
"ihh cepet banget... atau jangan jangan cuma cuci muka nih" ledek desi yang melihat suaminya telah mendekat
karena belum lama ditinggal, kini sudah rapi dengan baju yang disediakan tadi
"mandi lah.... emang cepet kok mandinya, penting kan udah seger nih... wangi pula ini" jawab eko sambil mencium kening istrinya
kemudian duduk dikursi sebelah desi sambil menunggu piring diisi nasi goreng buatan istri tercinta
"iya percaya in aja". 'wangi si emang parfumnya yang dibanyakin' batin desi sambil melirik suaminya
"kok gitu" sambil memandang desi dengan kedua alis tertaut tanda tak terima ucapan istrinya itu
"udah, makan dulu. habis ini kekantor, aku ikut" desi memutuskan agar aman dan damai terkendali tanpa ada drama lagi bila akan pergi bekerja
"beneran kamu ikut?"
"kenapa? kok kaget gitu?"
"bukan kaget, cuma memastikan saja. takutnya cuma di php"
"emang aku pernah php-in kamu, mas? udah makannya dihabiskan dulu biar nggak kesiangan ke kantornya"
'Alhamdulillah jadi semangat kalau tiap hari didampingi istri begini' batin eko sambil makan dengan lahapnya hingga tak butuh waktu untuk menghabiskan makanan dipiringnya
setelah sarapan selesai, mereka pergi ke kantor diantar sopir pribadinya.
sedangkan piring kotor serta sisa makan telah dibereskan oleh asisten rumah tangga yang dipekerjakan setelah desi hamil, karena tak ingin istri tercintanya kecapek-an.
genggaman tangan yang tak pernah lepas selama perjalanan menuju kantornya, membuat desi pasrah walaupun merasa tak enak dengan sopirnya
senyum tipis pada bibir eko tak pernah surut, tak peduli dengan pandangan sopir maupun lirikan istrinya. baginya, yang penting happy didampingi sang istri.
~
saat desi sedang berbahagia dengan suami dan calon bayinya, diperusahaan ayahnya justru terjadi huru hara
__ADS_1
saling menyalahkan antara devisi, yang berawal dari kebakaran gudang hingga merembet ke pasokan bahan baku dan sekaran aliran keuangan yang terlihat semrawut
hingga terjadilah saling tangan dan mengkambing hitamkan teman demi keamanan devisi bahkan demi mempertahankan posisi
"mengapa semua bisa terjadi? bukankan selama ini tidak ada masalah? apakah ada orang dalam yang sengaja ingin membuat perusahaanku bangkrut?" ucap papanya desi
"dari penyelidikan semua terjadi karena kecelakaan dan kondisi alam. kalau tentang orang dalam yang berharap perusahaan bangkrut belum ada berita sama sekali, pak" jawab asistennya
"bagaimana dengan data perusahaan? " tanya asistennya
"sementara ini aman, karena sudah ada pelindung pada filenya" jawab papanya desi
"mudah mudahan aman dan tidak ada virus"
"mudah-mudahan, pak" sahut asistennya
"apa anda tidak ingin minta bantuan menantu anda, pak?" lanjutnya
tuan hardian yang mendengar ucapan sang asisten langsung berhenti membaca kertas diatas map yang dipegang
seraya mengernyitkan dahinya dan menatap bawahannya yang setia itu
beberapa detik kemudian tampak senyum terbit pada bibir papanya desi
"kamu benar juga, toh semua ini juga akan saya wariskan pada desi. jadi nggak ada salahnya kalau suaminya desi ikut andil dalam perusahaan kita. apalagi perusahaan ini juga bekerjasama dengan perusahaannya" ucapnya dengan mengangguk anggukkan kepala.
"coba aku hubungi dulu desi" lanjutnya sambil merogoh ponsel disaku celananya
tuutt
tuutt
cuma dua kali suara sipintar berbunyi, terdengar diseberang menerima responnya
setelah mengucap salam, kemudian menanyakan kabar
__ADS_1
" piye kabarmu karo calon putuku, ndok.?" ( bagaimana kabarmu dan colon cucuku, nak?)
"alhamdulillah... sae, pak. pripun pawartosipun Bapak kalian Ibuk?"
"syukur lek ngono. Bapak karo ibuk sehat." (syukurlah kalau begitu)
"Bapak arep njalok tulong bojomu kon ngrewangi ngurus perusahaan, ndok. iso ora yo?" (Bapak mau minta tolong suamimu mengurus perusahaan) lanjut tuan hardian
"mangke kulo tangkletne rumiyen nggeh, pak" jawab desi
walaupun sang suami duduk disebelahnya, tidak serta merta desi memutuskan jawaban dari bapaknya. perlu bicara berdua agar tidak ada kesan memerintah suami
"nopo wonten perkawis ageng wonten perusahaan?" ( apa ada masalah besar diperusahaan?)
"yo enek masalah sitik, ndok. bapak wes rumongso tuo, dadi ora biso cekatan sembarange" (ya ada masalah sedikit, nak. Bapak sudah merasa tua, jadi tidak bisa cepat segala sesuatunya)
"wes ngono wae, mengko lek bojomu iso kon ndang mrene.
awak e dijogo gen seger waras, maem seng bergizi, putuku yo ben sehat" ( sudah gitu saja, nanti kalau suamimu bisa suruh langsung kesini.
badannya dijaga biar sehat, makan yang bergizi)
"nggh, pak" (iya, pak) jawab desi
sambungan terputus setelah mengucap salam.
"kita tidak bisa bergantung pada eko. dia juga punya perusahaan yang harus diurusnya." ucap tuan hardian dengan menghembuskan nafas kasar pertanda pasrah
"apa mas eko tidak bersedia membantu, tuan?" tanya asistennya
!!!
.
.
__ADS_1
.
...*jangan lupa tinggalin jejek setelah membaca ya*...