Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar

Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar
Episode 26


__ADS_3

Di sebuah kota di negara Jerman, tepatnya di Kota Humberg. Lelaki keturunan Indo asli yang telah lama menikah dan menetap di Kota Humberg, tampak berbincang santai di pagi hari. Menyantap nikmat dan harumnya kopi, menikmati segarnya udara pagi bersama sang istri.


" Mas, saat ini usia mereka harusnya sudah menginjak 18 tahun, bukan? " tanya istri setelah menyuruput minuman teh susu miliknya.


" Iya Sya, kamu benar " jawab suami.


" Mungkinkah semuanya baik? Apa mereka juga melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi? Sudah sangat lama kita tidak pernah melihatnya sejak kejadian itu " ucap istri, dia merasa sedih kala mengingat kejadian miris 8 tahun lalu.


" Sudahlah, jangan mengingat hal itu lagi. Keadaan mereka baik, mereka juga sudah menjadi mahasiswa di Kampus yang terbaik " jawab suami.


" Bagaimana Mas bisa yakin? "


" Aku tidak pernah melewatkan satu hari pun, tanpa mengetahui keadaan mereka " jelas suami.


" Jadi, selama ini Mas selalu memantau keadaan mereka? " Istri terlihat senang dan kagum saat mengatakannya.


" Tentu saja, bahkan tanpa Rafa minta pun. Aku pasti akan selalu menjaga dan melindungi putra putrinya " tambah suami.


" Mas, sekarang usia mereka sudah 18 tahun. Apa mungkin mereka sanggup menerima semua kebenaran ini? " tanya istri.


" Rafa sudah memikirkannya, usia itu adalah usia dimana mereka telah tumbuh menjadi seorang yang dewasa. Mereka pasti sanggup, lagipula sudah saatnya mereka harus tau akan kebenarannya " jelas suami.


" Baiklah, kapan kita akan berangkat? " istri menanyakan keputusan akhirnya.


" Lusa " jawab suami, lalu menyeruput habis minuman yang telah membuatnya segar dan melek.


" Apa? Lusa? Apa tidak terlalu buru-buru? " istri terkejut mendengar keputusan suaminya yang terlalu mendadak.


" Tidak, aku sudah menyiapkan semuanya. Aku juga sudah menyiapkan tempat tinggal untuk kita saat disana nanti " tambah suami, lagi lagi membuat kaget.


" Wah, ternyata kamu sudah melakukan semuanya. Makasih ya Mas, kamu memang suami paling the best deh " puji istri memeluk manja.


" Sudah, mending sekarang kamu siapin barang apa aja yang mau dibawa " pinta suami.


" Oke suami " jawab istri tersenyum lebar.

__ADS_1


Siang itu, si istri menyiapkan semua perlengkapan yang akan mereka bawa ke Indonesia.


°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


" Anak pembunuh? Apa maksud kamu? " tanya Lanlan, kenyataan yang didengarnya semakin tidak masuk akal.


" Udahlah, kamu ngga perlu tau dan ngga usah ikut campur semua urusanku " ucap Dhan.


" Tunggu, jelasin dulu apa maksudnya semua itu " Lanlan memaksa meminta penjelasan, dia mengejar Dhan yang sudah berjalan menjauhi dirinya.


" Dhan, tunggu " pinta Lanlan sambil terus berlari.


" Udahlah, ngga usah ikut campur " ucap Dhan sinis, semakin memperlebar langkah kakinya.


" Dhan.... aduh " suara Lanlan mengaduh. Rupanya dia terjatuh saat mengejar pria cuek didepannya.


Sayup terdengar suara orang terjatuh, Dhan menghentikan langkahnya sejenak. Namun berapa detik kemudian, dia tampak kembali melanjutkan langkah kakinya.


" Astaga, kamu ngga apa-apa? " suara pria dengan suara ngebass, terlihat menolong Lanlan.


" Makasih, aku ngga apa-apa kok " jawab Lanlan.


" Iya, cuma lecet dikit "


" Sini biar aku liat, kamu duduk dulu ya " bimbing si pria pada Lanlan untuk duduk di kursi taman.


Pria tadi tampak mengobati kaki Lanlan yang terluka dengan sapu tangan, lalu menutupnya menggunakan perban.


" Aku Erik " sapa pria bersuara bass mengulurkan tangan.


" Aku Lanlan " sapanya menjabat tangan Erik.


" O iya, aku mahasiswa baru disini. Baru masuk juga hari ini. Kalo boleh tanya, ruangan Ketua Pengurus Kampus dimana ya? " tanya Erik tanpa basa basi.


" Oh, ruangannya Kak Reno? Aku tau, mau aku anterin ngga? " ucap Lanlan menawarkan.

__ADS_1


" Boleh, kalo ngga ngerepotin " balas Erik tersenyum manis, dua gigi yang merasa paling unggul dibanding yang lain, tampak menunjukkan kekuasaannya.


" Engga kok, kamu kan udah tolongin aku tadi. Itung-itung kita impas " ucap Lanlan.


Lelaki dengan penampilan cool, suara ngebass serta memiliki gigi kelinci itu bernama Erik Sanjaya. Mahasiswa baru lain di Universitas Mercusuar.


Lanlan menawarkan dirinya untuk mengantar Erik ke ruangan Reno Wijaya, yang menjabat sebagai Ketua Pengurus Kampus (KPK).


" Kamu mau kemana? " Dhan menghentikan perjalanan mereka menuju ruangan KPK.


" Ke ruangannya Kak Reno " jawab Lanlan santai, seperti tak ada yang terjadi diantara mereka sebelumnya.


" Ngapain? " tanya Dhan lagi.


" Nganterin Erik, dia mahasiswa baru yang baru masuk hari ini " jelas Lanlan.


" Halo, aku Erik " sapanya mengulurkan tangan.


" Dhan " tak ada basa basi, juga tak ada jabat tangan.


" Ruangan KPK ada disebelah kiri setelah kamu masuk gedung, disana ada beberapa ruangan. Tinggal baca yang tulisannya Ketua PK, gampang kan? " tambahnya menjelaskan.


Erik sedikit bingung, dia melihat ke dua arah. Antara Dhan juga Lanlan. Mereka berdua terlihat akrab, tapi keakraban mereka terlihat aneh.


" Bisa kesana sendiri kan? Gampang kok " ucap Dhan.


" Dhan, kamu kenapa sih? " Lanlan merasa kesal akan sikap Dhan yang berubah secara tiba-tiba.


" Iya, aku bisa. Makasih atas penjelasannya " balas Erik, merasa canggung berada diantara mereka berdua.


" Maaf ya, dia lagi sakit kayaknya " sahut Lanlan meminta maaf karena merasa bersalah.


Akhirnya Erik pergi ke ruangan KPK seorang diri. Sedangkan Dhan membawa Lanlan kembali ke kursi panjang di Taman Kampus.


°•°•°•°•°•°•°•°•°•°

__ADS_1


Kira-kira kenapa ya dengan sikap Dhan? Apa sikapnya itu disebabkan karena cemburu? Atau.... karena hal lain? Lalu hal apa lagi yang ingin Dhan bicarakan, hingga membawa Lanlan kembali ke Taman.


next episode 😉


__ADS_2