
desi juga tersenyum mendengar perkataan bu narsih.
" ayo kita makan dulu" ajak bu narsih
"saya nggak lapar, bu" jawab desi
"lapar atau tidak, tubuhmu butuh energi. energi didapat dari makan dan minum. kalau tidak makan minum, sama saja tubuhmu kau siksa. menyiksa diri sendiri itu dosa lho" kata bu narsih mencoba memberi pengertian pada desi.
'aku sudah berkelimang dosa bu' batin desi
" iya bu..." jawab desi
keduanya menuju meja makan dan menikmati makanan dengan tenang.
setelah selesai makan, membereskan sisa makan dan membersihkan peralatan yang dipakai, mareka berdua duduk di kursi depan TV sambil ngobrol.
" nak, kalau memang kamu tidsk ada tempat tujuan, lebih baik tinggal disini saja sama ibu. ibu tinggal sendiri" ucap bu desi
__ADS_1
"pa tidak merepotkan ibu?" balas desi
" tidaklah, malah ibu seneng ada yang menemani"
" ibu tidak akan bertanya permasalahan kamu nak, kalau kamu sudah siap bercerita kapanpun ibu akan dengan senang hati menjadi pendengar" lanjut bu narsih " jangan terlalu memikirkan masalah, gusti Allah memberi ujian pada umatnya sesuai dengan kemampuan. semakin sering diuji, semakin bertambah tingkatan keimanan seseorang untuk selalu dekat dengan penciptanya. setiap masalah pasti ada solusinya. seluas luasnya samudra pasti ada pantainya," bu narsih menjeda kalimatnya dengan mengambil nafas dalam dan menghembuskannya "setiap insan yang mendapat ujianpun tidak sama, ada yang diuji dengan harta, pasangan, anak, keluarga dekat, kesehatan, dan masih banyak ujian lainnya. yang intinya, setiap ada ujian kita pasrahkan pada Gusti Allah dan memohon petunjukNya agar segala keputusan yang kita ambil tidak menyesatkan kita pada hal hal yang justru memperburuk kita dimàta Allah"
" Allah maha mengetahui segala yang tidak kita ketahui, apabila sudah 'Kun fayakun' maka yang terjadi terjadilah." ucap bu narsih panjang lebar menatap kedepan. Desi hanya diam, mendengarkan dan mencerna perkataan bu narsih
" nak, seberapa besarnya masalah yang kau hadapi... pasrahkanlah pada Allah, tabahkanlah hati dan bersabarlah" lanjut bu narsih sambil menatap Desi.
"iya bu.." jawab Desi
setelah masuk kamar, desi merebahkan tubuhnya pada kasur usang diatas dipan.
posisi terlentang menghadap langit langit rumah yang belum diplavon
' benar kata bu narsih, aku harus bangkit dari keterpurukan ini, toh disini tidak ada yang mengenalku' batin desi. sekelebat kemudian bayang bayang dirinya saat berada di lingkungannya. semua memujanya, gadis desa yang dikagumi semua kalangan bahkan menyematkan gelar bunga desa. desi hanya tersenyum miris kala mengingatnya dan sekarang telah menjadi bunga desa yang terbuang karena kacalakaan yang menimpanya awal mula kehancurannya.
__ADS_1
" aku harus bangkit dari keterpurukan ini, meninggalkan semua identitasku dan menggunakan identitas baru" gumam desi sangat pelan. tak terasa masuk kedalam dunia mimpi karena lelah pikiran maupun badan
#Rumah keluarga Desi
ibunya yang mendapat paket telihat membeo dan heran, karena tidak merasa membeli apapun lewat aplikasi online. setelah dibuka, teryata baju yang diambilkan desi dari penjahit langganannya. disana juga terselip kertas kecil berisi pasan tulisan tangan desi.
Degh
tangan gemetar, air bening meluncur dari kelopak matanya, takterasa luruh terduduk dilantai dengan suara tangis yang menggugu dan sesenggukan
"kamu dimana ndok?"
"apa yang sebenarnya terjadi?"
"pulanglah ndok, ibuk sayang Desi huu uhuhu..."
suara tangis seorang ibu mengiris hati siapapun yang mendengarnya.
__ADS_1