
perjalanan kerumah sakit membutuhkan waktu 30 menit. mereka langsung menemui dokter bram karena sebelumnya sudah menghubunginya.
"silahkan, pak" asisten dokter mempersilahkan pasien yang tak lain pak
"bagamana om?" tanya eko yang mendampingi pak asep
"gak ada luka serius, sudah bisa langsung pulang" terang dokter bram selesai mengobati luka pak asep
"terimakasih, om" ucap eko
"terima kasih dokter" jawab pak asep
setelah diambang pintu, dokter memanggil eko lagi.
"ko. bisa kita bicara sebentar?" tanya dokter bram
"bisa om"
"pak asep nunggu saja sama yang lain, secepatnya nanti saya menyusul" bicara pada pak asep sambil memandangnya
"baik. permisi pak dokter" ucap asep
"iya, luka jahitnya jangan terkena air dulu ya pak"
dijawab senyum dan anggukan kepala oleh pak asep.
setelah asep keluar, pintu ditutup oleh dokter bram dan memulai pembicaraannya
"bagaimana permasalahan keluargamu?"
"sudah lebih baik"
__ADS_1
"apa kamu nggak terpikirkan kalau masalah perusahaan hanya sebuah pengalihan saja? untung orang tuamu masih disini, jadi bisa membantu"
" iya, masalah pengalihan?"
" bisa saja tujuan utamanya hal yang lain misalnya istrimu"
"kenapa om berpikir begitu?"
"ini hanya menurut analisaku saja, tapi biasanya tak pernah keliru" ucap om bram dengan percaya diri
"entahlah om. kemarin aku juga sempet berpikir sama kayak om bram, tapi aku menepisnya sebelum ada bukti nyata"
"terserah kamu sajalah, om hanya mengingatkan untuk selalu menjaga istrimu itu"
"terimakasih sudah mengingatkan. aku pergi dulu, om"
"hhmm. hati-hati"
setelah menjalankan mobil keluar parkiran, mobil berhenti didekat teras dan masuklah ketiga orang yang telah menunggunya.
"maaf, lama ya?" ucap eko tak enak hati pada istrinya
"nggak apa-apa kok mas belum juga sehari kami berdiri" jawab desi dengan senyum penuh arti
"kok gitu, maaf maaf banget"
"kalau gak jalan kapan nyampek rumahnya?"
"iya ini juga mau jalan" jawab eko segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
~
__ADS_1
kediaman tuan hardian nampak sepi. nyonya rumi yang dari tadi tersedak meskipun tidak sedang makan.
tak henti-hentinya berdo'a dalam hati kecilnya untuk keselamatan suami dan anaknya. perasaan seorang ibu maupun seorang istri sangat peka bila terjadi hal yang kurang baik pada buah hatinya maupun suaminya yang dikasihi.
'Ya Allah.... lindungilah anak dan suami hamba, jauhkan dari mara bahaya, berikan kesehatan dan kekuatan dhohir maupun batin agar selalu dalam jalan yang Kau Ridhoi Aamiinn'
meskipun pikirannya menolak kejadian yang buruk, tapi hatinya berkata lain. lama menahan diri untuk tidak menghubungi anak dan suami seraya berdo'a untuk kebaikan mereka.
akhirnya sampai pada batas kesabaran hingga diambillah benda pipih diatas meja dekat televisi untuk menanyakan keadaan orang-orang tercintanya.
pertama dicarinya nomor bertuliskan 'zauji' dan ditekan tombol tanda menghubungkan.
tak lama menunggu terdengar suara diseberang tanda sudah terhubung
"assalamualaikum, ada apa buk?"
"Waalaikumsalam, bapak baik-baik saja kan?"
" alhamdulillah baik juga sehat, memangnya kenapa buk?"
"ah, nggak apa-apa. cuma tanya aja. alhamdulillah... kalau begitu dilanjut kerjanya ya pak, sampai ketemu dirumah assalamualaikum"
~
"waalaikumsalam"
setelah menerima telepon dari istrinya, tuan hardian mengernyitkan dahinya dan menggeleng pelan
"ada ada saja ibuk ini, telpon kok cuma nanya kabar doang" gumamnya
"tapi..... mungkinkah ada sesuatu yang tidak bisa dibicarakan lewat telepon? aku harus segera pulang"
__ADS_1
tuan hardian membereskan berkasnya dan bergegas meninggalkan ruangannya.