
" Jadi, selama ini aku menyalahkan bahkan menghina ibu kandungku sendiri? " lirih Gaby. Dia sangat menyesal karena telah diperbudak oleh pikiran buruknya. Membenci Resha, ibu kandungnya karena telah membuat Viona masuk penjara bahkan sampai meninggal.
" Ma, maafin Gaby. Gaby selalu berpikir negatif selama ini. Harusnya Gaby tau waktu perasaan sayang yang Gaby rasain buat Mama, jauh melebihi rasa sayang sama Mama Viona. Harusnya Gaby tau itu " lirihnya lagi. Airmata penyesalan tak lagi dapat dibendung.
" Anterin Gaby, Om... Tante. Anterin Gaby ke makam Papa sama Mama " pinta Gaby disela tangis.
" Iya, Tante sama Om bakal anterin kamu. Tapi kamu harus tenang dulu, kita akan kesana setelah kamu tenang " ucap Tasya.
" Tapi Tan, Gaby mau sekarang " pintanya lagi terus merengek.
" Gaby.... "
" Biar aku yang anterin kamu " ucap Dhan.
Ekspresi dingin itu membuat Rasya dan Tasya sedikit terkejut. Bukan kesedihan atau kebahagiaan karena telah bertemu saudaranya, melainkan ekspresi datar yang selalu dia tunjukan.
" Dhan? " ucap Rasya dan Tasya bersamaan.
" Iya Om, Tante. Biar Dhan aja yang anter, sekalian jenguk Papa sama Mama " jelasnya kemudian.
" Oke, kalau itu mau kamu. Om izinin, tapi jangan terlalu sore pulangnya. Om tunggu di rumah ya, masih ada yang mau Om dan Tante bicarakan " ucap Rasya.
" Iya, baik Om " jawab Dhan.
Dhan mengajak Gaby ke makam orang tua mereka. Menaiki taksi karena belum mempunyai mobil sendiri.
__ADS_1
" Dhan " panggil Gaby saat didalam mobil.
Dhan yang duduk di kursi depan, bisa melihat ekspresi rasa bersalah Gaby dari balik kaca. Gaby memang salah karena selalu berpikir negatif pada ibunya sendiri. Tapi semua itu karena dia juga tidak tau. Dhan tidak bisa menyalahkannya, karena semua itu kesalahan Viona.
Wanita itu terlalu gila akan cintanya pada Rafa.
" Ada apa? " tanya Dhan.
" Aku minta maaf soal yang kemarin " ucap Gaby tulus.
" Ngga apa-apa " jawab Dhan singkat.
Hanya itu percakapan diantara keduanya. Baik Gaby juga Dhan lebih memilih diam, karena tidak tau harus berbicara apa. Hari ini adalah hari pertama, mereka saling mengetahui jati diri masing-masing. Setelah apa yang terjadi kemarin membuat keduanya terasa canggung.
Pemakaman memang agak jauh, itu adalah pemakaman khusus keluarga. Selain Rafa dan Resha, disana juga dimakamkan orang tua Resha, yakni Ayah Syahputra dan Ibu Ria juga beberapa kakek buyut dari pihak keluarga Resha.
" Disini " ucap Dhan. Ia berdiri diantara makam Rafa dan Resha.
Melihat sekilas papan nama yang tertulis di batu nisan, membuat Gaby lemah tak berdaya. Duduk bersimpuh didepan makan ayahnya. Mengusap pelan papan yang bertuliskan nama Rafardhan Pramana.
" Papa, maafin Gaby baru dateng sekarang " ucapnya berkaca-kaca.
" Gaby minta maaf " ucapnya lagi. Tak sanggup menahan kesedihan.
Tidak ada lagi kata yang Gaby ucapkan. Ia tak mampu berkata. Bibir tertutup rapat. Air terus mengalir. Rasa penyesalan semakin bertambah.
__ADS_1
Ditengoknya nisan yang tepat berada di samping ayahnya. Papan dengan nama Naresha Permata Putri terukir begitu saja. Kilas bayang wajah Ibu yang selama ini dia benci, kembali menunjukkan mode on.
Raut yang membuat Gaby benci tak pernah sekalipun menunjukkan ekspresi marah. Resha selalu menunjukkan senyum kepada semua anaknya. Meski selama hidupnya, yang Resha tau Gaby adalah anak tirinya. Tapi, ia tak pernah mengurangi kasih sayangnya sedikit pun.
" Mama, Gaby mohon maaf " ucapnya disela isak tangis.
" Maafin Gaby, Ma. Gaby selalu berpikir negatif tentang Mama. Gaby ngga pernah sadar. Padahal selama ini, Mama menyayangi Gaby sama seperti Mama sayang sama Dhan. Gaby salah, maafin Gaby, Ma " batinnya sesal.
" Pa.. Ma, Dhan berhasil nemuin Putri. Meski itu bukan hasil kerja keras Dhan. Itu semua karena bantuan Om Rasya dan Tante Sasa " batin Dhan.
" Andai hari itu Dhan ngga keras kepala, Papa dan Mama pasti sudah bertemu Putri. Kita semua sudah berkumpul sekarang. Kakek Syahputra dan Nenek Ria juga ngga akan meninggal. Dhan minta maaf. Semoga kalian semua tenang dan bahagia disana. Dhan pasti akan menjaga dan menyayangi Putri, sama seperti kalian menjaga dan menyayangi Dhan selama ini. Makasih Pa, Ma " batinnya, menyeka bulir air yang berhasil jatuh membasahi pipi.
Dhan melihat Gaby masih dalam posisi yang sama. Dia terus memegangi papan nama dan mengusapnya pelan. Terus berucap maaf. Mengaku menyesal.
Dhan berjongkok mendekati Gaby. Ia pegang pundaknya dengan satu tangan, lalu tangan yang lain mengusap airmata yang jatuh menetes.
" Putri " ucap Dhan menatap Gaby.
Mendengar Dhan memanggilnya dengan nama lain, Gaby tertegun. Melihat ke arah Dhan, menatapnya.
" Kamu? Kamu panggil aku siapa? " tanya Gaby.
" Putri. Putri Naresh Pramana. Itu nama kamu " jelas Dhan.
next.....
__ADS_1
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°