BUNGA DESA YANG TERBUANG

BUNGA DESA YANG TERBUANG
Sarapan


__ADS_3

suara burung dipagi hari sangar berisik memecah kesunyian hingga terdengar dikamar desi.


dua insan yang masih bergelung selimut perlahan mengerjapkan mata, pertanda waktunya bangun


"mas, kita kesiangan bangun. yuk, segera sholat subuh dulu"


"hmmm, yuk sayang" eko yang sekarang lebih sering sholat berjamaah dengan istrinya


karena sebelum menikah, dia digilakan oleh kerja hingga sholat ditinggalkan dengan dalih sibuk. sholat yang tidak pernah ditinggal hanya sholat ied saja.


walau keluarganya mendidik ilmu agama dari kecil, nyatanya pemahaman tentang agama dan akhlak masih minim sehingga mudah teralihkan saat datang kesibukan duniawi


"kita ngaji sebentar, sayang" ucap eko yang melihat desi segera meninggalkan tempatnya sholat


"ini udah kesiangan, mas. aku harus segera buat sarapan untuk kamu, nanti terlambat berangkat kekantornya. nggak enak juga sama ibuk"


"nggak apa-apa, kita ngaji bentar. kamu tidak boleh capek, kemarin habis acara pasti kamu capek. ibuk juga pasti ngerti kok. soal sarapan dipikir nanti aja ya"


akhirnya desi menurut pada suaminya. disaat mereka baru selesai mengaji, terdengar suara ketukan pintu


tok


tok


tok


desi segera berjalan kearah suara dan membukanya, ternyata ibunya yang mengetuk pintu kamarnya


"ibuk"

__ADS_1


"segeralah turun dengan suamimu, kita sarapan bareng" pinta nyonya rumi kalem dengan senyoman menawan


"iya, buk. maaf, desi nggak bantu ibuk manyiapkan sarapan karena bangunnya kesiangan" dengan perasaan bersalah


"nggak apa-apa ndok, kamu juga capek pastinya. sudah, ajak suamimu cepat kabawah. jangan buat bapakmu lama menunggu, ibuk kebawah dulu"


"iya, buk" segera menoleh kebelakang dan mengajak suaminya


"ayo, mas. nggak enak bapak menunggu kita lama"


"iya sayang" meraka berjalan bersama dengan hati-hati karena desi tidak bisa berjalan cepat semenjak perutnya semakin membesar


dimeja makan sudah menunggu kedua orang tua desi


"maaf, kami membuat bapak menunggu" ucap eko merasa tak enak hati karena mertuanya menunggu dirinya unyuk sarapan. seharusnya mereka yang muda yang menunggu, ini malah sebaliknya


"unyuk apa minta maaf, bapak juga baru siap disini. duduklah, kita segera sarapan. kasihan makanannya dianggurin hhhh" bapak desi berusaha mencairkan suasana


saat desi hendak mengambil nasi, ibunya melarang


"biar ibuk saya yang amnilkan, ndok"


"tapi, buk.."


"kamu duduk manis saja ya, nurut sama ibuk"


kata pamungkas nyonya rumi agar desi menurutinya.


akhirnya desi kembali duduk dikursinya

__ADS_1


"maklumi saja, ndok. ibuk mu kangen memanjakanmu seperti dulu" ucap tuan hardian


"tidak setiap hari juga kamu disini, biarkan ibumu merasakan memiliki dua anak" lanjutnya


"memang bapak nggak pengen ngasih teman buat desi?" pertanyaan yang keluar dari mulut eko spontan


sementara nyonya rumi yang mengambilkan makanan untuknya berhenti sebentar dan tersenyum memandang eko


"tidak bisa, karena untuk menghadirkan desi saja butuh perjuangan" jawab bapaknya desi


"rahim ibu sudah diangkat" sahut nyonya rumi


"karena ada penyakit dalam rahim ibu. dulu dokter memvonis ibu gak bisa hamil, kalaupun hamil dan mempertahankan janinnya maka ibu tidak akan bisa bertahan karena penyakit itu. semua atas kuasa yang kuasa Allah akhirnya ibu dikaruniai malaikat kecil, walau akhirnya rahim ibu harus diangkat" jelas ibuk dengan singkat


karena keinginannya memiliki anak banyak, sesuai pepatah 'banyak anak, banyak rejeki' telah terpatahkan


"maaf, saya tidak bermaksud..."


"sudahlah nggak usah dipikirkan, cepat makan. berdo'a dulu tapi" ujar nyonya rumi disertai senyuman


"iya buk" eko segera berdo'a dan makan dengan tenang bersama desi dan tuan hardian juga nyonya rumi


setelah selesai sarapan, eko segera pamit pada kedua mertuanya. karena memang pekerjaanya tidak bisa dibuat santai dan harus ada target pencapaiannya


.


.


jangan lipa mampir dicolekan aku yang lain ya thor

__ADS_1


makasih yang udah setia baca, jangan lupa tinggalin jejaknya....



__ADS_2