BUNGA DESA YANG TERBUANG

BUNGA DESA YANG TERBUANG
14


__ADS_3

satu minggu telah berlalu setelah pertemuan kerjasama kedua perusahaan.


kediaman keluarga hardian kedatangan tamu secara mendadak. ketiga tamu tersebut telah dipersilahkan masuk ke ruang tamu oleh pelayan rumah itu.


setelah menunggu akhirnya tuan rumah menemui mereka dan berbincang


"apa kabar Tuan Handi" sambil berjabat tangan dan tersenyum ramah


taklupa menyapa wanita yang ada disebelahnya serta pria yang dia kenal sebagai dokter


walaupun perusahaan mereka bekerja sama, tuan Handi dan Tuan Hardian hanya bertemu beberapa kali saja karena memang tuan handi tidak mengurus perusahaan di indonesia, mereka bertemu hanya saat peresmian peluncuran produk baru saat awal kerjasama.


"alhamdulillah baik Tuan Hardian"


"maaf jika kami datang kemari tidak memberi kabar terlebih dahulu" yang tak kalah ramah saat menjawabnya


"oh tak apa, tuan. silakan duduk"


"terima kasih"


setelah semua duduk bersama, barulah Tuan hardian menanyakan tujuan kedatangan mereka


"apakah ada sesuatu hal yang penting hingga membuat anda sampai kemari?"


"begini.....sebelum kakek wafat, beliau berpesan pada saya. keinginannya menjadikan pitri anda sebagai menantu dirumah kami"


"menurut saya ini adalah amanah kakek. bagaimana menurut anda?


"apakah tuan dan nyonya juga menginginkan putri kami sebagai menantu kalian?"


"pilihan kakek pastinya yang terbaik. karena ini merupakan amanah, kami juga menginginkannya seperti kakek"


" alangkah baiknya kalau anak-anak saja yang memutuskannya karena mereka yang menjalaninya"


"apakah anda keberatan dengan permintaan almarhum kakek?"


"saya tidak pernah keberatan, saya juga tidak akan memaksakan kehendak pada putri saya."

__ADS_1


"apalagi pernikahan yang merupakan tali ikatan sakral antara dua insan yang berbeda untuk hidup bersama"


"semua butuh proses tuan, lebih baik mereka saling mengenal dulu"


" saya juga mendukung kalau mereka merasa cocok satu sama lain" imbuh nyonya hardian setelah menyuguhkan teh dan camilan diatas meja ruang tamu yang diantarkan oleh bibik


keinginan almarhum kakek untuk menjodohlan cucu dan putri tuan hardian membuat mereka memutar otak. karena kabar yang didengar, putra tuan handi seorang cassanova. mana mungkin dia menjodohkan putrinya yang seorang gadis desa dengan sang cassanova? ah, tak relalah hati kedua orang tua itu.


"silahkan diminum. dan ini kue buatan putri kami, silahkan dicicipi" imbuhnya


" ah ya. putri anda pintar memasak juga?" tanya nyonya handi


"masih belajar, kalau berumah tangga nantinya bisa mengurus perut suami" ujar nyonya hardian sambil terkekeh


semua yang ada diruang itupun tertawa bersama


"apakah putri anda tidak dikenalkan pada kami? nyonya handi


"dia masih dikantor, tadi berangkat pagi sekali"


"ia anak kami satu-satunya, yang akan meneruskan untuk mengelola perusahaan nanti ya dia" jawab tuan hardian


"bagi kami tidak masalah berkarir atau ibu rumah tangga saja yang penting bisa membagi waktu dengan keluarga" imbuh tuan handi


"apa sebaiknya kita adakan makan malam untuk memperkanalkan mereka?" dokter pram angkat bicara


"saya sependapat dengan anda, dok" imbuh tuan hardian


" baiklah, nanti malam saja" tuan handi


"di resto anggrek saja, dari sini tidak jauh dan dari kediaman kakak juga nggak jauh" masukan dari dokter pramono


"baiklah, jam 8 malam nanti" tuan hardian


seyelah tercapai kata sepakat makan malam bersama, mereka bertiga mengudurkan diri


tuan dardian besrta istrinya mengantar tamu sampai teras, hingga mobil yang ditumpangi tamunya hilang dari pandangan.

__ADS_1


kemudian masuk rumah sesampainya diruang keluarga, ibu rumah tangga itu menyampaikan angan-angannya kepada sang suami


"pak, apakah mereka nanti akan menerima segala kekurangan putri kita termasuk masa lalunya"


"setiap orang punya masa lalu buk, biarkan mereka berkenalan saja dulu. keputusan tetap ada ditangan mereka, kita do'akan yang terbaik buat desi"


"iya pak" sambil menghembuskan nafas pelan


"secepatnya hubungi desi, biar bisa datang tepat waktu"


" bapak kekebun dulu, memastikan keadaan disana aman"


"iya, pak"


hari yang cerah mulai berganti gelap, lampu-lampu berjejer dijalan sebagai penerang.


resto anggrak telah direservasi, jam didinding resto menunjukkan pukul 7.50 keluarga tuan hadi telah tiba. mereka bertiga yaitu tuan handi, nyonya shintia dan eko.


selang lima menit setelahnya, keluarga tuan handi tiba. mereka dipandu oleh pelayan resto menuju tempat orang-orang yang telah menunghunya.


setelah salam dan saling menyapa, mereka memperkanalkan anak-anaknya.


eko mengatupkan kedua tangan didepan dada desi juga melakukan hal yang sama.


tuan handi yang bingung dengan tingkah putranya, menatap dan mengernyitkan dahi seakan bertanya


ako hanya melirik sekilas pertanda paham dari tatapan ayahnya.


"apa kabar nona desi" sambil menatapnya


"alhamdulillah baik" sambil menundukkan pandangannya


setelah makanan datang, mereka makan bersama sambil ngobrol.


eko selalu mencuri pandang pada desi setiap ada kesempatan.


setelah makan malam selesai, barulah mereka mengutarakan keinginan almarhum kakek dalam perjodohan.

__ADS_1


__ADS_2