
dikamar eko, kedua pengantin baru duduk disofa kamar itu bersebelahan sambil berbincang-bincang.
"mas, masih sakitkah?" tanya desi menjulurkan tangannya membelai wajah eko yang terkena bogem bapaknya
"awww" keget desi spontan menarik tangannya sedangkan suaminya malah terkekeh
"kenapa? sini pegang lagi, nggak apa-apa kok. udah mendingan, akan cepat sembuh lagi kalau dicium sama kamu"
"ihhh... modus" desi memberengut dengan mulut mengerucut
"jangan menggoda"
"siapa yang menggoda, ih" desi makin jengkel
tangannya ditarik eko kemudian 'cup' kecupan suaminya sekilas pada bibirnya.
"mas!!!" pekiknya pelan
"masih sakit saja banyak gaya" lanjutnya
"yang sakit cuma muka aku sayang, yang ini mah pengen banget tempur" ucapnya sambil mengelus bagian bawah pusarnya.
"astaga mass, semalam aja masih berasa...."
"ditambah aja, biar rasanya nano-nano" sambil menatap dan tersenyum menggoda
"emangnya permen apa?" sahut desi makin kesal
"mang betull"
"hah, gak jelas kamu mas"
"permen aku untuk kamu hahaha" tertawa sambil melingkarkan tangannya dipinggang desi
"ayo, sayang" ajaknya pada istri tercimtanya
"kita wudlu dulu ya mas"
"iya, ayo. moga cepet ada titipan Allah disini" sambil mengelus perut datar istrinya
__ADS_1
desi hanya pasrah atas ajakan suaminya. yang ia tahu, menolak melayani suaminya dosa hukumnya.
hingga olah raga ranjang terjadi pagi menjelang siang hari.
"terima kasih sayang" ucapnya sambil mengecup kening istrinya
"itu sudah kewajibanku sayang" berkata sambil mendongakkan kepala hingga wajah kedua muka sangan dekat dan kecupan dibibir terjadi lagi. hanya satu kali melakukan pengatuan, kemudian istirahat bersama saling berpelukan.
waktu semakin berlalu hingga jam makan siang pun tiba. suara ketukan pintu membangunkan mereka.
"biar aku yang buka, kamu langsung mandi saja ya sayang"
"baiklah" jawab desi
saat desi keluar kamar mandi, ia telah mendapati suaminya duduk disofab dan telah rapi.
"sudah selesai sayang?"
"kok sudah rapi, wangi lagi. kamu mandi dimana sayang?"
"aku mandi dikamar tamu sebelah. kalau nunggu kamu nanti malah kelewat kakan siangnya saat kita kebawah"
"ggak apa-apa. ayo sayang"
akhirnya keluar lamar bersama dan meniruni anak tangga dan menuju ruang makan. disana terlihat pak handi dan nyonya shintia sedang makan, kemudian mereka bergabung.
"ayo nak desi, makan yang banyak. sayurnya juga dipakai, jangn malu-malu" mama shintia berucap karena melihat menantunya hanya memgambil makanan sedikit
"iya, mam. ini udah cukup kok"
"nanti kalau kurang kan bisa nambah lagi, ma. iya kan sayang?" ujar eko karena takut istrinya merasa ilfiel.
"selasai makan ini, papa ingin bicara sama kalian" ucap papa handi
"bicara apa, pa?"
"nanti saja, selesaikan makanmu"
"baiklah"
__ADS_1
selesai makan mereka pindah diruang keluarga, desi duduk disofa bersama eko manyamping dengan tempat duduk papa mama mertuanya
"àpa yang sebenarnya terjadi? selama ini kami hanya memdapat laporan bahwa kamu sudah sembuh dari dunia malam" tanya papanya eko
eko menceritakan secara garis besarnya saja.
"kami saling mencintai, pa"
"kami akan menatap masa depan dan masa lalu akan kami jadikan sebagai sebagai pembelajaran untuk masa depan.
"baiklah, papa percàya kalian. lalu masalah perusahaan sekarang bagaimana?"
"aku sudah mengutus orang-orangku mengusut kabar yang beredar dengan hal mengejutkan" buat mereka" desi menjawab membuat suaminya menatapnya
"kapan kamu menghubungi mereka? apakah asisten bapak yang mengerjakannya" tanya eko
"sudahlah, nģgak perlu dibahas lagi. kita lihat saja hasil akhirnya"
"nak desi, kamu bisa mengatasi masalah yang dibuat suamimu ini?" tanya mama
" ini dua hal yang beda, ma"
"ahhh, papamu mengundur kepulangannya keluar negeri hanya untuk masalahmu ini. dan rencananya besok pagi kami akan kerumah orang tuamu" penjelasan mama
suukurlah kalau semua bisa terkendali" ucap papa
"tapi kami akan tetap kerumah orang tuamu besok. oh, ya.... apa kamu tidak ingin melanjutkan pendidikanmu? lanjutnya
"aku belum berpikir kesitu, pa. aku ingin fokus jadi ibu rumah tangga." jawab desi
"dan aku akan selalu mendukung kuputusanmu"
"aku akan tinggal dirumahku sendiri, ma, pa. sambil menata ulang dekorasi rumah seperti keinginan istriku" ucap eko sambil menoleh ke istrinya.
kedua orang tuanya hanya diam mengangguk-angguk tanda mengerti keinginan putranya.
keadaan hening dengan pikiran masing-masing.
memang suatu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bila pasangan kita selalu menjadi pelengkap dalam kehidupan kita.
__ADS_1
banyak atau sedikitnya harta, tak akan manjadi tolak ukur kesetiaan pasangan kita bila semua telah dilandasi dengan kalimat 'iklas mengarungi bahtera rumah tangga karena Allah semata'