Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
KEKESALAN VANIA


__ADS_3

Monica menepati janjinya, untuk mengantarkan Jasmine kerumah Harland. Namun, baru saja dia keluar dari rumah, Nyonya Sonia datang bersama Devan untuk menjemput Jasmine ke rumah Monica.


"Monica, berikan Jasmine pada kami!" kata Devan memohon.


"Tidak bisa Devan, aku sudah berjanji akan mengantar Jasmine kerumah Harland!" seru Monica keras.


"Monica, Jasmine itu anaknya Devan, bukan anak Harland, jadi yang berhak mengambil dia pasti Devan," ujar Mama Sonia marah.


"Nyonya, tapi anak ini ingin kerumah Harland untuk bertemu Bundanya!" Monica tetap kekeuh untuk tidak menyerahkan Monica pada Devan.


"Jangan sampai aku melaporkanmu pada polisi, Monica! Aku bisa saja melaporkanmu dengan tuduhan penculikan anak!" ancam Nyonya Sonia, sambil menggulirkan ponselnya, seolah-olah ingin menelpon pihak kepolisian


"Ya, baiklah! Jasmine kamu kembali sama ayahmu ya, Tante nggak bisa mengantarmu ke rumah Bunda Shanum," ucap Monica dengan wajah kecewa.


Kecewa karena uang 1M yang dijanjikan Harland yang sudah didepan mata hilang sudah.


"Ayah, aku nggak mau pulang,"rengek Jasmine saat sudah berada didalam mobil bersama Ayah dan Omanya.


"Jasmine, tidak baik bagimu berada diluar rumah seperti ini, bagaimana kalau kamu bertemu dengan orang jahat," ucap Devan.


"Aku mau bertemu Bunda, Ayah! Aku ingin Bunda!" Air mata mengalir di pipi gadis kecil itu.


"Baiklah, Ayah akan mengantarmu bertemu Bunda, tapi setelah itu kau kembali kerumah, tinggal bersama Ayah!" kata Devan tegas.


Namun Jasmine diam tak menjawab.


Devan mengantar Jasmine, kerumah Harland. Shanum menyambutnya dengan wajah bahagia. "Jasmine....!" wanita itu memeluk putrinya erat.


"Bunda....!Jasmine kangen sama Bunda! Jasmine mau tinggal disini sama Bunda, boleh ya!" ratap Jasmine begitu menyayat hati.


"Boleh sayang, Jasmine boleh tinggal disini, kapanpun Jasmine mau, tapi Jasmine harus izin sama Ayah dan Oma dulu ya!" desis Shanum.


"Ya, Bunda! Jasmine menyeka air matanya, dengan punggung tangannya. Shanum membantu.membersihkan wajah yang basah oleh air mata dengan sapu tangannya.


"Duduk dulu ya, Sayang,!" Shanum mendudukkan Jasmine di Sofa. Harland mendampingi Shanum duduk disana sambil mengapit Jasmine diantara mereka. Devan memandang mereka dengan tatapan cemburu. Dia memalingkan wajahnya saat Harland merangkul Shanum dengan mesra.


"Kak, biarkan Jasmine tinggal disini ya! untuk beberapa hari, " pinta Shanum pada Devan.


"Baiklah, tapi hanya 3 hari saja Shanum, hari Senin Jasmine harus masuk sekolah!"


"Baik Kak!" jawab Shanum singkat.

__ADS_1


"Kami yang akan mengantar Jasmine pulang nanti, Devan!" kata Harland.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu!" pamit Devan dan segera meninggalkan kediaman keluarga Harland.


...----------------...


Sementara itu, Monica tampak marah-marah di telepon pada Vania.


"Heh, Vania! Lo kan yang ngasih tahu Devan kalau Jasmine ada bersama gue" teriak Monica.


"Ngapain Lo nuduh gue, mana gue tahu Devan dan mamanya datang ketempat Lo, " sanggah Vania.


"Lo tahu nggak, gue kehilangan duit 1M yang dijanjikan Harland!"


"Hah, itu sih derita Lo Monica, bukan urusan gue, ngerti Lo!" sahut Vania sambil menutup teleponnya sepihak.


"Awas Lo ya, gue bakal laporin perselingkuhan Lo dengan dokter gadungan itu!" teriak Monica kesal.


Monica membuka ponsel ditangannya, mencari foto-foto kebersamaan Vania dengan seorang pria yang mengaku seorang dokter. Pria itu memang tampan dan berkharisma, tapi sayang dia hanyalah seorang pengangguran dan bermulut besar.


Entah sihir apa yang dipakainya, hingga Vania bertekuk lutut didepan pria itu. Pria itu bernama Hary.


"Oke Vania, bersiaplah menghadapi detik-detik kehancuranmu, kariermu, rumah tanggamu dan juga nama baikmu, tapi sebelum aku sebar video ini di media, sebaiknya aku manfaatin aja dulu, lumayan bisa buat beli tas limited editions, ha...ha...!" Monica tertawa jahat. Wanita itu mengirim video mesum itu ke ponsel Vania, melalui aplikasi WhatsApp.


Vania yang sedang berada di rumah Mama Devan, kaget melihat video itu, dari nomor yang tidak dikenal.


"Kamu tidak ingin video ini tersebar, Vania?" sebuah caption tertulis di bawah video itu.


"Siapa sih, yang mengirim video ini, kalau sampai mama Sonia tahu, habis gue!" gumam Vania gelisah.


"Kenapa Vania? kenapa kamu gelisah begitu?" tanya Mama Sonia curiga.


"Tidak Mam, aku permisi ke kamar mandi sebentar ya, Mam!" Vania buru-buru keluar dari ruang tengah dan berlari ke kamar mandi.


Vania membuka kembali aplikasi hijau nya dan menghubungi nomor kontak yang telah mengirimkan Video asusila itu.


"Hallo, ini siapa?" tanya Vania setengah berbisik.


"Gue, Lo nggak perlu tahu siapa gue, ...kalau Lo pingin video itu aman, Lo kirimin gue duit 500 juta!" jawab seseorang dari seberang panggilannya.


"Gila Lo ya, Lo pikir 500 juta sedikit, gue nggak mau!" ujar Vania geram.

__ADS_1


"Ya udah, tinggal gue pencet tombol kirim, dunia Lo hancur!" ancam orang misterius tersebut.


"Ya....ya, nanti gue transfer, mana nomor rekeningnya?" ucap Vania kesal.


"Lo kirim aja ke nomor WhatsApp ini!"


"Emang bisa?" tanya Vania


"Bisa lah, sekarang pake aplikasi Sana, bego! oke gue tunggu Vania, thank you, bye!" sahut suara di seberang panggilan Vania yang ditutup sepihak.


Vania kesal dan marah, dia mengecek uang tabungannya di mobile banking, dan mengirimnya ke nomor yang tertera di aplikasi WhatsApp.


Vania menarik nafas dengan kasar, dia keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai.


"Dasar brengsek!" gerutu Vania. Kemudian dia keluar dari rumah mertuanya tanpa memberitahu sang pemilik rumah.


Satu-satunya orang yang dicurigai Vania sekarang adalah Hary, karena beberapa hari yang lalu, pria itu kesal karena Vania tidak lagi menemuinya. Dan mengancam akan memberitahu Devan tentang hubungan mereka.


Vania menghubungi Hary dengan ponselnya, namun panggilannya ditolak oleh pria itu. Vania kesal, akhirnya dia pergi ke apartemen Hary. Dengan kasar Vania membuka pintu apartemen itu, kebetulan Vania masih mengingat akses masuk ke dalam apartemen Hary.


Tidak ada siapa-siapa diruang depan, Vania mencari Hary ke kamarnya. Kamar itu juga kosong, namun Vania menemukan sesuatu yang janggal, pakaian wanita berserakan diatas ranjang Hary yang tampak berantakan.


Terdengar suara cekikikan dua orang manusia dari arah kamar mandi. Vania melangkahkan kakinya perlahan ke kamar mandi, alangkah kagetnya dia melihat Hary bercinta di dalam bathtub dengan seorang wanita yang dikenalnya dengan baik, yaitu Monica.


"Dasar binatang Lo berdua!" Maki Vania marah.


"Hai Vania! cepat sekali kamu kesini, pasti habis dikejar setan ya!" goda Monica, keluar dari bathtub dengan memakai handuknya. Begitu juga Hary, pria itu melangkah dengan santai keluar dari kamar mandi.


"Monica, Lo tau kan, Hary itu milik gue?" ujar Vania marah.


"Vania, Lo itu kan sudah punya suami, gue janda, Hary juga masih single, jadi nggak masalah kan, kalau gue kencan sama dia?" jawab Monica santai.


"Hary, nggak bisa gitu dong, gue udah habisin uang gue buat lo, bayar semua tagihan Lo, sekarang Lo enak-enakan tidur sama Monica," teriak Vania dengan penuh kebencian.


"Santai saja kali, Van! Lo udah ingkar janji sama gue, sudah satu bulan Lo nggak nemuin gue kan, jadi wajar dong gue cari wanita lain," ucap Hary tanpa rasa bersalah.


"Tapi tidak dengan Monica kali, Har! Monica itu teman gue!" Vania tidak mau kalah.


"Sudahlah Vania, lebih baik kamu pulang, sebelum Devan tahu istrinya masih berhubungan dengan mantan pacarnya, jangan sampai Devan curiga, anak yang ada di rumahnya, bukan darah dagingnya!" beber Monica sambil duduk dengan santai disamping Hary, dengan menyalakan sebatang rokok filternya.


Vania menelan ludah dengan kasar. Monica benar, jika Devan tahu, bahwa Darren bukan anaknya. Pria itu pasti akan mengusir Vania dari rumah. Vania akan kehilangan sumber kekayaannya. Jika dia kembali pada Hary? entahlah, tidak ada yang bisa dia harapkan dari pria pengangguran itu. Dia hanya menjadi benalu dalam hidup Vania. Namun, Vania tidak mengerti kenapa dia bisa jatuh cinta pada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2