BUNGA DESA YANG TERBUANG

BUNGA DESA YANG TERBUANG
10


__ADS_3

"sampaikan salam saya pada tuan Hardian"


"akan saya sampaikan" asisten tuan Hardian mengundurkan diri setelah pamit dam mengucap salam


ya, tamu yang ditemui eko adalah asisten tuan Hardian Robby. karena selama ini perusahaan telah bekerjasama saat dipimpin oleh kakeknya eko, bahkan beliau menginginkan perjodohan cucunya dengan putri tuan Hardian walaupun belum ada pembicaraan resmi antara dua keluarga tetapi selalu mewanti wanti pada rekan bisnisnya itu untuk menerima cucu kesayangannya sebagai menantu.


~


"nak, kapan kau mengunjungi orang tuamu?" tanya bu narsih saat mereka berdua membuat racikan ramuan tradisional


"secepatnya bu" jawab desi ragu


"ingatlah nak, ridho Allah terletak pada ridho orangtua bagi gadis yang belum menikah, kalau sudah menikah terletak pada ridho suaminya.


sudah cukup kau siksa orang tuamu dengan kepergianmu yang mendadak dan tak memberi kabar selama ini"


" ibu senang kau tinggal disini karena berasa punya keluarga, tapi ibu juga gak bisa egois dengan menahanmu disini. kau harus berbakti pada mereka"


menjeda ucapannya


"jangan sampai kamu menyesal saat semua sudah terlambat. tentunya kau tahu maksud ibu"


desi termenung mencerna setiap kata yang diucapkan bu narsih. tak terasa airmata menetes, dengan cepat ai menyekanya.


"besok setelah subuh aku berangkat, kebetulan tidak ada hal penting yang harus ditangani"


"aku akan selalu mendukung keputusanmu"


"terima kasih selalu mengerti aku bu"


"tak perlu kau ucapkan, kehadiranmu dirumah ini merupakan anugrah yang tak bisa tergantikan oleh apapun"


"sesalu ingatlah, setiap jalan yang kau tempuh Allah akan selalu bersamamu jadi selalu mintalah petunjukNya agar tak tersesat saat mengambil langkah yang kau pilih"


memang selama ini kondisi kehidipan desi berbanding terbalik dengan hidupnua saat masih bersama orang tuanya.


walaupun terbilang mandiri dan sederhana, dia tak pernah kekurangan kasih sayang maupun perhatian dari keluarga maupun lingkungan tempat tinggalnya secara diakan gadis desa yang selalu dipuja dimanapun dia berada saat itu. sekarang hatinya terasa miris bila mengingat hal itu dan tersengum kecut, entah permainan seperti apa yang dia perankan hingga dalam kondisi yang sangat terpuruk hingga titik terendah bagai sampah. ya, itulah bunga desa yang terbuang bagai sinar bulan yang tak dirindukan. hal itulah yang dirasakan desi, mampukah dia menatap wajah orang tuanya? itu pertanyaan yang sering muncul dalam benaknya.


hari mulai berganti, waktunya memulai aktifitas dari istirahatnya. kini desi sudah siap untuk berangkat setelah sholat subuh tentunya.


bu narsih mengantarkan anak asuhnya itu sampai halaman rumah

__ADS_1


"hati-hati dijalan"


"iya bu. ibu juga harus jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa segera hubungi desi ya"


"apapun yang terjadi nanti disana, bila kau butuh sandaran maka pulanglah kemari. ibu akan senang hati menyambutmu"


keduanya berpalukan setelahnya desi pamit dengan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dan mengucapkan salam


setelah menjawab salam, bu narsih masih berdiri memandangi punggung desi yang semakin menjauh sesekali melambaikan tangan dan tersenyum saat gadis asuhnya menoleh kearahnya.


sampai dipersimpangan jalan yang sudah tak nampak oleh bu narsih, desi mengeluarkan benda pipihnya untuk memesan ojol.tak lama menunggu, pesanan pun datang


"dengan mbak desi?"


" iya, saya pak"


"mari mbk, ini helmnya dipakai dulu"


"terimakasih"


setelah memakai helm dengan benar dan tak lupa masker dan kaca mata untuk menyamarkan identitasnya, ia segera naik boncengan motor. ia memakai celana kain warna hitam, blouse warna dusty pink sepatu ket senada dengan bawahannya, sangat simple memang, selain itu desi hanya membawa satu stell pakaian yang dimasukkan kedalam tas punggungnya yang digunakan untuk berganti saat dibutuhkan. karena sudah terbiasa sejak dulu bila ada kegiatan dilapangan selalu bawa baju ganti.


"selamat pagi pak" sapanya karena waktu masih menunjukkan pukul 08 00 WIB.


"selamat pagi. ada perlu apa" jawabnya sinis karena memang baru beberapa bulan bekerja menggantikan satpam lama yang dipindah tugaskan keperusahaan. ia tidak tau kalau yang ada didepannya adalah akan bos besarnya ýang artinya bosnya juga.


"saya mau ketemu sama pak hendrawan"'


"sudah buat janji dengan dengan beliau?"


"belum"


"tunggu sebentar" satpam itu barbalik ke pos untuk menelepon tanpa membuka pagar sehingga gadis itu hanya bisa berdiri mematung sambil memandangi rumah yang ditematinya dari kecil.


~


orang yang ada didalam rumah besar itu sedang menikmati makan paginya, hingga bunyi dering benda diatas meja menghentikan aktifitasnya


"halo"


"tuan, ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan. seorang wanita tapi tidak menyebutkan identitasnya"

__ADS_1


"suruh masuk"


"siap tuan"


setelah sambungan terputus dan meletakkan pada tempatnya semula, ia bersiap menemui tamu yang datang dengan pamit pada istrinya terlebih dahulu


"ibuk lanjutkan sarapannya dulu, aku akan menemui tamu didepan"


"siapa pak?"


"belum tahu. kosim bilang seorang wanita tapi tidak menyebutkan identitas dirinya"


"aku ikut pak"


diam sejenak lalu menjawab"baiklah. tapi jangan terlalu berharap, nanti kamu sakit lagi"


dijawab dengan anggukan dan senyuman yang terukir sempurna


tuan hardian khawatir karena selama desi tidak pulang, setiap ada utusan datang membawa berita tentang desi selalu nihil. pencarian yang dikerahkan diberbagai rute perjalanan darat, laut, udara untuk perjalanan domestik maupun luar negeri semuanya tak membawa hasil. sampai nyonya rumi drop dan harus dirawat intensif selama 3 hari dirumah sakit.


sebab itu dia selalu berpesan pada istrinya, jangan terlalu banyak berfikir dan menyerahkan semua kepada yang maha kuasa selain usaha pencarian yang terus dilakukan.


~


satpam yang selesai mengabarkan pada bosnya itu kemudian membuka pintu gerbang kecil yang hanya untuk akses jalan kaki.


"silahkan masuk mbk, tuan sudah menunggu"


"terimakasih pak"


"ya sama-sama" sambil menutup kembali pintu gerbang


desi yang terus berjalan menatap lurus ke pintu utama dengan perasaan rindu yang tak bisa digambarkan. sampai terlihat dua orang yang sangat ia sayang hingga langkahnya terhenti, air mata keluar dari pelupuk mata hingga merembes pada masker yang dikenakannya. dua orang keluar dari dalam rumah mengamati orang yang berdiri mematung hingga mereka sadar bahwa yang berdiri tak jauh didepannya adalah anak gadis yang telah dicari selama ini.


"desi" ucap nyonya rumi, yang dipanggil namanya pun membuka masker dan kaca matanya


"ibuk, bapak hiks hiks" sambil melangkah cepat


"kamu pulang ndok, hiks ...." ujar wanita dewasa itu yang tak kalah cepat untuk melangkah kakinya


hingga mereka bertiga berpelukan dalam tangis bahagia.

__ADS_1


__ADS_2