
tiga hari berlalu, saatnya desi kembali kerumah mewah untuk mengontrol keadaan pak pardi. kali ini desi datang sendiri karena tidak mau merepotkan wawan untuk mengantar jemputnya. dengan diantar ojol, perjalanan lebih cepat dari naik mobil. sesampainya dirumah itu, desi langsung menuji tempat pak pardi istirahat.
" assalamualaikum" desi
" waalaikumsalam....mbk desi, mari mbk "
"gimana pak, sudah lebih baikkah?"
"alhamdulillah sudah mendingan mbk"
"kalau begitu saya lihat dulu, lukanya masih perlu penanganan lagi apa tidak"
" iya mbk" jawab pak pardi sambil menunjukkan luka yang diobati desi beberapa hari yang lalu.
telah selesai desi memberikan pijatan totok syaraf pada pak pardi, tiba tiba wawan datang
"assalamualaikum" wawan mengucap salam
"waalaikumsalam " jawab serempak dari dalam ruang
"ada apa wan?" tanya pak pardi
" oh... saya disuruh mas bos. kalau mbk desi sudah selesai mengobati pak-lek pardi, disuruh keruang tamu sebentar"
__ADS_1
" memangnya ada apa?" tanya desi
"saya tidak tahu non,''
kemudian desi menjelaskan ramuan herbal yang diminum karena ada yang diminum pagi saja, ada yang diminum malam saja serta menambahkan obat oles (parem).
saat desi berkamas, pak pardi yang penasaran bertanya lagi pada wawan
"apa bos muda sakit? kok minta bertemu sama non desi segala?"
"tidak sakit lek, memang tadi pagi tanya sama saya'kapan sampean diterapi lagi?' gitu, ya...tak jawab siang ini jam 2nan" lah...malah minta kalau pengen ketemu sama yang terapi sampen"
"sebagai ucapan terima kasih, mau kasih hadiah ke non desi mungkin" berkata agak pelan sambil mengedikkan bahunya
"iya...silahkan non desi, terime kasih banyak sudah bersedia kemari"
"sama-sama pak, semoga cepat pulih"
desi mengucap salam dan berlalu meninggalkan ruang tersebut mengikuti wawan yang telah mendahului menunjukkan jalan keruang tamu untuk bertemu dengan bosnya.
sesampainya diruang tamu, desi duduk disofa sambil mengamati ruangan mewah itu, tak ada foto keluarga maupun pribadi. karena foto terpajang hanya diruang keluarga.
belum jenak ia duduk, terdengar suara kaki melangkah. desi menoleh, sontak berdiri dan terpaku melihat sosok yang datang
__ADS_1
sementara eko yang melihat desi hanya berhenti melangkah, diam terpaku melihat wajah yang selalu membayanginya selama ini. tak dapat mengartikan pikirannya, semua kosong karena yang ada hanya tatapan pada tamunya saja. tak mampu menyapa ataupun sekedar mengeluarkan kata.
sedangkan desi yang shok, berusaha mengumpulkan kesadarannya. setelahnya pergi meninggalkan rumah itu dengan cepat, sambil menahan gejolak amarah dihati dan iar yang terkumpul dipelupuk matanya.
eko seperti orang ling lung, ia sadar setelah wawan memanggilnya.
" mas bos " panggilan ke3 baru ada reaksi dari eko
"hhhmmm"
"apa yang terjadi? tadi non desi pergi dengan tergesa saat‐ " ia diam saat eko menyela ucapannya
"kau sudah bosan kerja?"
"maaf mas bos? apa salah saya?"
"dimana dia tinggal" suara datar pandangan lurus
"dipinggir kota jl....."
tak menjawab apapun, ia menuju kamarnya. sopir yang ditinggal begitu saja oleh bosnya, hanya menggaruk tengkuk yang tak gatal
~
__ADS_1
langkah seorang gadis menyusuri jalanan yang ramai diiringi deraian air yang membasahi pipi mulusnya, ingatan perlakuan lelaki saat dirumah sakit datang silih berganti. tak perduli denhan tatapan orang yang dilewati, sampai akhirnya berhenti dihalte sembari mencoba menetralkan perasaan serta fikirannya.meski sudah ada beberapa kendaraan umum lewat, dia belum juga beranjak.