
hari hari dilalui bersama desi yang menemani ke kantor, sampai kandungan desi memasuki usia 6 bulan.
saatnya pengadaan "tingkepan" untuk usia kandungannya. karena dari keluarga eko terutama keluarga dari ibunya eko yang kebanyakan tinggal diluar negeri kurang mengenal adat kejawen, keluarga desi berinisiatif mengadakan acara tersebut dirumah keluarganya tuan Hardian
semua keperluan selamatan disediakan oleh nyonya rumi, bahkan ia sampai mengundang juru masak terbaik di desa yang mengerti tentang masakqn untuk tingkepan.
telah tersaji di meja besar berbagai olahan, mulai dari sambal goreng, srondeng, ayam jawa yang dibumbu lodho (khusus ayam jago), dan masih banyak lauk lainnya
selain itu juga ada jenang sengkolo, sego golong, buceng kuat, kembang setaman, dan masih banyak lagi yang lainnya termasuk degan (kelapa muda)
acara berlangsung cukup lama, karena ada taushiah dari tokoh agama setempat
dari pihak keluarga eko, hanya mama eko yang datang mendampingi anak dan menantunya karena sang suami masih menyelesaikan pekerjaan yang sangat penting
setelah acara selesai, mama eko pun segera diantar oleh orang suruhan eko. karena harus segera kembali, nggak enak meninggalkan suaminya sendiri lama-lama
mama eko hanya diantar orang-orang kepercayaan eko dan menyuruh penjaga bayangan dalam perjalanan ke bandara sampai menuju rumahnya yang di luar negeri. karena takut terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan seperti hal yang terjadi pada dirinya beberapa bulan yang lalu
~
dikediaman tuan hardian
__ADS_1
dilantai atas tepatnya ruang santai bagi desi selama tinggal dirumah orang tuanya, tuan hardiar duduk dekat nyonya rumi sedangkan desi duduk disamping suaminya
"bagaimana kerjaanmu diperusahaan ko? kelihatannya semakin berkembang pesat" tanya ayah desi pada eko
"iya begitulah, semua karena istri saya pak"
"kok aku sih mas!!" desi dengan tamang cemberut, sedangkan ditangannya memegang toples krupuk ikan yang dipangkunya
"maksud, mas. berkat dukungan kamu, perusahaan berkembang dengan pesat gitu... " sambil mencibit pipi istrinya yang semakin hari makin tembem seperti bakpao itu
"dan rencananya bulan ini juga mau buka cabang didaerah X" lanjutnya
dijawab siap oleh eko dan anggukan kepala
"sebaiknya kalian segera istirahat, wanita hamil tak boleh banyak bergadang. kalian pastinya juga lelah karena acara tadi" nyonya rumi mengingatkan dan menyuruh mereka beristirahat
"nggeh buk" desi sambil meletakkan toples diatas meja
"monggo enggal sare, pak. sak meniko sampun dalu, njenengan lak nggeh pun sayah" ajak nyonya rumi dengan menggandeng tangan suaminya dengan perlahan
"ayolah, boyokku yo wes kroso panas"
__ADS_1
akhirnya pasangan paruhbaya itu berjalan bersamaan menuju lantai satu kemudian masuk kekamar mereka sendiri
kamar desi
"mas, bolehkah besok aku mengunjungi bu ning?" desi meminta ijin pada eko
"besok aku ada meeting, sayang" sambil mengelus punggung kebawah karena permintaan desi
memang bagi sebagian besar ibu hamil, merasa nyaman bila diperlakukan seperti itu saat bersama suami. selain keinginan yang lain tentunya.
"aku perginya diantar sopir saja" kekeh desi
"No!!! tidak jika tidak bersamaku" tegas eko
"aku cuma sebentar, mas. lagian juga sore udah pulang jika berangkat pagi" masih mencoba meyakinkan eko
"sayang, apapun aku turuti permintaan kamu. pergi kemanapun itu, asal tetap sama aku perginya. aku nggak mau terjadi apapun sama kamu dan anak kita nantinya. walaupun ada bodygard yang selalu menemanimu, aku tetap nggak akan tenang jika tidak dalam jangkauan mataku sendiri" jelas eko yang menghawatirkannya
"baiklah, aku menunggumu untuk mengantarkan aku kesana" pasrah atas keputusan suaminya
"good, cepatlah tidur. aku juga sudah ngantuk" memejamkan mata sambil mengelus 'boyok ' atau pinggang bagian belakang dengan lembut hingga hanyut dalam dunia mimpi.
__ADS_1