Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar

Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar
Episode 16


__ADS_3

Sementara Dion, Gaby dan Mora tengah bingung, bagaimana kedua sahabatnya bisa sampai masuk kedalam jurang. Dion meminta Gaby untuk memberitahu Reno akan masalah ini. Karena kaki Mora masih sakit, hingga dia tidak bisa melakukannya.


" Maaf, aku yang salah. Mereka jatuh karena ulahku yang ngga mau diem " lirih Mora merasa sangat bersalah dan menyesal.


" Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Sekarang yang paling penting adalah menyelamatkan mereka berdua " ucap Dion mulai dewasa.


" Gimana kaki kamu? Masih sakit? " tanyanya memperhatikan keadaan kaki Mora, akibat jatuh keseleo.


" Udah engga kok " balas Mora diikuti senyum.


" Ya udah, duduk disana dulu ya " pinta Dion, menunjuk ke arah batang pohon yang tergeletak begitu saja setelah dipotong.


" Iya " jawab Mora mulai berjalan ke tempat yang ditunjukkan oleh Dion.


" Aww " rintih Mora.


" Tuh kan, pasti masih sakit. Sini, naik ke punggungku " ucap Dion menawarkan diri dengan berjongkok didepan Mora.


" Tapi... "


" Ngga usah tapi-tapian, udah naik aja " paksa Dion.


Mora akhirnya naik ke punggung Dion. Ia di gendong Dion sampai ke sebuah batang kayu tadi, lalu di dudukan disana.


Setelah menggendong Mora, Dion beralih ke arah pergelangan kaki Mora.


" Mana yang sakit? Ini? " tanya Dion, tanpa basa-basi lagi dia mulai memijit kaki Mora.


" Aduh.. aduh, sakit tau " rintih Mora akibat gerakan Dion yang cukup keras.


" Maaf, aku coba lebih pelan ya " ucap Dion.


Sedang Dion yang masih sibuk dengan kegiatan barunya, yaitu memijit kaki Mora. Lain hal dengan Lanlan juga Dhan dibawah sana.


" Hei bangun, berat " protes Dhan, membangunkan Lanlan yang tidak sadarkan diri.


Entah bagaimana kronologis kejadiannya, Lanlan jatuh karena tertabrak tubuh Mora. Sedangkan Dhan entah bagaimana dia bisa ikut terjatuh. Mereka berdua berguling sampai dasar jurang, beruntungnya mereka karena jurang tersebut memiliki lereng hingga mereka tidak langsung terjatuh ke dasar.


Hanya sedikit luka kecil, akibat goresan ranting ranting kecil. Namun yang membuat Lanlan tidak sadarkan diri adalah karena syok, ia membayangkan saat terjatuh, pasti mereka tidak akan bisa selamat seperti dalam film. Dan meskipun selamat, pasti mendapat cedera yang cukup parah.


" Hei gendut " panggil Dhan lagi. Kali ini ia memanggil Lanlan cukup keras dan sengaja ia panggil tepat di samping telinganya.


" Aww, keras banget sih manggilnya? " lirih Lanlan memegangi telinganya.


" Makanya bangun " balas Dhan ketus.


" Aduh, dimana ini? " tanya Lanlan setelah benar benar sadar.

__ADS_1


" Cepetan bangun, kamu itu berat " protes Dhan lagi.


" Hah? Astaga, maaf maaf " ucap Lanlan, ia sangat terkejut mengapa dirinya bisa berbaring diatas tubuh seorang laki-laki.


Lanlan menjauh, ia duduk sambil menahan rasa sakit.


" Kita dimana? " Lanlan kembali bertanya, ia melihat sekeliling namun tak mengenalinya.


" Jurang " jawab Dhan singkat. Ia membersihkan pakaian dari semua benda yang menempel.


" Apa? Jurang? " Lanlan kembali syok. Lalu melihat ke atas.


" Kita jatuh dari sana? " tunjuk Lanlan.


" Hm "


" Itu berarti teman-teman kita ada diatas dong? "


" Hm "


" Apa mereka tau kita jatuh kesini? "


" Hm "


" Kamu niat jawab ngga sih? " teriak Lanlan.


" Harus jawab apa, ya emang begitu kan? Mereka diatas sana, kita disini " ucap Dhan tak kalah keras.


" Mikir "


Lanlan bersungut mendengar jawaban Dhan, ia merasa sangat kesal dengan sikap Dhan yang sombong dan ketus. Lanlan menambah jarak antara dirinya juga Dhan, tidak mau melihat atau pun mendengar sikap angkuh Dhan lagi.


" Aww.... issshh " saat berjalan menjauhi Dhan, ada rasa sakit yang cukup terasa di bagian kaki kirinya. Lanlan kembali duduk untuk melihat apa yang membuat kaki kirinya terasa sakit.


Dhan sama sekali tidak mau melihat Lanlan, sekedar untuk melirik pun tidak. Ia masih sibuk mengibas-ngibas pakaiannya yang terlihat kotor karena berguling tadi. Dhan sedikit terkejut saat tengah mengibaskan pakaiannya, sebuah benda terasa menggores di telapak tangannya.


" Apa ini? " Dhan bergumam saat menemukan sebuah anting anting yang tersangkut di bajunya.


" Anting? Pasti punya dia " batin Dhan, melirik ke arah si pemilik anting tersebut.


Dhan bingung melihat Lanlan seperti menggulung bawah celana kaki sebelah kirinya. Sayang, Dhan tidak dapat melihat apa yang dilakukan Lanlan karena ia memunggungi Dhan.


" Sedang apa dia? Apa kakinya terluka? Ah, kayaknya ngga mungkin. Harusnya kan aku yang terluka " batin Dhan. Ada sesi perdebatan antara pikiran dan hatinya. Pikirannya mengatakan ia tak perlu memperdulikan apa yang dilakukan Lanlan. Sedangkan hatinya, merasa sedikit tersentuh juga penasaran.


Masih terus memperhatikan hal yang dilakukan Lanlan. Kali ini Dhan berdiri untuk melihat lebih jelas apa yang dilakukan gadis itu. Ternyata Lanlan tampak merobek sedikit kain dari celananya tadi, lalu melilitkannya pada kaki sebelah kiri.


" Apa segitu parah lukanya sampai harus dililit kain? " pikir Dhan.

__ADS_1


" Lanlan "


" Dhan "


Terdengar suara beberapa orang memanggil nama mereka.


" Ya, kami di bawah sini " jawab Lanlan berteriak kencang.


" Percuma " ucap Dhan.


" Gaby.. Mora " panggil Lanlan, berharap kedua sahabatnya bisa mendengar suaranya.


" Kami disini " teriak Lanlan lagi.


" Aku bilang percuma kan? Mau teriak sekencang apapun, mereka ngga bakal denger suara kamu " jelas Dhan.


" Apa maksud kamu? " tanya Lanlan, ia bingung mengapa Dhan terus mencegahnya untuk berteriak.


" Angin dibawah sini berputar-putar di tempat, teriakan kamu ngga akan sampai ke atas. Jadi percuma kalo teriak teriak juga " ucap Dhan.


Lanlan diam sejenak setelah mendengar penjelasan Dhan. Namun dia percaya akan satu keyakinan, yang selalu ia pegang selama hidupnya.


" Ngga ada yang percuma selama kita terus berusaha, semua pasti akan membuahkan hasil. Tuhan ngga akan pernah meninggalkan hambanya, selama ia berpegang teguh pada keyakinannya " balas Lanlan berdalil.


" Terserah " ucap Dhan.


Lanlan tetap yakin, teman-temannya diatas pasti bisa mendengar suaranya. Maka ia pun tak henti-hentinya meneriakkan nama mereka, memberitahukan bahwa ia juga Dhan ada di bawah jurang itu.


Hampir 15 menit, suara Lanlan pun sudah hampir habis. Ia merasakan kering dan sakit di tenggorokannya karena terus berteriak. Lanlan hampir saja putus asa, meski ia bisa mendengar suara penggilan teman-temannya. Namun saat ia memanggil mereka, tidak ada jawaban dari mereka. Itu artinya benar apa yang Dhan katakan, kalau angin di bawah sini tidak membawa suaranya ke atas sana bersama hembusannya.


" Gab....y " brug ( Lanlan jatuh bersimpuh, tenggorokannya seperti mau putus. Sangat sakit)


" Lanlan " teriak Dhan, ia kaget saat melihat kondisi Lanlan yang tempak kesakitan.


Dhan memegang kedua bahu Lanlan, menopangnya agar tak terjatuh ke tanah.


" Sudah aku bilang kan, percuma saja teriak. Sekarang liat, tenggorokan kamu sakit, kan? " ucap Dhan memarahi tindakan konyol Lanlan.


" Ngg..a a..da yang per...cuma, kamu harus percaya itu " ucap Lanlan berbisik, ia mulai kehilangan suaranya.


" Iya oke oke, aku percaya sama keyakinan kamu " ucap Dhan.


Sedetik kemudian, turunlah beberapa tim


penyelamat. Rupanya saat Dhan meneriakkan nama Lanlan tadi, teman-teman mereka mendengarnya dan langsung meminta tim penyelamat untuk segera turun.


°•°•°•°•°•°•°•°•°•°

__ADS_1


Happy reading ^_^


°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


__ADS_2