BUNGA DESA YANG TERBUANG

BUNGA DESA YANG TERBUANG
31


__ADS_3

"sudah-sudah, kita bahas yang lain. mama ingat tujuan kita datang kemari kan?" tuan handi segera berucap sebelum istrinya semakin ngelantur.


"iya,. bahkan mama sangat mengingatnya" jawab nyonya shintia


"ada apa to, jeng" tanya nyonya rumi serius karena penasaran


"begini, jeng rumi. perusahaan suami saya yang ada diluar negeri sedang ada masalah. rencananya besok kami berangkat.


tapi suami saya tidak tega bila meninggalkan eko yang baru berumah tangga sudah dihadapkan banyak masalah. maksud kami ingin menemui jeng rumi dan pak hardian hanyalah untuk menitipkan anak-anak pada kalian selama kami ada diluar negeri" ucapnya serius menatap besannya secara bergantian


"ayahnya eko akan tenang meninggalkan eko disini jika dia sudah punya anak" lanjut nyonya shintia sambil memandang anak serta menantunya


"jeng shinta dan pak handi jangan khawatir, eko sudah kami anggap sebagai anak sendiri. kami tidak membedakan antara anak dan menantu, semua sama-sama anak kami. kalau masalah keturunan, hanya Allah yang tahu. mereka juga masih muda, masa depannya masih panjang" terang nyonya rumi


"justru karena mereka masih muda itu yang membuat kami khawatir, apa lagi belum ada keturunan sebagai pengikat" nyonya shinta masih pada pendiriannya


"maaf jeng shintia, masalah keturunan itu merupakan rejeki. itu sudah ada ketentuan dari yang maha kuasa, manusia yang berusaha. kalau itu jeng shintia tanyakan pada mereka berdua, sudah usaha apa belum?" penjelasan nyonya rumi sambil melihat kearah anak dan menantunya


"bagaimana?" tanya nyonya rumi pada anak dan menantunya


"bagaimana apanya, buk?" tanya desi


"kami sudah pengen gendong cucu" ganti tuan handi yang menjawab

__ADS_1


desi dan eko yang mendengar jawaban dari papanya hanya membeo kemudian saling pandang dan terlihat malu.


"sudahlah, mereka kan malu jadinya. kalaupun sudah waktunya dipercayakan oleh Allah, pastinya itu suatu anugrah. semua itu tak bisa diminta maupun ditolak, meskipun kita sebagai manusia sudah berusaha. semua itu sudah garis takdir"


"kita do'a kan yang terbaik buat mereka" tuan handi menengahi


karena tak ingin membebani pikiran anaknya yang bisa menyebabkan tertekan, dan yang dikhawatirkan mengganggu psikisnya.


eko yang biasanya bicara vulgar kini tampak diam menahan malu karena ada mertuanya.


~


alex yang menunggu kedatangan rudi di cafe dekat kantor nampak bingung dan bimbang


mungkinkah dia bisa menyakiti bos nya, juga bos dari sang ayah? karena selama ini keluarga bosnya sangat baik juga dermawan terhadap keluarganya.


nampak tenggelam dalqm lamunannya, dikagetkan oleh tupukan dipindak dan suara nyaring dekat telinganya


"whoeee" teriak rudi disebelah telinga alex


"asem lo bego. ngagetin orang aja" nampak kesal atas ulah alex


"makanya jangan nglamun aja, ntar kesambet tahu rasa kamu" ucap rudi

__ADS_1


"gara-gara kamu juga"


"lah.. kok aku" rudi tak terima dituduh


"iya, lama banget nungguin kamu disini. mana temen kamu?"


"bentar lagi sampai, sabar"


selang beberapa menit tampak seorang pria berkaca mata hitam memakai topi menghampiri.


"itu dia datang" tunjuk rudi peda pria yang


berjalan mendekati mereka


"hai, bro" sapa rudi pada pria yang baru datang sambil mengalaminya. kemudian mengenalkannya pada alex


"oh ya, kenalin ini teman aku yang butuh bantunmu


"alex" ucap alex


"hendra" ucap pria yang baru datang menyebutkan namanya


"silahkan duduk" alex mempersilahkan, mereka duduk bersama.

__ADS_1


pembicaraan sangat serius sampai kurang lebih satu jam. setelah pesanan minuman datang.


__ADS_2