
Reno dan Erina kembali ke tenda, sedangkan APK masih berkeliling melihat kondisi para peserta.
" Erina, kamu itu kenapa sih? " tanya Reno akan sikap galak Erina.
" Aku? Kenapa? Emangnya aku bisa kenapa? " Erina bertanya balik, sedikit bingung mengapa Reno bisa menanyakan keadaannya.
" Maksudnya, kamu jangan terlalu galak lah sama mereka " ucap Reno kemudian.
" Galak? Mana ada, itu tuh tegas Reno. Kalo kita ngga bersikap tegas, mereka akan terus bermanja-manja " ucap Erina membela diri.
" Tapi kondisi peserta tadi kayak yang sakit beneran, kasihan kan dia kalo sampai didiskualifikasi "
" Mau dia sakit beneran kek, mau dia sakit bo'ongan. Itu sudah menjadi konsekuensi buat dia juga timnya, kalo kita ngga tegas tim lain juga bakal ikutan ngeluh. Kedepannya mereka juga ngga bakal serius dalam melakukan sesuatu " jelas Erina.
" Udahlah, aku capek. Mau istirahat dulu, jangan ganggu aku " tambah Erina lalu masuk kedalam tenda.
Reno geleng geleng kepala, melihat sifat Erina yang terlalu tegas juga sedikit galak. Bukan pertama kali mereka bertengkar seperti itu, bahkan setiap ada kegiatan mereka selalu berbeda pendapat.
Sebenarnya Reno tidak menyalahkan ketegasan Erina, hanya saja dia merasa kasihan dengan orang orang yang harus menghadapi sifatnya itu.
Reno Wijaya dan Erina Navarati, mereka sudah berteman sejak duduk dibangku SMA. Sama seperti di Kampus Mercusuar, mereka juga menjadi Ketua dan Wakil Ketua Osis saat berada di Sekolah Menengah Atas. Jiwa kepemimpinan, rasa tanggung jawab, serta sifat penyabar Reno yang menjadikannya dipilih sebagai Ketua Osis. Lain halnya dengan Erina, ia dipilih karena memiliki sifat tegas dan galak. Dimana sifat itu bisa membantu Reno dalam mengatur anak-anak yang sedikit bandel.
" Reno " panggil salah satu temannya.
" Arga, gimana keadaan disana? " tanya Reno saat Arga datang menghampirinya.
" Ya, lumayan terkendali. Walaupun mereka sedikit mengeluh dengan perkataan Erina tadi, tapi mereka masih tetap semangat kok menjalankan kegiatan ini " jelas Arga.
" Syukurlah, Erina itu benar benar susah dibilangin. Padahal aku selalu bilang untuk ngga terlalu tegas dan galak, tapi tetep aja begitu. Kamu tau sendiri kan sifat dia gimana? " ucap Reno.
" Iya, mau gimana lagi. Udah bawaan dari lahir " timpal Arga.
" O iya, gimana adik kamu dan timnya? Mereka udah nemuin bendanya belum? " tanya Reno, menggeser sedikit topik.
" Si Dion? Tau deh, aku males liatnya " keluh Arga.
" Kenapa? Emangnya dia bikin ulah apa lagi? " ucap Reno, seakan Dion sering melakukan kesalahan.
Ya, Dion Wiyoga adalah adik kandung dari Dion Arga, salah satu APK di Mercusuar University. Tidak banyak yang tau kalau mereka adalah saudara kandung. Hanya Reno, Erina dan beberapa staf di Kampus.
__ADS_1
Bukan karena Arga menutupi kenyataan itu, dia hanya tidak terlalu suka menceritakan kehidupan pribadinya kepada orang lain. Saat masih di SMA dulu, hampir semua siswa mengetahui kenyataan ini. Lain halnya saat kuliah, karena sibuk akan jam mata kuliah membuat semua orang tidak terlalu memperdulikannya.
" Tadi aku liat dia bertengkar dengan salah satu teman di timnya, mana cewek lagi. Aduh, bener bener dah itu anak " cerita Arga, menepuk jidat lanjut geleng geleng kepala.
" Hmhh " Reno tersenyum mendengar cerita Arga tentang Dion.
" Kok ketawa sih? Emangnya lucu apa liat mereka bertengkar gitu? " ucap Arga sedikit kesal karena ditertawakan oleh Reno.
" Tapi, ngga sampai berantem terus pukul-pukulan, kan? " pancing Reno masih bertahan dengan senyum mengejek.
" Ya enggaklah, gila kali tuh anak kalo sampai berantem sama cewek " seru Arga dengan nada tinggi.
" Siapa yang gila? " goda Reno.
" Kamu tuh yang gila " balas Arga kesal.
" Eh, kok gitu sih. Main ngatain orang lain gila lagi " protes Reno.
Reno dan Arga malah saling tuduh gila, tidak habis habis saling mengatai satu sama lain. Tapi yang mereka lakukan hanyalah gurauan semata, tidak ada yang merasa tersinggung atau pun sakit hati. Karena apa yang mereka lakukan, sudah berulang kali dilakukan. Itulah cara Reno dan Arga melepas penat dan lelah, cara mereka juga untuk menghibur diri.
Lelah karena tertawa, perut juga terasa kram, dan tenggorokan pun haus. Mereka justru mendapat amukan dari salah satu teman yang tengah istirahat.
" Waduh, itu kok kaya suara Erina ya? " lirih Arga.
" Emang bener, itu suara dia. Aku lupa kalo dia lagi istirahat dan ngga mau di ganggu " tutur Reno.
Reno dan Arga berbalik badan, tampak raut wajah marah juga kesal siap menerkam mangsanya. Dengan langkah panjang dan suara kaki yang dihentakkan, sungguh perpaduan yang sempurna.
Tinggal berjarak beberapa langkah lagi, Erina menghentikan ayunan kakinya.
" Eh, Erina... hee " ucap Arga meringis.
" Bener bener ya kalian ini " seru Erina, sedetik kemudian memukul keduanya dengan membabi-buta.
" Aww... aww... sakit tau " keluh Arga.
" Aduh, maaf Er. Aku lupa kalo kamu lagi istirahat " jelas Reno.
" Ngga ada, engga ada kata maaf ya buat kalian berdua " tolak Erina terus memukuli mereka berdua.
__ADS_1
" Iya iya, ampun Er. Ngga lagi lagi, janji " ucap Reno mengacungkan jari kelingkingnya.
Melihat Reno memberikan tanda damai, Arga pun mengikuti jejaknya. Mereka berdua saling memberikan janji kelingking kepada Erina, janji yang selalu mereka lakukan kala membuat kesalahan.
" Oke, aku maafin. Tapi ada syaratnya " pinta Erina sebelum menyetujui janji kelingking mereka.
" Apa syaratnya? Kita penuhin kok " sambut Arga.
" Aku mau sedikit cemilan, ambilin buat aku. Sama minumannya juga, oke? " ucap Erina meminta syarat untuk permohonan maaf mereka.
" Oke oke, aku ambilin bentar ya " balas Arga cepat, sejurus kemudian berlari menuju tenda.
" Kamu? " Erina bingung melihat Reno yang diam saja, sementara Arga sibuk sendiri.
" Nemenin kamu disini, kan " jawab Reno menunjukan jurus manisnya.
Melihat Reno yang tersenyum seperti itu, membuat Erina panas dingin. Hati terasa bergejolak, pipi serasa terbakar. (alay lagi dah)
" Aduh aduh, ada yang kesemsem nih disini. Ehem ehem " Arga berdehem menyindir keras.
Erina terlihat salah tingkah, saat Arga datang. Untuk menutupinya dia langsung menyambar camilan dan minuman yang dibawa Arga, lalu duduk sendiri dibawah pohon yang rindang.
" Dia tuh suka sama kamu tau " bisik Arga.
" Engga lah, kita kan udah sahabatan dari SMA. Dia emang suka kalo dikasih senyuman " ucap Reno mengelak.
" Iya, tapi cuma senyuman kamu yang dia suka " tambah Arga.
" Mana ada, jangan ngaco deh " Reno terus berkelit, tak mau mendengar kenyataan yang Arga katakan.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
Siang kawan semua, pembaca setia novel halu ☺
Jangan lupa like dan rate-nya ya kalau sudah mampir 👍
Bantu dukung othor PPM, dengan cara tekan gift dan votenya ya ☺ makasih 🙏
°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°
__ADS_1