
diluar ruang kamar perawatan eko, tampak empat orang masih berdiri menyaksikan kemesraan mereka. sebenarnya saat sampai, bereka berempat akan masuk keruang rawat tapi karena mendengar perdebatan suami istri didalam menjadi terurung untuk segera masuk
"itu beneran anak kamu, ma?" tanya tuan handi
"anak papa juga kali" nyonya shintia menjawab disertai lirikan tajam
"i-iya. maksudnya anak kita. kok aneh gitu ya?"
"aneh apanya, papa dulu waktu mama hamil malah lebih parah. mintanya disayang-sayang, dipeluk terus"
"hamil? apa desi hamil" pertanyaan nyonya rumi membuat semua orang memandangnya
"jeng shintia tadi bilang dulu waktu hamil, suaminya lebih dari eko kan?" nyonya rumi berusaha mengingatkat ke pernyataan besannya tadi
"ah.... ya" tuan handi dan istrinya manggut-manggut kemudian tersentak
"berarti kita akan punya cucu" seru tuan handi
"lebih baik kita pastikan dulu," tuan handi yang belum menyelesaikan penjelasannya berhenti bicara saat dengan cepat ketiga lawan bicaranya bergegas untuk masuk ruangan itu
suara pintu tebuka dan orang-orang masuk mendekati mereka, desi segera memundurkan diri disertai tangan eko yang meĺepaskan pelukannya
"mengganggu saja" gerutu eko yang masih bisa didèngar oleh mereka diruang itu
mama dan ibuknya tidak menghiraukan eko, langsung menghampiri desi
"kamu sehat, nak" tanya nyonya rumi
"alhamdulilla sehat, buk. memangnya kenapa?" desi heran dengan sikap dua orang wanita yang berdiri dikanan kirinya
'aneh' batin desi
"apa kamu merasa mual, pusing atau ingin sesuatu gitu?" tanya mama
"biasa saja, ma" jawab desi
"mama, jelas-jelas disini yang sakit itu aku. kok malah desi sih yang ditanya" eko jengkel dengan semua yang lebih memperhatikan desi ketimbang dirinya
"sebaiknya kita bawa desi untuk deperiksa dulu, jeng" ajak nyonya shintia pada besannya
"apa nggak nunggu eko sehat dulu, ini bapak sama papanya eko mau berangkat kerja" ujar tuan hardian
"benar papanya desi bilang, ma. kalau kita tinggal, eko sama siapa? kalau ada apa-apa kita sendiri yang repot" ganti tuan handi berusaha membujuk istrinya
" nggak bisa, pa. mumpung ini juga belum terlalu siang, lebih baik kita cepat periksa. ayo, jeng"
"iya, ayo nak" nyonya rumi menjawab dan menggandeng tangan putrinya untuk ikut bersamanya
"yang..... jangan tinggalin aku" eko mulai merajuk
"ihk lebay. bentar doang" jawab mamanya
mereka bertiga keluar ruangan disusul tuan handi dan tuan hardian
"jaga dirimu, papa mau kekantor"
__ADS_1
"bapak juga pamit, semoga lekas sembuh".
"iya, hati-hati dijalan" jawab eko
mereka meninggalkan eko sendirian, dalam ruangan yang sepi dia teringat istrinya. merasa sangat merindukannya bila tak melihat dirinya.
"jangan lama-lama sayang, aku kangen. cepetan kemari dong temeni aku" gumamnya
lama kelamaan perasaannya menjadi sedih karena istrinya tak kunjung datang. kesedihan hatinya merasuk kejiwa hingga mata pun ikut berembun dan suara isakan mulai terdengar dan gerakan bahu yang naik turun juga terlihat.
~
dalam gedung yang sama berbeda ruang, nampak seorang dokter dan didampingi seorang asistennya sedang melayani 3 orang wanita.
"apa sudah di cek sebelumnya?"
"belum, dok" mama yang menjawab
"di cek urin dulu ya" kemudisn menengok kd asistennya " sus, tolong ambilkan alat tes dan bimbing untuk menggunakannya"
"iya, dok. mari, mbak. ikut saya"
desi mengannguk dan bergegas mengikuti suster untuk melakukan tes urin.
menunggu tidak lama, suster datang membawa hasil dan diikuti desi.
"bagaimana? sudah" tanya dokter
"sudah" jawab desi
" dua garis tapi yang satu masih samar" ucap dokter
" maksudnya, dok? " tanya mama
"kehamilannya masih beberapa minggu sehingga alat tes belum bisa mendeteksi secara sempurna.
untuk memastikannya lebih baik kita lakukan USG terlebih dalulu ya"
"iya, dok"
"mari bu desi. silahkan"
desi mengikuti arahan suster untuk berbaring, suster mengoleskan jel pada perutnya yang masih rata.
kemudian dokter mengambik alat pendeteksi yang diletakkan diperut desi serta menggerak gerakkan untuk mendapatkan hasil yang maksimal pada tangkapan monitor.
mama dan ibunya tampak serius memandangi monitor yang terpampang disisi kanan mereka
"nah, itu ada bulatan kecil. itu janinnya masih sangat kecil, dilihat disini usia kandungannya 4 minggu. selamat ya, bu desi. anda akan menjadi seorang ibu" kata dokter sambil meletakkan alat yang dipakai tadi
"Alhamdulillah" ucap mama dan ibunya bersamaan
"selamat jeng, kita akan menjadi nenek"
"iya, selamat juga" sahut nyonya rumi
__ADS_1
desi yang baru turun dari tempatnya berbaring dan merapikan kembali bajunya segera disambut oleh kedua wanita itu.
"selamat sayang, kamu akan menjadi ibu. jaga dia dan jaga kesehatan kamu juga" pesan nyonya rumi
"iya, buk. insya Allah akan selalu kujaga"
"semoga sehat selalu sampai lahiran juga lancar" nyonya shintia
"Aamiinn" jawab serentak yang ada diruang itu
semua terkekeh bersama
"ini saya buatkan resepnya, nanti ditebus di apotek ya, bu." ucap dokter
"terima kasih, dok. kami permisi" desi
setelah pamit dan mengucap salam, mereka bertiga bergegas keruang rawat eko dengan perasaan bahagia.
sesampai diruangan itu, alangkah terkejutnya mereka melihat eko yang terisak.
"ada apa, sayang" tanya desi segera mendekati eko dan menyentuh tangan yang menutupi kepalanya
"huaaa haaa" tangis eko semakin pecah saat desi didepannya
"ada apa sih, malu maluin. udah tua juga masih kayak anak TK" ucap mamanya
desi yang merasa aneh dengan sikap suaminya mencoba menenangkan, duduk dibrankan suaminya berbaring dengan membelai rambut dan punggung secara bergantian
eko yang masih berbaring sambil memeluk pinggang istrinya.
"jangan tinggalin aku, sayang" ucapnya yang masih terisak
"aku selalu disini, sayang. sudah ya, cuupp" sambil mengelus elus punggung suaminya
"apa kamu nggak mau mendengar berita bahagia?" ucap ibuk
"berita apa?" ucap eko sambil memperlihatkan wajahnya yang sembab sambil mendongak melihat istrinya
desi tersenyum, membelai wajah suaminya yang masih terlihat sisa air matanya
"kita akan menjadi orang tua, mas" ucapnya dengan tersenyum
"maksud kamu" eko sambil mengalihkan pandangannya kebawah dan berhenti diperut istrinya
"iya, sayang. disini ada anak kita" desi mengambil tangan eko yang tidak terpasang infus untuk diletakkan diperutnya yang masih rata.
"alhamdulillah, ya Allah. aku akan jadi ayah, mam" melihat wanita yang melihirkannya
"selamat ya. kamu harus menjaga dan memastikan kesehatan mereka" ucap nyonya shintia terharu melihat putranya bahagia
"selamat ya, nak. kalian akan menjadi orang tua. jaga amanah yang dititipkan pada kalian dengan baik" nyonya rumi
suasana bahagia menyelimuti mereka hingga dering ponsel milik desi mengalihkan perhatian mereka
dia mengambil dan menolak panggilan itu, kemudian mengetik pesan singkat dan mengirimnya
__ADS_1
eko hanya diam walau dalam hati begitu penasaran.