BUNGA DESA YANG TERBUANG

BUNGA DESA YANG TERBUANG
09


__ADS_3

sementara diseberang setelah mendapat perintah dari tuannya masih tampak barpikir


"ada apa dengan sibos? selama ini selalu menolak pesona wanita cantik. lha ini malah nyuruh menguntit gadis..."


"ah bodolah, ngapain ikut mikir ni kerjaan aja numpuk" gumamnya sambil geleng kepala dan segera menghubungi orang kepercayaannya untuk mengumpulkan informasi tentang gadis yang alamatnya dikirim lewat aplikasi chatt. karena masih diperjalanan pulang dari kantor saat dihubungi sang bos.


~


sang surya tlah bersinar terang, wakti menunjukkan pukul 9 pagi. diruang orang nomor satu perusahaan tersebut sudah ada sang asisten yang mambawa laporan dari orang suruhannyan


"ini yang bos minta"


"hmmm" menerima amplop coklat, membuka dan membaca isinya


"bukan keluarganya? "


"iya bos, sesuai catatan itu. tidak ada yang tahu gadis itu berasal dari mana. seakan ada yang ditutupi"


melihat tuannya yang hanya diam, jerry memberanikan diri untuk bertanya


"sebenarnya ada apa ya bos? apa bos tertarik gadis itu? dia memang cantik lebih malah dari pada anak rekan-rekan bisnis bos"


"kau benar" sambil menatap asisten jerry


""tapi aku bingung mulai dari mana dan bagaimana menghadapinya nanti? tak bisa dipungkiri hatiku bahahia setelah melihatnya"


"hah" jerry memandang bosnya tak parcaya dengan mulut yang masih terbuka


"tutup mulutmu nanti lalat masuk" spontan jerry mengatupkan mulutnya dan diusap menggunakan tangan kanan


"kalau bos butuh teman curhat, saya bersedia sebsgsi perdengar setia"


"apa kau bisa dipercaya?"


"ck, selama ini saya selalu menjaga kepercayaanmu bos"


"ini beda urusannya"


"masalah hati? saya ahlinya bos!"

__ADS_1


"benarkah? aku lihat kau masih jomblo"


"apa perlu dibuktikan sekarang"


"tidak perlu, baiklah aku percaya"


"rahasiakan ini dari siapapun"


"bos meragukanku?


"tidak, baiklah aku ceritakan"


memulai dari cerita masa lalu yang seorang cassanova hingga terjerat seorang gadis yang selalu menghantui selama ini karena kejadian dirumah sakit yang tak bisa mengendalikan diri, akhirnya jerry paham atas sikap tuannya yang begitu dingin. akibat dari rasa bersalah yang ditunjukkan hingga rasa untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.


karena dari informasi yang diperoleh selama ini, bahwa atasannya seorang player. begitu mudah berganti pasangan bagai berganti sepatu, suka dipakai taksuka dihempaskan.


dari kehidupan yang serba bebas celup sana sini, kini harus bertapa tanpa bisa menikmati rasa yang tiada tara. hingga pikiran kotor keluar dari benak sang asisten.


"kasian nasip sikomo" celetuk jerry


"si komo siapa?"


eko mengikuti isyarat itu dan berucap


"jangan kurang ajar kau" nada meninggi dan melotot


"maaf bos" nyengir dan mengangkat tangan unjuk


dua jari


"manurut saya, bos segera minta maaf"


"aku tahu. bagaimana caranya itu yang membuatku bingung"


"gampang"


"bawa buket bunga, tampang didramatisir sedih gitu.. jangan lupa ungkapan kata maaf itu yang utama"


"intinya dicoba dulu bos. kalau tak berhasil, masih ada cara lain yang lebih exstrim hhhh..." sambil tertawa pelan

__ADS_1


"ok. akan aku coba dulu" nampak berpikir dan mengangguk anggukkan kepala pelan


"siapkan bunganya"


"sekarang bos?"


jerri yang mendapat tatapan dari bosnya langsung tanggap


"baik, saya siapkan sekarang"


setelah sang asisten keluar dari ruangannya, telpon diatas meja berbunyi, ia bergegas mengangkatnya


"hallo"


"ada utusan dari Mitra Tani ingin menemui anda tuan" resepsionis


"antarkan keruang meeting, aku akan menemuinya disana"


"baik"


sesampainya diruang yang telah ditentukan dan menyambut utusan dari pihak yang bekerja sama dengan perusahaannya.


"mohon maaf tuan, kami hanya menanyakan kelanjutan kerjasama perusahaan kita"


eko diam nampak masih berfikir, kemudian berkata


"perusahaan akan tetap menjalin kerjasama. tanpa dicampur dengan urusan pribadi"


"bagaimana dengan keinginan almarhum kakek anda tentang perjodohan itu?"


"jangan campur adukkan masalah pribadi dengan bisnis. atau kerjasama kita cukup sampai disini"


utusan dari perusahaan rekanan tampak bernafas lega seraya tersenyum


"baiklah, nanti saya sampaikan berita baik ini"


"saya pribadi sangat kagum dengan anda"


"terima kasih"

__ADS_1


__ADS_2