
"sebaiknya kita kedalam dulu buk, nggak enak kalau dilihat orang. ayo ndok!"
anggukan kepala menandakan menyetujui ajakan kepala keluarga itu, dalam suasana haru dan tangis bahagia sambil rangkulan mengiringi langkah mereka sampai diruang keluarga duduk disofa bersama-sama.
setelah ritual tangis dan pelukan mulai lerai, barulah pria dewasa itu angkat bicara
"selama ini kamu tinģal dimana ndok? semua orang suruhan bapak tak bisa menemukanmu"
tuan hardian sengaja menanyakan kabar putrinya terlebih dahulu karena dari yang dia lihat keadaannya baik-baik saja, justru penasaran selama ini dimana anak semata wayangnya tinggal.
istrinya yang mendengar pertanyaan tuan hardian merasa tersinggung dan menjawab ucapan suaminya
"pak!!! anak baru pulang bukannya ditanya kabarnya? sudah makan apa belum? apa ada yang sakit? ini malah nanya tempat tinggal duluan" ucap bu rumi menekan kata-katanya
suaminya yang mendapat cercaan dari istri tercinta hanya diam karena merasa bersalah
desi yang duduk diantara ibak bapaknya mulai bersuara
"buk, sudah.... "
"sebaiknya kamu sarapan dulu?"
"nanti saja, masih kangen sama ibuk dan bapak"
"baiklah, bagaimana keadaanmu sayang?
"aku baik-baik saja buk" kemudian menoleh ke bapaknya "selama ini aku tinggal dibagian barat kota"
semua terdiam saat bibik datang membawakan minum dan camilan. setelah meletakkan bawaannya, bibik menatap majikan mudanya itu seraya berkata
"bibik kangen sama non desi"
"desi juga kangen bibik, masakan bibik juga hehehe"
__ADS_1
" kalau begitu bibik masak makanan kesukaan non desi, nanti harus dihabiskan ya"
"perutku cuma sejengkal bik, mana muat kalau menghabiskan masakan bibik yang banyak hahaha"
"ih, non mah makin pinter aja ngejawabnya. yasudah, bibik kebelakang dulu"
"mari tuan, nyonya"
"iya bik, terima kasih"
"sama-sama nyonya"
setelah bibik pergi dari ruang keluarga, suasana kembali hening sejenak, pandangan kedua orang tua tertuju pada anaknya menantikan penjelasannya.
desi yang paham akan tatapan keduanya, kemudian dia mencaritakan lingkungan tempat tinggalnya selama ini dan bersama siapa dia tinggal termasuk kesehariannya selama disana.
"ibuk senang ternyata kau hidup dengan orang-orang yang baik"
" ndok, kalau selama ini ibuk dan bapak ada salah sama kamu tolong dimaafkan ya. dan bilang ke kami bila kau tak suka dengan segala aturan dirumah ini kita bisa bicsrakan baik-baik, jangan main pergi saja tanpa memberi kabar"
"maafkan saya buk, maaf"
"ada apa ndok? ceritakan semua pada kami. jangan ada yang ditutupi lagi" tuan hardian sambil membimbing tubuh desi untuk duduk kenbali disofa dan dibantu oleh istrinya karena merasa bingung dengan sikap anaknya
setelah beberàpa saat tangisnya mulai reda, gadis itu beberapa kali mengambil nafas dalam dan menghembuskannya. sementara sang ibu mèngusap punggung dengan lembut untuk memberi kekuatan dan dukungan.
dirasa telah lebih baik, akhirnya desi mulai angkat bicara
"sebenarnya desi sangat bersalah sama bapak dan ibuk karena tidak bisa menjaga kehormatan desi sendiri hiks hiks"
Deg
bagai disambar petir hati kedua orang tuanya, beberapa saat terdiam dan akhirnya tuan hardian angkat bicara
__ADS_1
"siapa laki-laki yang telah berani mengambil kehormatanmu" suara yang terdengar geram menahan amarahnya dengan mata yang sedikit berkabut
desi hanya diam, karena mengingat beberapa hari yang lalu telah bertemu dengan pria yang mengambil mahkotanya disebuah rumah mewah
"apa dia menyakitimu ndok? atau mengancammu? dan bagaimana kejadian yang sebenarnya? kau mengenal laki-laki itu?" terdengar suara nyonya rumi memberondong dengan pertanyaan yang dikeluarkan dari unek-uneknya
"aku tidak mengenalnya"
"kejadian itu terjadi saat terakhir aku meninggalkan rumah ini untuk acara persiapan perpisahan, setelah mengambil baju ibuk di butik, aku terserempet mobilnya. awalnya dia baik dengan membawaku ke rumah sakit dan bertanggung jawab atas semua biaya serta menungguiku sampai aku siuman. yang sebenarnya lukaku tak parah, tapi karena aku lupa mengisi perutku sejak siang hingga kejadian kecelakaan membuat shok dan akhirnya pingsan saat perjalanan ke rumah sakit"
menjeda ucapannya dang menghirup napas dalam secara perlahan kemudian melanjutkannya lagi
"saat baru siauman, dia juga yang merawatku dan membantu menyiapkan makannan. saat aku pinjam hpnya untuk menghubungi keluargaku, dia bilang nanti akan menghubungi kalian setelah aku menyelesaikan makan dan minum obat kemudian menyuruhku istirahat dulu. saat aku bangun hiks hiks"
dia tak mampu menyelasaikan ceritanya, namum kedua orang tuanya paham apa yang dimaksud dari akhir cerita anak gadisnya itu
desi terisak dalam pelukan ibunya, tidak lama kemudian melanjutkan ucapannya
"dia tinggal dikota, perumahan elit yang paling mencolok dari rumah sekitar di jalan pahlawan"
bapak dan ibunya menatap dengan tatapan yang penuh tanya
"bagaimana kau tahu ? tadi kamu bilang tak mengenalnya"
"aku tahu saat dipanggil untuk mengobati salah satu palayan dirumah itu, saat teraphi yang terakhir tiba-tiba supirnya mengatakan kalau bosnya ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih. disitulah aku tahu dia pimilik rumah mewah itu, dan kelihatannya dia pun sangat kaget dengan pertemuan yang mengejutkan itu"
"apa dia berlaku kasar padamu?"
"tidak pak. ia hanya diam tanpa berkata apapun sampai aku pergi maninggalkan rumah itu"
'aku akan membuat perhitungan dengannya' batin tuan hardian
"sebaiknya kamu istirahat dulu ndok"
__ADS_1
"bapak mau meninjau lokasi proyek"
~