BUNGA DESA YANG TERBUANG

BUNGA DESA YANG TERBUANG
aku suapi


__ADS_3

dilain tempat, tepatnya kediaman tuan hardian.


tuan hardian sedang berada diruang kerjanya yang masih setia memandangi benda bercahaya serta tangannya yang tak henti menari diatas keyboar. tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar dan terbuka. ternyata istrinya datang sambil membawa nampan berisi kopi dan kue kesukaan suaminya


"jangan terlalu memaksakan diri, pak. waktunya istirahat mbok ya istirahat, kesehatan lebih mahal lo, pak" sambil meletakkan secangkir kopi dan kue dimeja depan suaminya


"harus gimana lagi, buk. desi dan suaminya juga nggak mau ngurus perusahaan kita"


"bukan nggak mau, pak. belum saatnya. nanti setelah lahiran juga dia akan mau"


"sok tahu kamu itu, buk" seakan mematahkan harapan istrinya ditanggapi dengan cemberut yang membuat tuan hardian terkekeh melihat aksi istrinya.


dari muda sampai kini pun rasa cinta pada istrinya tetaplah sama. tak surut termakan waktu, tak usang terkikis usia


~


dikediaman eko


desi tampak didapur sedang membuat makanan kesukaannya. tak ada asisten rumah tangga yang membantunya, memang karena kemauan desi yang tak ingin dibantu.


sedangkan eko yang sedang mencari istrinya, langsung menuju kedapur karena mencium bau harum masakan yang sangat familiar bagi indra penciumannya.


"sayaang" dengan memeluk pinggang istrinya


"mas, ngagetin ah. untung nggak aku pukul pakai spatula ini" sambil menunjukkan spatula yang dipegangnya


"kamu tega mukul aku?" dengan cemberut membuat desi menahan tawa


"sudah ah, mas tunggu dimeja makan gih. ini sebentar lagi juga selesai"


"nggak mau. pengennya peluk kamu terus"


"jangan manja deh"


"kok ngatain aku manja sih, tadi kamu keluar kamar nggak bilang dulu ke aku. aku cariin ternyata malah didapur"


'mulai de, sabaarr' batin desi

__ADS_1


"aku lapar, mas. anakmu ini butuh nutrisi unyuk pertumbuhannya agar sehat"


"kan bisa bilang dulu kalau mau ninggalin aku"


"aku tadi sudah bilang ya mas, kamunya pas dikamar mandi jadi nggak dengar. aku kan lapar, pingin makan hasil karya tanganku sendiri. nih sudah matang. aku mau ambil piring, mas" suaminya yang enggan melepaskan pelukannya akhirnya membantu juga


"biar aku ambilin" melepas pelukannya sambil mengecup pipi kanan istrinya


"he'em" menjawab dengan tersenyum namis kesuaminya


setelah mengambilkan piring di rak dan memberikan pada istrinya, eko kembali memeluk istrinya yang menuangkan nasi goreng kesukaannya


setelah selesai memindahkan semua nasi goreng, eko dengan sigap mengambilnya dan dibawa ke meja makan


"biar aku saja yang bawa, kamu sudah capek masak"


"iya, kita makan bareng ya, sayang"


eko yang sedang meletakkan mangkuk nasi goreng dimeja makan segera menoleh ke istrinya karena mendengar ucapannya


"mana ada?"


"itu tadi, kamu panggil aku sayang"


"mas sendiri kan yang minta dipanggil gitu"


"tapi panggilanmu menggoda imanku, sayang"


"itu mah, perasaan kamu aja" sambil duduk dan mengambil sendok


eko pun juga mangikuti duduk dikursi sebelahnya


setelah berdo'a sebelum makan, desi mulsi menyuapkan makanan kemulutnya dengan khidmat.


melirik sauminya yang tak henti menatapnya dengan satu tangan sebagai penyangga kepala.


"mau?"

__ADS_1


menggeleng kapala


"untuk anak ayah saja, biar tumbuh kuat dan sehat. ayah jadi bisa sering nengokin" jawabnya sambil terkekeh


"itu sih mau kamu, mas"


"kamu juga seneng kan?" sambol menaik turunkan alisnya menggoda sang istri


"biasa aja tuh" jawabnya cuek dan melanjutkan makannya dengan santai


"ih makin gemes deh" sambil menvubit pipi istrinya yang lagi makan


" mas, sakit. aku lagi makan nanti kalau tersedak trus mati gimana" ucapnya asal sambil meletakkan sendok


"ssyang, jangan ngomong kayak gitu. aku gak mau ya" posisi duduk manjadi tegap manghadap istrinya dan menangkup wajah desi dengan kedua tangannya


"jangan pernah bicara untuk ninggalin aku. kamu tahukan, kalau aku sangat mencintaimu? bahkan sedetikpun tak bisa jauh darimu. jangan buat aku takut dengan ucapanmu" matanya sambil berkaca-kaca


"maaf" hanya itu yang keluar karena suaminya dalam mode serius


eko segera mencium kening istrinya dan menarik dalam pelukannya. sejenak pelukan dapat mengurangi rasa takut ditinggal istrinya


"kamu lanjut makannya. aku suapi, ya" mengurai pelukannya


"iya" sambil memandang lekat suaminya


eko dengan telaten menyuapi istrinya sampai nasi goreng dipiring tandas


mengambilkan air putih dan dibarikan ke desi, kemudian mencuci piring bekas desi makan.


desi hanya melihat apa yang dilakukan oleh suainya, protes pun malah hanya saling debat. karena jika suaminya sudah punya kemauan tak bisa dibantah


selesai mencuci piring, menghampiri isttinya


"istirahat yuk, udah malam" ajak eko mengulurkan tangannya dan disambut oleh desi


""iya, mas" hanya itu jawaban pasrah desi atas kemauan suaminya

__ADS_1


__ADS_2