
Devan terpaksa menjual semua aset yang dimilikinya, rumah, mobil serta perhiasaan yang dimiliki Sonia dan istrinya Vania, untuk menutupi hutang-hutangnya ada Harland, dan Devan juga harus merelakan perusahaannya di ambil alih oleh perusahaan Harland, dengan mengakuisisi perusahaan itu.
Dengan berat hati, Sonia meninggalkan semua kemewahan hidupnya, tinggal disebuah rumah minimalis, yang dibeli Devan dengan hasil penjualan rumah dan barang berharga lainnya.
"Mama, untuk sementara kita tinggal dirumah ini ya, mama yang sabar, aku akan bekerja untuk menghidupi kita semua, "
"Ya Van, mama akan mencoba untuk bersabar," jawab Sonia pasrah.
"Semoga kita bisa melewati semua ujian ini, Ma, aku yakin aku bisa," ujar Devan menguatkan Sang Mama. Sonia mengangguk.
...---------------...
Sementara ini di suatu tempat yang jauh di luar kota, dua orang wanita, sedang duduk di dalam sebuah Club malam, mereka tertawa dengan riang sambil meneguk minuman beralkohol di depannya. Mereka adalah Vania dan Monica.
"Benar-benar brengsek Lo, Van, emang berapa banyak duit perusahaan Devan Lo embat?" tanya teman baiknya Monica, setelah mereka berjanji bertemu di Surabaya.
"Lumayan, bisa buat membiayai hidup gue selama 2 tahun kedepan," ujar Vania tertawa.
"Trus, bagaimana dengan putra Lo, Darren?"
"Biar saja, si bodoh itu yang akan mengurusnya." Jawab Vania santai.
"Lo akan mencari kerja di Surabaya, Van?" tanya Monica.
"Kerja?? Ha...ha..ha, Monica....Monica, buat apa capek-capek kerja, kalau kita punya modal tubuh yang seksi untuk merayu pria-pria kaya," jawab Vania tertawa keras, dia sudah hampir teler dengan sebotol minuman di tangannya.
"Oke kalau begitu, gue juga bisa memanfaatkan Lo juga Vania, dasar ******, " gumam Monica tersenyum samar. Dia menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Hallo, Pak Arya, gue punya barang baru nih, mantan model kayak gue, cantik, sexy...gue jamin Lo suka, oke! 50 juta, deal. Jemput kita di Club StarOne, Oke bye," Monica tertawa renyah,
"Selamat bersenang-senang Vania, aku juga akan menikmati malam ini dengan uang hasil kerjamu!"
Tak lama kemudian 2 orang berpakaian serba hitam membawa Vania pergi dari Club dan.membawanya entah kemana.
Vania sadar saat keesokan harinya, dia mendapati dirinya sudah berada di sebuah hotel dalam keadaan tanpa pakaian sehelai benangpun. Dan segepok uang diatas ranjang hotel.
"Apa yang terjadi semalam, gue minum sampai mabuk, ...tapi siapa yang telah meniduri gue, Monica gue harus tanya Monica," Vania buru-buru mengenakan pakaiannya dan keluar dari kamar hotel.
"Monica, Lo tahu nggak siapa yang sudah membawa gue ke hotel," tanya Vania begitu sampai di rumah kontrakan Monica.
"Mana gue tahu, gue juga mabuk semalam!" jawab Monica beralasan.
__ADS_1
"Lo diajak juga?"
"Ya, begitulah, gue juga baru pulang dari hotel!" jawab Monica santai.
Vania hanya mendengus kesal, Sementara Monic tersenyum tipis, sambil memainkan ponselnya, dia mengirimkan foto-foto Vania saat di Club dan juga rekaman video mesumnya di hotel ke ponsel Devan.
Devan mengetatkan rahangnya, matanya membelalak, melihat video Vania yang dikirim Monica lewat pesan WhatsApp Nya.
"Dasar ******, sekali ****** tetap ******, aku akan segera menceraikanmu Vania!" geram Devan penuh amarah.
Devan membalas pesan dari Monica,
"Monica, bilang pada wanita itu, aku Devan Mahendra telah menceraikannya, tunggu saja surat cerai dari pengadilan," tulis Devan dalam pesan singkatnya.
Monica tersenyum penuh kemenangan. Kemudian dia menuliskan satu kalimat lagi yang membuat Devan memerah.
"Sebaiknya, kamu tes DNA lagi deh, Van! Karena sebelum menikah denganmu, Vania sudah berhubungan dengan Hary, kekasihnya, kurasa Darren bukan anakmu!" hasut Monica.
"Aku pasti akan melakukannya, Monica! Oh ya kurasa kalian sama saja, sama-sama ******," komentar Devan menutup aplikasi WhatsApp Nya, dan memblokir nomor Monica.
"Sialan kamu Devan!" maki Monica sambil membanting ponselnya.
"Nggak ada, hanya sebuah pesan dari suami Lo,"
"Dia bilang apa?"
"Dia akan menceraikanmu secepatnya!"
"Oh ya, tidak masalah!" jawab Vania santai.
...----------------...
Devan dan ibunya di kejutkan dengan kedatangan keluarga Harland dan anak-anaknya, pagi Minggu itu, putri-putrinya menghambur dalam pelukannya.
"Ayah...!" Jasmine memeluk Devan dengan erat. "Jasmine kangen sama Ayah!"
"Jasmine, apa kabar sayang? Ayah juga kangen sama kalian. Devan mengecup lembut pucuk kepala putri sulungnya itu.
"Aku dan adik-adikku baik, Ayah....bagaimana dengan Ayah," tanya Jasmine.
"Ayah juga sehat, " Devan tersenyum memeluk si kembar yang juga memeluk kakinya. Devan tersenyum haru, dia sangat merindukan ketiga putrinya itu, namun dia tidak berani menganggu kebahagian mereka di rumah Harland.
__ADS_1
"Silahkan duduk, Bu Sarah, Nak Harland, Shanum! Maaf, rumah kami sempit!" Sonia sedikit gugup dengan kehadiran keluarga mantan menantunya itu.
"Tidak apa-apa, Ma! kami datang hanya untuk mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Papa Adam. Maaf kami baru bisa datang, karena aku baru saja habis melahirkan!" kata Shanum ramah.
"Oh ya, selamat ya nak! Bayimu laki-laki atau perempuan?" tanya Sonia ingin tahu.
"Laki-laki, Ma! Itu di gendong Mommy Sarah!" Shanum menunjuk bayi mungil yang terlelap dalam gendongan Mommy Sarah. Devan ikut menoleh pada bayi mungil itu.
"Tampan sekali ya, siapa namanya?"
"Gabriel Ma," jawab Shanum tersenyum cerah.
Sonia mengangguk, dia merasa bersalah telah berbuat kasar terhadap Shanum selama ini.
"Shanum, maafkan Mama ya! Mama sudah banyak salah terhadapmu!" ujar Mama Sonia menangis memeluk Shanum.
"Sudahlah Ma, lupakan! Semua sudah berlalu, aku sudah memaafkan kalian semua!" kata Shanum.
"Terimakasih, nak! Kamu memang berhati mulia, Shanum. Kamu pantas mendapatkan kebahagian," ujar Sonia lagi.
Shanum mengangguk, Harland tampak berbincang-bincang dengan Devan, di sudut ruangan. Sepertinya pembicaraan mereka sangat serius.
"Jika kau butuh pekerjaan, kau bisa kembali mengurus perusahaanmu yang sudah di akuisisi itu, Devan!" kata Harland serius.
"Benarkah, Terimakasih Harland, Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untukmu!" kata Devan tampak berseri-seri.
"Kau bisa menggunakan fasilitas kantor, dan ajak Mama Sarah, untuk pindah ke rumah dinas yang sudah disiapkan perusahaan," kata Harland lagi.
"Terimakasih sekali lagi, Harland, aku tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikan kalian, Aku bahagia, Shanum akhirnya menemukan pria yang lebih baik dariku," Devan merangkul Harland dengan hangat
Di akhir pembicaraan, Devan tampak tersenyum cerah, dan menjabat tangan Harland dengan erat. Shanum penasaran dibuatnya, tentang apa yang sedang mereka bicarakan.
"Bunda, apa boleh, kami main dulu sama ayah disini?" tanya Jasmine saat Shanum dan yang lainnya, izin untuk pulang.
"Jika ayah tidak sibuk, boleh?" kata Shanum.
"Aku tidak sibuk, Shanum! Aku akan mengajak Anak-anak bermain ke pantai, nanti malam aku akan mengantar mereka kembali pulang," kata Devan tersenyum bahagia.
"Baiklah, kita pulang dulu, kak, Ma!" Shanum berpamitan kepada mantan suami dan juga mantan mertuanya.
"Ya, hati-hati!" Sonia melambaikan tangannya.
__ADS_1