
KAGET
BANGEET
dengan pikiran yang berbeda antara dua insan itu diam mematung dengan eko memandang desi dengan teduh, sedangkan desi menundukkan pandangannya dalam diam.
tidak ada reaksi apapun dari mereka berdua. kedua orang tua mereka heran dengan sikap anak-anaknya, hingga tuan handi berbicara.
"ada apa? bukankah kalian sedang menjalin kerjasama perusahaan?" ucapan tuan handi mampu menyadarkan dua anak adam yang larut dalam pikiran masing-masing
"saya ingin bicara bicara berdua saja dengan nona desi" ujar eko
"baiklah, bagaimana denganmu nak desi" tuan hardian bertanya pada desi
"ya, baiklah"
eko berjalan lebih dulu kemudian diikuti desi dibelakangnya.
dirasa sudah agak jauh dari para orang tuanya. eko mulai pembicaraannya.
"aku menerima perjodohan ini. walau bagaimanapun, aku harus bertanggung jawab atas perlakuanku padamu"
"anda memang harusnya bertanggung jawab setelah berbuat"
"maafkan aku waktu itu yang tidak bisa mengendalikan diri"
"semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur"
"aku akan menikah denganmu"
"aku akan menikah karena cinta Allah"
"maksudnya"
"menikah dengan mengharapkan ridho Allah, karena menikah juga merupakan ibadah"
"apa kamu membenciku? atau ingin balas dendam padaku atas apa yang kuperbuat padamu?"
"bohong jika aku tak sakit hati"
"bohong juga bila tak membenci dirimu. tapi aku selalu berusaha ikhlas atas jalan yang aku lalui" "Dengan membalas semua sakitku padamu pun tidak akan mengubah keadaan"
__ADS_1
"aku semakin kagum padamu"
Desi tersenyum kecut "sejak kapan"
"maaf, waktu itu aku mengagumi tubuhmu. setelah mengenalmu, aku kagum akan pribadimu"
"karena itu, aku ingin menikah denganmu"
"rasa kagum saja belum kuat untuk menuju jenjang pernikahan, menjadi pondasi dalam mengarungi bahtera rumah tangga. apalagi tanpa dibarengi niatan LILLAHITA'ALA"
menarik nafas panjang pelan kemudian melanjutkan kata-katanya, sedangkan eko menyimak dengan seksama setiap kata yang terucap dari mulut wanita disebelahnya
"cantik dapat memudar termakan usia, tubuh seksi akan berlalu termakan waktu. harta dan tahta berputar bak roda. bila segala keadaan diputuskan dengan dasar ibadah, insyaAllah akan mendatangkan kabahagiaan dan ketenangan lahir batin"
"sebaiknya kita kembali bersama mereka, tak baik berdua berlama-lama"
desi yang setiap bicara selalu menundukkan pandangan dan tak pernah memandang lawan bicaranya, membuat eko lama-lama gemesss pengen menyentuhnya tapi pikirannya masih normal mengendalikan. berusaha bersikap baik.
"baiklah. aku harap, kamu memberiku kesempatan untuk membuktikan kalau aku pantas untukmu. aku akan berusaha memantaskan diri "
desi mengangguk pertanda setuju atas permintaan eko memberi kesempatan untuk dekat dengannya
"mari bergabung kembali dengan mereka" lanjut eko
setelah mereka bergabung,para orang tua saling pandang seakan saling berbicara lewat indra penglihatan 'siapa yang akan bertanya pada anak-anak mereka'.
akhirnya tuan handi membusungkan dada seakan menjawab 'kulah yang akan bertanya'
" bagaimana keputusan kalian?"
"kami menerima perjodohan ini" jawab eko
"Alhamdulillah" jawab serempak kecuali desi
ibu desi yang memperhatikan anak gadisnya seakan tahu keinginan dari ekspresinya.
" sebaiknya ta'aruf dulu, biar saling memgenal satu sama lainnya" ujar nyonya Rumi
setelah semua menyetujui usulan nyonya rumi, mereka pulang kekediaman masing-masing karena malam semakin larut.
~
__ADS_1
didalam mobil saat perjalanan pulang, eko yang mengemudikan dan disebelahnya papanya sedangkan mamanya berada pada kursi belakang. mobil melaju dengan kecepatan sedang
" bagaimana ?" tanya tuan handi
"bagaimana apanya?" eko
"tunggu !!! kenapa tiba-tiba ayah sama ibu...."
"apa!!" tuan handi
"apa jerry yang memberitahu?"
"jangan sangkut pautkan dengan jerry, dia lebih seti sama kamu dan selalu mengelak bila kau sudah melarangnya bicara"
" trus... om pram?"
"kalau om kamu tidak bicara pada kami tentang kesulitanmu, belum tentu kamu bisa dekat dengan gadis itu. kamu harus berterima kasi padanya" sahut nyonya Shintia
" tak semudah itu ma... kalau aku tak pernah menyakitinya mungkin akan lain ceritanya bahkan lebih mudah mendapatkannya"
"maksudmu menyakitinya gimana?"
eko menghela napas dan menghembuskannya kasar sambil konsentrasi mengemudi, saat itu juga tepat didepan gerbang rumah peninggalan kakeknya.
setelah sampai didalam rumah, tuan handi segera meminta pejelasan putranya
"jelaskan pada kami, maksudmu telah menyakitinya"
eko masih diam menhambil napas dan menghembuskannya dengan kepala menunduk
"dulu kakekmu ingin menjodohkanmu demgan gadis itu, kami mentangnya karena ingin memberikan kamu kebebasan memilih pasanganmu sendiri"
eko melihat kedua orang tuanya secara bergantian
"ternyata kamu menginginkan gadis pilihan kakekmu" sahut nyonya shinta
dengan ragu eko mulai membuka suara dan menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi lagi termasuk perasaannya pada desi
"sebaiknya kita segera membicarakan pernikahan mereka pada keluarga hardian pa.."
"yah... mama benar"
__ADS_1
selesai mengobrol, mereka akhirnya memutuskan untuk istirahat.