
tak membutuhkan waktu lama bagi nyonya rumi mempersiapkan makanan yang akan dibawa kerumah desi.
tuan hardian yang melihat istrinya telah siap dan membawa tentengan makanan segera berdiri
"langsung berangkat buk?"
"iya, ayo pak. takut kemaleman nanti pulangnya"
mereka berjalan bersama menuju mobil, sopir telah siap membukakan pintu majikannya itu.
setelah nyonya rumi masuk, sopir segera menuju kemudi karena tuan hardian masuk mobil tanpa bantuan sopirnya.
setelah duduk dan siap berangkat, tuan hardian memastikan keadàan mobilnya pada sang sopir.
"sudah di cek mobilnya, deng?"
" sudah tuan, keadaannya baik semua. tak perlu khawatir dalam perjalan jauh. minyak juga masih full" penjelasan sopir yang bernama Adeng dengan sopan
"ok. kita langsung ke kota, perumahan elit jalan XX saja" perintah tuan hardian
"baik tuan" jawab adeng sambil menganggukkan kepalabtanda patuh akan perintah majikannya.
mobil melaju dengan pelan meninggalkan kediaman tuan hardian dan membelah jalanan.
__ADS_1
~
kediaman almarhum kakek
tampak tuan handi duduk diruang kerjanya ditemani istrinya.
"kalau memang ada masalah disana, apa tidak sebaiknya kita kembali saja, pa?" tanya nyonya shintia pada suaminya
sedangkan pria yang duduk dihadapannya diam nampak masih berpikir.
"papa belum yakin meninggalkan eko dengan kehidupan barunya. dia anak kita satu-satunya, kalau bukan kita yang membimbing siapa lagi" sambil menghembuskan nafas
"papa jangan egois. banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya diperusahaan papa. kalau sampai terjadi pengurangan pekerja, mereka akan kesulitan ekonomi keluarganya, menghidupi anak, istri bahkan orang tua yang harus dihidupinya" tegas mama shintia
"papa ngerti, ma. papa juga khawatir dengan keturunan papa. papa ingin memastikan eko memiliki teturunan terlebih dahulu"
" karena itulah, papa tak ingin percaya sepenuhnya sama eko. mama lihatkan kalau selama ini kepercayaan kita telah disalah artikan? papa nggak mau hal itu sampai terjadi. karena taruhannya bukan hanya hubungan suami istri yang retak, tapi juga hubungan keluarga yang selama ini berusaha kakek bangun juga tentang dua perusahaan. tentu pengaruhnya juga sangat besar pula bagi kedua perusahaan" tuan handi menarik napas kemudian menghembuskannya dengan kasar.
" lalu, apa papa akan diam dan terus berpikir tanpa mengambil tindakan? atau kits bicara sama orang tuanya desi saja"
" ah, benar. kita temui mereka sekarang"
beranjan untuk meninggalkan ruang kerjanya
__ADS_1
"mau kemana, pa?"
"rumah orang tua desi" berhenti dan menoleh keistrinya
"lebih baik telpon saja dajulu, pa. kita nggak tau kesibukan mereka"
"baiklah" ucap tuan hadian berjalan kembali kemeja kerjang untuk mengambil benda pipih
membuka kontak dan men-scrool mencari nama 'tuan hardian'. setelah ketemu, segera memencet tombol tanda menghubungi.tak menunggu lama, panggilan terangkat.
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam, ada apa gerangan tuan handi menghubungi nomor saya" jawab diseberang
"saya ingin bertemu dengan anda, apakah bisa.,? bertanya secara perlahan.
"ini saya dan istri saya sedang dalam perjalanan kerumah eko dan desi. kalau sekiranya sangat penting, saya sempatkan bertemu anda" Jawab tuan hardian
" nggak usah, kita bertemu dirumah pengantin baru saja, saya akan bersiap dan segera berangkatkesana. assalamualaikum" setelah penggilan tertutup, menghampiri istrinya dan mengajaknya untuk kerumah eko.
"mama siap-siap gih, kita kerumah eko sekarang. besan juga dalam perjalanan kesana"
"wah, kebetulan sekali, papa. kita bisa bicara bersama agar hubungan mereka makin kuat. mama siap-siap dulu
__ADS_1
nyonya shintia segera bergegas menuju kamarnya untuk membawa keperluanna.
sementara tuan menggelenglan kepala melihat tingkqh istrinya.