Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
BUNDA UNTUK FLOWER


__ADS_3

Setelah satu Minggu dirawat dirumah sakit, baby Flo dibolehkan kembali pulang kerumah, dengan pengawasan dokter dari rumah sakit. Shanum merasa lega, saat Flo sudah melewati masa kritisnya.


Perawatan pasien dengan Penyakit Jantung Bawaan, memang membutuhkan pengawasan ekstra. Shanum harus memberikan takaran gizi yang harus dikonsumsi Flo, setiap harinya dibawah pengawasan ahli gizi.


Harland makin sering, meluangkan waktunya, demi bisa mendampingi Flo bermain dirumah. Hubungan Harland dan Shanum pun, mulai dekat, karena mereka peduli pada baby Flo.


"Harland, kamu tidak kekantor, Nak!" tanya Mommynya, saat pagi itu, Harland tampak santai dengan pakaian casual nya.


"Tidak, Mommy! sekarang ada Arsen yang menggantikan ku di kantor, aku akan menemani Flo kontrol ke rumah sakit," kata Harland.


"Oh iya, Mami lupa, mami tidak bisa menemanimu hari ini, Lan, Mommy sudah janji untuk pergi ke pesta pernikahan putrinya teman Mommy" seru Mommy Sarah.


"Nggak apa-apa, Mom! kan ada Shanum," sahut Harland.


"Lan, apa kamu tidak ingin menikah lagi, biar Flo ada yang ngurusin?" tanya sang Mommy tiba-tiba.


Harland memicingkan sebelah matanya.


"Kenapa Mommy, tiba-tiba bertanya seperti itu?" Harland memandang maminya penuh tanda tanya.


"Ya, Mommy hanya ingin, Flo memiliki keluarga yang utuh, walaupun kamu bukan ayah kandungnya, Flo harus mendapat kasih sayang yang utuh juga dari Ayah dan Ibunya," ujar Mommy Sarah.


Mulut pria itu melengkung membentuk senyuman.


"Nanti saja, Mom, aku belum menemukan orang yang cocok, lagi pula, aku baru bercerai dengan Monica, aku tidak mau terburu-buru," kata Harland, sambil menggenggam tangan Sang Mommy erat.


"Buat Mami, yang penting calon istrimu adalah orang yang baik, ibadahnya rajin, dan bisa menjadi ibu bagi anakmu, Flower," pesan Nyonya Sarah.


...----------------...


"Baby Flo, sudah siap Tuan!" ucap Shanum saat turun kelantai bawah, dimana Tuan Harland sudah menunggu untuk mengantar Baby Flo kerumah Sakit.


"Oh ya, Mommy, kami berangkat dulu !" ujar Harland sambil mencium tangan Mommynya.


"Ya! hati-hati Lan, jangan ngebut!" ucap Mommy Sarah.


"Saya pamit, Nyonya!' Shanum pun tidak ketinggalan mencium tangan Nyonya Sarah dengan santun.


"Ya, hati-hati gendong Flo-nya," pesan Sang Mommy.


"Baik, Nyonya Sarah, saya permisi!" Shanum segera menyusul Tuan Harland ke mobil yang sudah terparkir dihalaman rumah.

__ADS_1


"Duduk didepan, Shanum!" perintah Harland membukakan pintu depan mobil untuk Shanum.


"Baik, Tuan!" jawab Shanum patuh.


Harland segera mengemudikan mobilnya, dengan kecepatan sedang, menuju rumah sakit tempat Baby Flo melakukan Medical check up.


Setelah tiba dirumah sakit, Harland segera menghubungi dokter Stella, yang sebelum sudah membuat jadwal untuk bertemu.


"Silahkan duduk, Pak Harland...! Bu Shanum !" kata dokter Stella setelah selesai memeriksa baby Flo.


"Bayi anda mengalami kelainan pada katup jantung, atau yang disebut heart Valve abnormalities. Hal ini disebabkan karena katup jantung tidak bekerja dengan benar, katup jantung tidak bisa membuka dan menutup dengan tepat, sehingga darah tidak mengalir dengan lancar," dokter Stella menerangkan dengan tenang. Shanum berusaha memahaminya.


"Apakah anak saya bisa menjalani hidup dengan normal, dok?" tanya Harland


"Bisa, yang terpenting adalah kalian harus bekerjasama untuk merawat Flo dengan baik,"kata dokter Stella. Harland memandang Shanum yang duduk disampingnya, Shanum pun sama. Namun, Shanum segera menyadarinya dan memalingkan wajahnya kearah lain. Jantungnya berdegup kencang.


"Kami akan melakukannya untuk Flo, dokter! namun, apakah Flo harus menjalani operasi?" tanya Harland lagi.


"Kita lihat perkembangannya terlebih dahulu, jika tidak sembuh dengan obat-obatan, kami akan melakukan tindakan," ucap dokter Stella kemudian.


"Nyonya Shanum, apa anda masih memberi ASI untuk bayi anda?" tanya Dokter Stella.


"Baguslah,tidak masalah !" ucap dokter Stella, mengakhiri pembicaraan mereka.


Shanum keluar dari ruangan dokter Stella terlebih dahulu, dia merasa canggung jika harus berdekatan dengan Tuan Harland.


"Shanum, tunggu!" Harland mensejajarkan langkahnya dengan wanita itu, mereka seperti sebuah keluarga yang utuh.


"Ada apa, Tuan!" Shanum memelankan langkahnya.


"Kenapa buru-buru, memangnya kamu mau kemana?" tanya Harland tersenyum gemas.


"Mau pulang, Tuan!"


"Kita mampir ke mini market sebentar, kalau kamu pingin beli sesuatu ambil saja!" kata Tuan Harland, mengajak Shanum ke mini market yang tak jauh dari rumah sakit. Ternyata Harland memarkirkan mobilnya disana.


Shanum mengikuti Tuan Harland masuk ke dalam mini Market sambil mengendong baby Flo. Tuan Harland tampak membeli keperluan pribadinya. Tanpa sengaja Shanum melihat seseorang yang begitu dikenalnya, yaitu Vania, tapi wanita itu masuk tidak bersama Devan, melainkan dengan seorang pria yang tidak dikenal Shanum. Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan mesra. Shanum menyembunyikan wajahnya dari wanita itu, dengan pura-pura menenangkan baby Flo.


"Kamu tidak ingin membeli sesuatu, Shanum ?" Shanum kaget saat Tuan Harland menghampirinya.


"Tidak ada, Tuan!"

__ADS_1


"Masa sih, tidak ada, ambil saja, atau perlu aku yang ambilin?" ucap Tuan Harland.


"Tidak usah, biar saya saja?" Jawab Shanum merasa tidak enak hati.


"Sini, biar Flo aku yang gendong!" Shanum menyerahkan Baby Flo ketangan Tuan Harland, dan mengambil beberapa cemilan, susu untuk ibu menyusui dan segala macam kebutuhan Flo yang hampir habis.


"Sudah selesai, Tuan!"


"Ya udah, bawa semuanya ke kasir!" Shanum mendorong troli belanjaannya kedepan kasir.


"Wah, putrinya cantik sekali! mirip sama ibunya!" puji seorang wanita separuh baya yang ikut antrian didepan kasir. Shanum hanya tersenyum kecil.


"Emang mirip banget ya buk!" tanya Harland, menanggapi omongan ibu-ibu disampingnya.


"Iya, Tuan! Ayahnya juga ganteng banget, mirip artis !" celetuk seorang ibu lainnya asal.


Shanum hanya tersenyum simpul, mendengar Tuan Harland yang tampak senang menanggapi ibu-ibu yang memuja ketampanannya, bahkan ada yang mengajaknya untuk foto bersama.


...----------------...


"Harland...!" seorang wanita memanggil nama Harland, saat hendak keluar dari mini market, Shanum menghentikan langkahnya. Wanita itu mendekat dan bicara pada Harland.


"Eh Vania....ada apa?" tanya pria itu berubah dingin, berbeda saat berhadapan dengan ibu-ibu alay yang dia temui barusan.


"Kamu belanja sendirian?" tanya Vania sambil celingak-celinguk mencari seseorang


"Tidak, bersama istriku, " jawab Harland asal.


"Kamu sudah menikah lagi ?" tanya Vanya membulatkan matanya tak percaya.


"Iya, kenapa emangnya, ada masalah?" Harland sepertinya tidak menyukai wanita itu.


"Tidak juga, hanya penasaran seperti apa istrimu, apakah lebih baik dariku atau sebaliknya!" sarkas Vanya dengan angkuh.


"Tentunya lebih baik darimu, Vanya...sorry aku harus buru-buru," ucap Harland, saat Shanum sudah terlebih dahulu sampai dimobil, untuk menghindari Vania.


Vania memandang Harland dengan kesal, sudah lama dia mengincar pria itu, untuk menjadi kekasihnya, bahkan dulu dia bersaing dengan Monica untuk mendapatkan perhatian Harland.


Monica dan Vanya sama-sama bergabung dalam satu manajemen model, yang pasti juga sama-sama licik. Monica berhasil menjebak pria itu, dengan memberinya minuman yang memabukkan, dalam sebuah acara amal yang diadakan perusahaan Harland. Monica berhasil membuat Harland menidurinya, dan menuntut untuk segera menikahinya.


"Siapa wanita itu?" batin Vanya, saat Harland masuk kedalam mobil bersama seorang wanita yang mengendong seorang anak yang kira-kira berusia hampir satu tahun.

__ADS_1


__ADS_2