidak lapar, ayah," jawab Jasmin ketus.


"Jasmine, ikutlah berpesta dibawah banyak anak-anak seusiamu, kamu bisa berkenalan dengan mereka," bujuk Devan, agar Jasmine mau ikut turun ketempat pesta.


"Aku tidak mau, ayah....ayah jahat, ayah tidak peduli lagi padaku dan adik-adikku, ayah hanya peduli pada anak laki-laki ayah yang baru lahir itu," protes Jasmine.


Devan diam sejenak, putri kecilnya itu sudah bisa meluapkan emosinya. Sejak Shanum pergi dari rumah itu, Jasmine menjadi anak yang introvert. Disekolah pun, Jasmine kerap membuat keributan, bahkan tak segan untuk berkelahi dengan orang yang telah menyakiti hatinya.

__ADS_1


"Sayang, ayah tidak pernah membeda-bedakan kalian, kalian tetap anak ayah," Devan mencoba mengusap rambut putri sulungnya itu, namun Jasmine menepisnya.


"Pokoknya, Jasmine tidak mau, Ayah," teriak Jasmine kesal. "Jasmine benci sama ayah, Jasmine ingin ketemu Bunda!" Anak perempuan sulung Devan itu menangis sejadi-jadinya.


"Ya udah, kalau Jasmine tidak mau, Ayah minta maaf, Ayah tidak akan memaksa Jasmine lagi, " Devan menarik nafas panjang, dan kemudian meninggalkan Jasmine yang menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


Jasmine sekarang, bukan lagi Jasmine yang lucu dan menggemaskan. Jasmine tumbuh menjadi anak yang pembangkang dan sulit diatur. Kehidupan keluarganya yang rumit membuat Jasmine dewasa sebelum waktunya. Dia mulai memahami, apa yang terjadi pada Bunda Shanum, hingga Sang Bunda harus pergi dari rumah itu, dengan berlinangan air mata.


"Bunda, aku kangen Bunda!" Isak Jasmine dalam tidurnya.


Setelah dari kamar Jasmine, Devan masuk kekamar Shera dan Shena. Kedua anak itu saling diam dan bicara. Sikembar sudah berusia 5 tahun saat ini.


"Shera, Shena....!" panggil Devan lembut, kedua putri kembar itu, tampak gembira menyambut kedatangan ayahnya.


"Ayah...!" Shera duduk dipangkuan Devan, sedangkan Shena memeluk pundak Devan dari belakang.


"Anak ayah yang cantik, kenapa tidak ikut turun kebawah, ada banyak makanan disana!" Ucap Devan.


"Kami tidak suka pesta ayah, kami disini saja," ujar Shena.


"Kalian tidak mau melihat adik Darren?" kata Devan lagi.


Keduanya menggeleng serentak.


"Aku juga mau bertemu Bunda, ayah!"lanjut Shena.


Devan hanya diam, entah kenapa ketiga putrinya itu, tiba-tiba ingin bertemu dengan Bunda mereka, sementara Devan tidak tahu Shanum berada dimana. Menurut Daniel, Shanum tidak pulang kerumahnya, rumah itu kosong.


"Baiklah, nanti ayah akan mencari Bunda kalian, tapi ayah tidak janji, untuk segera menemukan nya," ucap Devan dengan wajah berkerut.


"Terima kasih, Ayah!" seru sikembar sambil memeluk Devan dengan tangan kecil mereka.


Devan menyadari bahwa hubungan Vania dengan anak-anaknya tidak begitu baik. Vania bahkan terang-terangan tidak mau mengurus ketiga putri Devan hasil pernikahannya dengan Shanum. Hal itulah yang membuat, Jasmine tidak menyukai ibu sambungnya itu.


Di Sekolah Dasar, tempat Jasmin menuntut ilmu, gadis itu dikenal sebagai anak yang pemarah dan kasar. Nyonya Sonia menjadi kewalahan setiap kali, kepala sekolah, memanggilnya datang, karena lagi-lagi Jasmine membuat ulah.


"Van, kamu pulang sekarang, mama mau bicara !" sahut Nyonya Sonia memanggil Devan ponselnya.


"Ada apa Ma?" tanya Devan memijit kepalanya yang pusing.


"Itu, anakmu Jasmine berulah lagi, barusan Kepala sekolah menelpon, kamu saja yang datang ke sekolah, mama capek, ngurusin anakmu itu," gerutu Mami Sonia.

__ADS_1


"Ya Ma, aku akan kesekolah Jasmine, sekarang," jawab Devan. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Ini bukan pertama kalinya Jasmine berulah.


Kekacauan apalagi yang dibuat Jasmin hingga, kepala sekolah harus menyuruh orangtua Jasmin untuk datang.


Devan masuk keruangan kepala sekolah, disana sudah menunggu kepala sekolah, dengan seorang guru BK. Jasmine tampak duduk sambil menunduk disudut kursi dihadapan kepala sekolah. Devan duduk disamping Jasmine dan merangkulnya dengan erat.


"Maaf, sebelumnya pak Hari, apa yang telah diperbuat Jasmine kali ini?" tanya Devan tanpa basa basi.


"Pak Devan, Jasmine berkelahi dengan teman sekelasnya, bernama Farhan, sekarang anak itu harus dirawat dirumah sakit, karena Jasmine memukul kepala Farhan dengan batu," terang Kepala Sekolah.


Devan memandang wajah putrinya yang tampak tertekan.


"Dia yang duluan, Ayah! dia mengambil bekal makan siangku, dan membuangnya ketempat sampah, aku marah dan memukulnya, apa aku salah, Ayah!" jawab Jasmine jujur.


"Apapun alasannya, kekerasan tidak boleh dilakukan dimanapun, Jasmine! Kamu harus meminta maaf pada Farhan !"ucap DEVAN.


"Aku tidak mau, Ayah! Dia yang salah, seharusnya dia yang meminta maaf pada Jasmine !" Anak itu memang keras kepala.


"Jasmine! tidak baik begitu sayang," Devan berusaha membujuk putri sulungnya itu.


Namun Jasmine tetap menolak untuk minta maaf.


"Kalau begitu, Jasmine, kamu bapak skor selama 1 Minggu!" ujar Kepala Sekolah.


Jasmine hanya diam.


"Baiklah, pak! saya atas nama orangtua Jasmine, mohon maaf pada bapak dan juga keluarga Farhan. Berapa pun biaya rumah sakit, biar saya yang tanggung" ucap Devan tulus.


"Baik pak Devan, nanti saya sampaikan kepada orang tua Farhan, terimakasih untuk kedatangannya," Kepala Sekolah menyalami Devan, Devan menyambutnya dengan hangat.


" Kalau begitu, saya permisi Pak! Ayo Jasmin, kita pulang!" ajak Devan.


Jasmin berjalan cepat mengejar langkah kaki ayahnya, dia masuk kedalam mobil Devan, tanpa bicara apa-apa lagi. Sunyi.


"Kita kemana Yah?" tanya Jasmine saat mobil itu tidak melewati jalanan untuk pulang kerumah, melainkan ke sebuah restoran cepat saji.


"Ayo sayang, Jasmine mau makan apa?"


"Jasmin mau ayam goreng ,Yah," jawab Jasmine, gembira.


"Sama Es krim juga, ya Ayah!" pinta Jasmine.

__ADS_1


Devan pun tersenyum melihat Jasmine akhirnya ceria kembali.


.


__ADS_2