BUNGA DESA YANG TERBUANG

BUNGA DESA YANG TERBUANG
03


__ADS_3

' lama lama berdua disini, bisa gila aku menahannya' batin Eko


"Aku keluar dulu mau ngopi, kamu istirahatlah agar cepat sembuh" ucap eko


hanya anggukan kepala sebajai jawaban eko.


waktu eko masuk ruang perawatan, dia melihat desi yang sudah tidur karena pengaruh obat yang diminumnya setelah makan malam.


eko duduk di sofa ruang perawatan, memeriksa beberapa email yang dikirim asistennya. malam yang kian sunyi, pandangan matanya terarah ke desi yang tengah tidur pulas. saat itulah gairahnya semakin bertambah, jiwa cassanovanya meraung butuh pelampiasan. akhirnya, dia melakukan hal yang tidak seharusnya. mengambil mahkota gadis yang sebentar lagi akan lulus sekolalah menengah atas.


pagi harinya, desi merasakan sakit yang amat dahsyat pada area k******nya. harusnya pagi ini setelah sarapan, desi bisa pulang karena dokter telah mengijinkannya.


ceklek


pintu terbuka, muncul laki" yang menolongnya....bukan! laki" yang menghancurkannya karena telah mengambil hal yang palong berharga dalam hidupnya.


"minumlah ini" melemparkan bungkusan plastik yang berisi obat penunda kehamilan


"apa yang kau lakukan padaku?" tanya desi


,"apa?" jawab dengan wajah datar


"aku hanya minta imbalan karena waktuku yang berharga telsh terbuang sia sia disini. anggap saja sebagai ganti biaya rumah sakit" jawab eko


" kau keterlaluan" ucap desi dengan terisak

__ADS_1


"pergilah"


"kau sudah diperbolehka pulang, biaya rumah sakit sudah aku urus"


"aku harus pergi sekarang karena ada pertemuan penting."


" kau kira aku gadis murahan!!!"


" yang menggadaikan kasuciannya hanya untuk biaya rimah sakit" sarkas desi


"kau memang murahan"


"tak ada lagi yang kau banggakan, jadi jangan sok belagu" ucap eko kemudian berjalan kelluar dan menutup pintu.


Desi menangis sambil meremas selimut yang dikenakannya, menumpahkan segala rasa sesak didada," apa yang harus aku lakukan! bagaimana ini?? Bapak dan ibuk pasti kacewa sama aku".gumamnya dalam isakan tangis


berbekal uang yang ada, tidak menggunakan ATM karena takut terdeteksi keberadaannya oleh orangtuanya. berjalan dan terus berjalan tanpa tujuan menyusuri jalanan yang ramai, tapi mata dan hatinya kosong, pikirannya entah kemana. seperti hanya raga tanpa jiwa yang mengendalikannya.


sampai kakinya lelah dan terduduk dipinggir jalan, air mata yang tak diundang selalu mengucur membasahi pipinya yang mulus.


hingga ada seorang ibu menghampirinya, " ada apa nak?" tanya ibu narsih sambil memegang bahu kanan desi


desi hanya memandang bu narsih sekilas, kemudian menunduk lagi karena merasa dirinya terhina.


" ayo ikut ibu" ajak bu narsih

__ADS_1


" tidak baik menangis dijalanan" bu narsih menuntun tangan desi yang mengikutinya


sesampainya di rumah bu narsih yang sangat sederhana, desi duduk disofa usang dalam ruang tamu.


" sebentar, ibu ambilkan minum dulu ya..."


hanya dijawab anggukan oleh Desi


tidak lama kemudian, bu desi membawa teh hangat dan biscuit dalam toples kecil.


" minumlah, untuk mengisi energimu" ucap bu narsih sambil menyodorkan gelas ke mulut Desi, desi pun meminumnya walau hanya beberapa teguk saja.


"siapa namamu nak?" tanya bu narsih


"Desi" jawab desi


" alamat rumahmu mana?"tanya bu narsih lagi


desi hanya diam


"siapa nama orang tuamu" tanya bu narsih lagi


desi tetap diam, air matanya kembali mengucur tanpa permisi.


akhirnya bu narsih tidak bertanya lagi. dan menuuruh desi untuk membersihkan diri dikamar mandi. sementara bu narsih ke dapur untuk memasak.

__ADS_1


Desi memakai baju rumahan milik bu narsih karena memang tidak membawa baju, meskipun begitu masih terlihat cantik.


" masyaAllah...kamu cantik sekali nak, walaupun hanya memakai daster ibu" disertai kekehan untuk menghibur desi meskipun desi memanglah cantik


__ADS_2