
pertempuran 2 penjaga lawan 10 tidak berlangsung lama, tiga orang segera berlari menuju ke arah eko yang sedang diikat diatas kursi. mereka melepaskan ikatannya dan membopong tubuh eko yang lemas menuju mobil.
dalam perjalanan menuju rumah sakit, eko yang lemah berusaha untuk bertanya.
"sssi-apa kalian?" ucap eko lirih dan terbata-bata
"kami akan mengantar anda ke rumah sakit tuan. luka anda harus segera diobati, lebih baik beristirahat saja menghemat tenaga" ucap sopir yang mengemudi
dia hanya diantar oleh sopir saja, sedangkan yang lain tetap menjaga dengan mengikuti menggunakan mobil lain agar tidak mencolok
perjalanan yang tidak terlalu lama hingga sampai di rumah sakit besar yang dipimpin oleh om bram
mobil berhenti didepan ruang ICU, sopir segera keluar untuk membantu eko keluar mobil. sedangkan perawat yang melihat ada mobil berhenti didepan ruang ICU segera menghampirinya
" perlu menggunakan kursi roda atau brankar, tuan?" tanya perawat pada sopir
"brankar aja mas, cepetan" ujar sopir itu
setelah brankar datang, eko dibaringkan dibrankar dan didorong masuk ruang ICU
"sebaiknya anda urus administrasinya dulu, tuan" kata suster pada sopir yang ikut mendorong brankar eko
"begini suster, pasien ini tanggung jawab dokter bram. tolong suster hubungi dokter bram, pimpinan tumah sakit ini. saya tadi hanya sekedar menolongnya saja, saya permisi" sang sopir segera berlalu meninggalkan suster itu
suster segera masuk menemui dokter yang menangani eko.
"Dok, pasien ini yang bertanggung jawab dokter bram" ucap suster
"bagaimana bisa?" ucap dokter itu yang didadanya tertulis dr. irwan syaifudin
"bisa" yang menjawab eko
semua diam dan menatap eko
hingga dokter irwan sadar dan secepatnya menyutuh suster menghubungi dokter bram
"baiklah, tepon dokter bram sekarang juga"
"siapa namamu?"
__ADS_1
"eko"
"dan katakan kalau ada pasien yang bernama eko sedang di UGD"
"baik, dok. saya permisi" ucap suster ity
dokter segera bekerja mengobati luka eko lagi. setalah selesai dan membereskan kapas serta obat, dokter bram datang
"ini kamu kenapa bisa kayak gini, ko?" tanya om bram
eko belum menjawab
"sebaiknya pasien dipindahkan keruang inap dulu, dok" ucap dokter irwan
"baiklah, siapkan ruang VVIP" perintah dokter bram
"baik" kemudian melihat suster asistennya
"suster, tolong siapkan ruang VVIP sekarang dan segala keperluannya" perintah dr. irwan pada asistennya
"baik, permisi" ucap suster sang asisten dokter irwan dan segera meninggalkan ruangan itu
"istrimu sudah tahu kalau kamu dirawat disini?"
"balum, om. tolong kabari ya" pinta eko dengan suara lemah dan mulut terasa kaku sehingga suaranya kurang begitu jelas
meskipun begitu, om bram mengerti apa yang dimaksud oleh keponakannya itu
dokter bram melihat benda melingkar di tangan kirinya menunjukkan pukul 21.10 WIB dan segera merogoh sakunya mengambil benda pipih kemudian mencari nama kakak sepupunya.
setelah menemukan, menekan tanda untuk menghubunginya
tidak menunggu lama, hanya dua kali suara bunyi tanda hubung ternyata sudah diangkat oleh empunya
"ada apa bram?"
"assalamualaikum" ucap om bram
"waalaikumasalam, ada apa?" jawab papa eko
__ADS_1
"eko dirawat dirumah sakit, sekarang masih di UGD dan bentar lagi dipindahkan keruang perawatan"
"hah ... kok bisa?"
"ya nyatanya bisa. dia masih lemah, belum bisa diajak bicara. hatus istirahat untuk pemulihan"
" Oke, kami akan segera kesana"
belum juga dokter bram mengucap salam, sambungan telepon sudah terputus
"haish, kebiasaan nih orang. main putus aja tanpa salam" gumam dokter bram memandang hand phone nya kemudian memasukkannya dalam kantong lagi
pintu dibuka dan masuklah beberapa perawat
"ruangan sudah siap, dok. pasien kita pindahkan sekarang"
"baiklah, mari"
eko didorong oleh 2 perawat dan diikuti dokter bram. setelah sampai diruang perawatan, dipindahkan ke brankar yang lebih bagus dan lebih nyaman dari yang sebelumnya.
~
di rumah eko
setelah kedatangan orang tua desi, mereka berlima menunggu kabar dari asisten jerry
mereka berdebat karena informasi yang ditarima tuan handi, keuangan untuk mencelakai eko atas nama perusahaan tuan hardian
tuan hardian pun tak terima dituduh mencelakai menantunya sendiri
hingga deringan ponsel tuan handi menghentikan perdebatan itu
semua melihat tuan handi yang menerima telpon, karena menyebutkan nama eko. dan menunggu percakapan tuan handi selesai.
setelah selesai, tuan handi segera mengajak mereka kerumah sakit karena eko saat ini sedang dirawat disana
"siapa, pa?" tanya nuonya shintia
"bram. eko kritis, di UGD. sekarang kita kesana" ucap tuan handi segera menuju mobilnya diikuti istri, menantu dan besannya yang masuk kemobilnya sendiri karena sopirnya masih menunggu.
__ADS_1
setelah semua masuk mobil, kendaraan mereka membelah jalanan dengan kecepatan yang melebihi kadar normal untuk segera sampai tujuan dengan cepat.