Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
PERPISAHAN


__ADS_3

"Nyonya Shanum....!" suara Bi Arma, membangunkan Shanum dari mimpinya.


"Anak-anak mana bi?" tanya Shanum lirih.


"Non Jasmin, sudah berangkat ke sekolah, nyonya, kalau non Shera dan Shena ada dikamar mereka," kata bibi Arma.


"Jadi anak-anak tidak ada disini, bi?"tanya Shanum kecewa.


"Tidak, nyonya! Nyonya tak sadarkan diri dari semalam."


Shanum terhenyak, tubuhnya terasa semakin lemah.


Kebahagian yang baru saja dia rasakan, ternyata hanyalah sebuah mimpi.


"Bunda...." sebuah kata bermakna yang selalu ingin dia dengar dari anak-anaknya, sebuah kata yang mengakui bahwa dirinya adalah seorang ibu, seperti halnya perempuan lain diluar sana.


"Sarapan dulu, Nyonya!" bi Arma menyodorkan semangkok bubur ayam, dan segelas susu formula untuk ibu hamil.


"Aku tidak mau makan, bi!" ujar Shanum menolak, makanan itu.


"Nyonya harus sehat, kuat! kasihan bayi yang ada dalam rahim nyonya, dia juga butuh makan," ujar Bi Arma.


"Aku ingin pergi dari rumah ini," gumam Shanum sedih


"Untuk keluar dari rumah ini, juga butuh tenaga, nyonya! Anda tidak akan kuat, berjalan jika tidak punya tenaga," nasehat Bi Arma.


Wanita itu benar juga, dia harus sehat dan kuat, agar ia bisa keluar dari rumah yang sudah seperti neraka baginya.


Shanum merindukan ayah dan ibunya.


"Ayah...! ibu....! ajak aku pergi bersama kalian!" gumamnya lirih.


Sementara itu, didalam keluarga Vania, keluarga itu sedang bergembira mendengar kehamilan Vania. Devan sudah menyiapkan pesta kecil-kecilan dan menyiapkan semua kebutuhan Vania, untuk menyambut kedatangan bayi kecil yang diprediksi berjenis kelamin laki-laki.


"Van, Mama bilang, Shanum hamil lagi, apa benar? tanya Vania, sambil menyandarkan tubuhnya dipundak pria itu.


'Iya, aku udah malas ngurusin dia Vania, biarkan saja!" ucap Devan.


"Mama Sonia bilang, kamu akan menceraikan Shanum secepatnya,kapan?" Vanya merengek manja.


"Begitu anaknya lahir, sayang! sabar ya, aku juga sudah merasa jenuh bersama dia. Shanum tidak pernah bisa mengurus dirinya sendiri,aku jadi malu, kalau ngajakin Shanum ke undangan pesta, relasi-relasi bisnisku," dengus Devan kesal. Vania bersorak dalam hati, dia akan memiliki Devan seutuhnya.


"Mulai sekarang, kamu bisa ajakin aku kepesta temanmu, Van. Aku nggak bakalan malu-maluin kamu," sahut Vania manja.


Devan mengangguk, sambil mendekap Vania dalam pelukannya. Vanya memang terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Dia mempunyai segalanya, tubuh bagus, cantik dan sexy. Namun, Vanya mempunyai sifat dan attitude yang tidak baik. Suka merendahkan orang lain dan juga sombong.


Enam Bulan Kemudian.


Shanum menata pakaiannya yang akan dia bawa kerumah sakit. Perutnya semakin lama sudah semakin sakit dan sulit untuk bergerak, sepertinya Shanum akan segera melahirkan.


"Nyonya....! nyonya mau berangkat kerumah sakit, sekarang?" tanya Bi Arma sambil membantu Shanum untuk berdiri.


"Iya Bi....tolong angkat koperku keluar ya!" pinta Shanum.

__ADS_1


"Baik, Nyonya! apa perlu saya panggilkan pak Tono, untuk nganterin nyonya kerumah sakit?" bi Arma tampak mencemaskan majikannya.


"Tidak perlu bi, aku naik taksi saja!" ujar Shanum segera keluar dari rumah itu.


"Baiklah, hati-hati, Nyonya Shanum!" Bi Arma mengantar Shanum hingga keluar gerbang rumah besar itu.


Shanum berangkat seorang diri, menuju rumah sakit, tempat dia melahirkan Jasmin dan sikembar Shera dan Shena sebelumnya.


"Shanum, sudah merasa sakit, sayang!" dokter Hana menyambut kedatangan Shanum dengan senyum ramahnya.


"Sudah, dokter! sepertinya aku siap untuk melahirkan," rintih Shanum, saat perutnya mengalami kontraksi yang hebat.


"Ayo kita periksa! Berbaringlah!" Shanum menurut. Sakit itu makin lama, makin terasa.


Dokter Hana, bersama seorang asistennya. membantu proses persalinan Shanum dengan segera. Proses persalinan itu hanya berlangsung selama 15 menit, karena Shanum melahirkan secara normal.


"Bayinya perempuan, Shanum!" ucap dokter Hana, Suara lirih dokter Hana seolah petir yang menggelegar, di telinga Shanum.


Wanita malang itu menutupi kedua telinga dengan kedua tangannya.


"Dia cantik, seperti ibunya!" ujar sang perawat yang membantu membersihkan tubuh bayi yang masih merah itu.


Shanum memejamkan kedua matanya, dia tidak ingin melihat bayi itu.


"Jauhkan dia dariku, Suster!" Shanum terlihat kacau.


"Tapi anda harus segera menyusuinya, Nyonya!" Seru perawat bernama Laura.


Perawat itu terdiam, lalu dokter Hana berkata,"Laura, bawa bayi itu ke ruangannya, biar aku yang bicara dengan Shanum."


"Baik, Dokter!" perawat bernama Laura itu segera membawa bayi mungil itu keruang perawatan bayi.


Dokter Hana baru saja selesai, mengobati Shanum, dan memberikan suntikan vitamin.


Dua orang perawat telah memindahkan Shanum keruang perawatannya.


"Shanum, kau tidak ingin menyusui bayimu, bukankah kau ingin menjadi seorang ibu yang seutuhnya," ujar dokter Hana lembut.


"Percuma dok,...mereka akan mengambilnya lagi dariku," Isak Shanum. Dokter Hana hanya bisa.memandang Shanum dengan iba. Shanum sudah menceritakan semua yang terjadi pada dirinya, sejak dia tinggal di keluarga Mahendra.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang ?"


tanya dokter Hana lagi.


"Aku hanya ingin, dokter mau mencarikan orang tua Adopsi untuk anak itu, aku yakin dia akan bahagia bersama orang lain, dari pada tinggal dirumah yang seperti neraka itu!" Shanum menatap nanar keluar jendela kamar.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan," sahut dokter Hana lirih.


...----------------...


Disinilah Shanum sekarang, disebuah rumah kecil peninggalan orang tuanya di kota Bandung. Rumah yang pernah menjadi saksi indahnya awal pernikahan bersama Devan Agya Mahendra. Rumah itu masih terawat dengan baik, karena Shanum, meminta Mak Ning, merawat rumahnya, tentu saja dengan imbalan uang yang cukup.


"Shanum, kapan pulang?" Mak Ning, yang baru pulang dari pasar, kaget melihat Shanum sudah berada dirumahnya.

__ADS_1


"Baru saja, Mak! Mak, apa kabar?" Shanum memeluk wanita yang telah menjadi pengganti ibunya yang telah tiada sejak kecil.


"Mak sehat-sehat saja, Num, seperti yang kamu lihat. Kamu pulang sendirian, Num? Suami dan anak-anakmu mana?"cecar Mak Ning.


"Suami dan anak-anak tidak ikut, Mak. Aku kangen dengan rumahku!" sahut Shanum melow.


"Oh, ya udah,istirahat saja dulu, Mak mau beresin rumah," ujar Mak Ning, masuk kedalam rumahnya yang bersebelahan dengan Shanum.


"Ya Mak!" jawab Shanum dengan senyum samar.


Sebenarnya, Shanum ingin mencurahkan segala kegalauan hatinya pada Mak Ning. Juga tentang perceraiannya dengan Devan. Tapi dia tidak ingin Mak Ning, ikut kepikiran dengan masalahnya.


Shanum sendirian sekarang, dia harus mulai berpikir untuk menata hidup, setelah berpisah dari suaminya.


Mungkin Shanum harus segera mencari pekerjaan, karena uang di dompetnya sudah mulai menipis.


Setelah beristirahat seharian, Shanum pergi ke cafe milik bibi Soraya, tempat dulu dia pernah bekerja. Dia kaget saat sampai di cafe, yang telah berubah menjadi sebuah bar. Dengan pelayan yang memakai pakaian sexy dan kurang bahan.


"Mau minum, nona! silahkan masuk!" sapa seorang pria bertubuh kekar, yang berdiri didepan pintu masuk bar.


"Tidak, kak! Maaf,apa boleh saya bertemu dengan bibi Soraya?" tanya Shanum ragu.


"Maaf nona, bos saya namanya, Pak Angga, kalau Bu Soraya saya kurang tahu, yang saya tahu, bangunan ini sudah dibeli oleh Pak Angga sekitar 2 tahun yang lalu," jawab pria besar itu.


"Oh begitu ya, maaf....saya permisi!" Shanum berbalik, dia tidak tau harus kemana.


Pandangannya terhenti pada sebuah hotel bintang 5 yang berdiri megah dihadapannya. Hotel milik Keluarga Mahendra.


"Shanum...!" suara seorang wanita mengagetkan Shanum dari arah belakangnya.


"Mila, kau mengangetkan ku, kapan kamu pulang dari Jakarta?" tanya Shanum. Mila adalah sahabat Shanum saat mereka duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Mila ikut ibunya ke Jakarta yang menjadi asisten rumah tangga disana.


"Sudah hampir seminggu aku disini, Num, ibuku meninggal," sahut Mila sedih.


"Oh, aku turut berduka cita, Mila


! lalu apa kau akan kembali ke Jakarta?"


"Iya, aku akan menggantikan ibu bekerja disana, Num. Kamu kerja apa sekarang?" tanya Mila.


"Tidak ada, Mil...!" jawab Shanum menggeleng.


"Kebetulan, teman majikanku, mencari baby sister untuk anaknya," kata Mila.


"Baby sister?" ulang Shanum.


"Iya, teman majikan ku itu punya anak bayi baru lahir, dia butuh baby sister, karena kedua orangtuanya sibuk bekerja, kalau kamu mau, kamu bisa ikut denganku ke Jakarta, Minggu ini!" kata Mila.


"Akan aku pikirkan, Mil, nanti kalau aku tidak punya kerjaan disini, aku akan ikut kamu ke Jakarta."


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama berpikir ya Num, nanti keburu ada yang masuk!" ujar Mila berharap.


"Baiklah...!" Shanum mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2