BUNGA DESA YANG TERBUANG

BUNGA DESA YANG TERBUANG
20


__ADS_3

saat mereka berdua baru sampai diruang makan, tuan hardian dan istrinya yang melihat hanya meliriknya kemudian saling pandang.


setelah mengucapkan salam pagi, pengantin batu duduk bersebelahan tepat didepan ibunya desi.


"pengantin baru makan yang banyak, biar nggak kehabisan energi" ucap ibunya desi


"ibuk ini ada-ada aja, adah makan aja" sahut pak hardian


desi mengambilkan nasi sedikit, sayur yang lebih banyak kemudian lauknya juga.


disaat semua khusuk dengan piringnya masing-masing, bibik datang dan menghampiri majikannya.


"tuan, maaf. ada yang ingin bertemu dengan anda. katanya penting" ucap bibik sambik menunduk


"baiklah. bibik kebelakang saja" jawab tuan hardian


" baik tuan, permisi" bibik kemudian berlalu meninggalkan ruqng makan yang berbarengan dengan tuan hardian berdiri dari duduknya.


"kenapa tidak dihabiskan dulu sarapannya pak?. memang siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" tanya nyonya rumi


"kalau sampai kerumah berarti sangat penting buk. bapak tinggal dulu, kalian lanjutkan sarapannya"


tidak lama, tuan hardian masuk lagi dengan membawa amplop coklat. kebetulan merrka bertiga baru selesai sarapan.


"jelaskan ini!" tuan hardian melempar amplop yang dibawanya ketubuh menantu barunya dengan menahan marah.


semua yang duduk dimeja makan kaget kemudian eko mengambil amplop itu dan membukanya. terkejut bukan kepalang spontan berdiri


"apakah itu benar?" eko hanya mengangguk


Buhg


Bugh


"bapaaak" jerit nyonya rumi dan desi


pukulan mengenai wajah eko.


" apa maksud dan tujuanmu?" tanya tuan hardian sambil menarik kerah baju eko dengan menggunakan kedua tangannya


"kau sudah berhasil masuk kedalam keluargaku dan akan menghancurkannya... jangan mimpi!" katanya dengan diikuti satu bogem mentah yang mengenai pelipis eko


dua wanita itu menangis sambil berpelukan, karena desi yang ingin memisahkan suami dan bapaknya dicegah oleh sang ibu. nyonya rumi tahu betul suaminya jika sudah tersinggung harga dirinya akan sangat marah, makanya dia tidak berani menghentikan suaminya.


eko yang terkena tonjokan seketika tersungkur dilantai. dia tidak berani membantah mertuanya karena benar dari laporan yang dia baca bahwa dirinyalah yang mengambil mahkota putrinya, tapi juga bingung karena dia tak pernah ada niatan untuk menghancurkan keluarga istri tercintanya.


" maafkan saya pak, saya memang yang telah melakukannya pada putri bapak---"

__ADS_1


belum selesai menjelaskan, pukulan telah mendarat mengenai pipi kanannya.


"paak" jerit desi sambil menangis


"dengarkan dulu penjelasan mas eko, pak" pintanya pada tuan hardian


"penjelasan apa lagi! semua sudah jelas" melihat bapaknya yang marah dan berbicara dengan nada tinggi membuat nyali desi menciut untuk membela suaminya.


dengan tangis dan badan gemetar desi memberanikan diri melangkah mendekat membela suaminya.


"aku mencintainya pak, tolong hentikan!"


"cihh..., mendapatkanmu dengan cara yang kotor untuk memuluskan rencananya"


"itu tidak mungkin pak, kami saling mencintai. aku percaya pada suamiku"


"terserah percaya atau tidak, sekarang juga dia harus pergi dari rumah ini" kemudian pergi menuju ruang kerjanya


setelah kepergian tuan hardian, eko yang babak belur dihajar mertuanya dibantu istrinya duduk disofa sedangkan bu rumi pergi untuk mengambil kotak es dan juga kotak p3k yang letaknya tak jauh dari kulkas untuk.


" ini untuk mengobatinya "nyonya rumi menyerahkan pada desi


"terimakasih buk"ucap desi kemudian mulai mengobati suaminya karena sudut bibirnya juga berdarah


"untuk sementara sebaiknya kalian tinggal dirumah kakek, sampai keadaan membaik" ucap bu rumi saat duduk di sofa seberang anak dan menantunya


"itulah yang harus kau cari tahu" ucap ibunya tegas


"maksud ibuk?"


" kalian telah terikat tali pernikahan yang sakral, harus saling mendukung dan menguatkan. ibuk akan selalu mendukung kalian."


"kalau sudah selesai segera bersiaplah" lanjut nyonya rumi


desi segera kekamar meninggalkan eko dan nyonya rumi yang masih duduk ditempatnya untuk membawa barang yang dianggap perlu saja. saat desi meninggalkan mereka berdua, nyonya rumi menitipkan putri kesayangannya.


walau bagaimanapun perasaan seorang ibu sangat sedih saat anaknya meninggalkan rumahnya. beliau bisa menahan perasaan sedihnya karena ini kepergian anaknya yang kedua dari rumahnya walau berbeda cara.


"nak eko, desi putri satu-satunya keluarga ini. kami sangat menyayanginya, tolong jaga dia"


"ibuk tidak usah khawatir. selama kami bersama, saya akan selalu menjaganya dengan seluruh jiwa raga saya, buk. saya janji"


"ibuk pegang janji kamu"


"iyah"


"ngomong apa sih, kok kelihatannya serius banget?" desi yang datang tiba-tiba

__ADS_1


"kamu sudah siap?" tanya eko


"sudah"


"bapak-----" ucap eko terpotong saat meryuanya menyela


"nggak usah pamit bapak, nanti saya sampaikan. lebih baik kalian segera berangkat"


"apa tidak apa-apa buk" desi yang merasa ragu


"barangkat saja, nggak papa. nanti ibuk yang bicara"


keduanya mengangguk dan berpamitan mencium punggung tangan nyonya rumi secara bergantian kemudian berjalan menuju mobilnya eko.


belum jauh keluar dari rumah itu, mobil eko dilempari beberapa tomat busuk oleh segerombol pemuda didesa itu.


eko yang kesal menepikan mobilnya hendak keluar tapi dilarang oleh desi. karena kondisi eko setelah dihajar bapaknya, membuat desi bersikukuh melanjutkan perjalanan.


~


kediaman kakek


nyonya shinta yang mendapat pesan dari putranya sangat bahagia dan segera menyambut kedatangan anak dan menantunya.


kediaman kakek merupakan rumah utama yang ditempatinya sampai akhir menutup mata. sedangkan rumah eko peninggalan kakek yang memang dipersiapkan untuknya.


"bik mun, itu sepreinya diganti ya...." utus nyonya shinta pada pelayan rumah itu


"iya nya. emang tuan muda mau tinggal disini sama istrinya nyah?"


"hanya sementara, bik. bik mun tahu kan gimana eko? anak itu selalu mandiri dan ingin bebas."


"bagamana dengan istrinya? maksud saya, apakah sudah tahu jika tuan muda gemar ganti pasangan"


"bik mun jangan khawatir, justru istrinya yang membuat dia insaf"


mereka mengobrol sambil mengganti seprei dan merapikan serta membersihkan kamar itu.


bik mumun pelayan kakek terlama, karena sejak usia smp sudah membantu orang tuanya yang bekerja sebagai pengurus taman dan kabun belakang rumah. hingga sekolah dibiayai oleh kakek. walaupun sampai lulus sarjana, bik mumun tidak mau bekerja dikantor tetapi sebagai asisten rumah tangga kepercayaab kakek.


usia bik mun 3 tahun lebih tua dari tuan handi, makanya beliau sudah dianggap seperti kakak oleh majikannya.


kedua wanita itu keluar dengan senyum merekah saat diberitahu pelayan lain jika tuan muda telah tiba.


"kamu kenapa sayang" ucap nyonya shintia khawatir sambil menatap putranya dengan tangan mengusap pelan


"nggak papa mah, bentaran sembuh. kita kekamar dulu ya mah"

__ADS_1


" mamah pengen ngobrol sama mantu menantu, kok pelit banget sih" ucapnya sambil cemberut


__ADS_2