Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar

Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar
Episode 42


__ADS_3

Makan malam keluarga telah usai. Dengan berbagai rintangan dan rentetan pertanyaan yang terus Tasya ajukan, membuat Dhan sedikit kalang kabut dan bingung bagaimana harus menjawabnya. Meski saat interogasi di kamar, Dhan berhasil lolos. Sayang, interogasi kedua saat di meja makan tak dapat dipungkiri lagi. Bahkan, Rasya yang tetap diam sejak interogasi dimulai turut andil dalam sidang.


Hanya pasrah, menjawab semua apa adanya. Mengakui perasaan yang dimilikinya bermula karena kasihan, lalu berubah menjadi tertarik dengan semua yang terjadi pada si gadis. Dalam ketertarikan itu, timbul rasa tidak mau melihatnya tersakiti apalagi didekati.


Menyadari semua yang dia rasakan adalah rasa suka. Marah dan kesal, hanya karena melihat si gadis tersenyum dan berbicara santai dengan lawan jenis. Erik Sanjaya, mahasiswa baru di kampus mereka adalah laki-laki pertama yang membuat Dhan merasakan marah dan kesal. Tak ingin si gadis didekati. Awal cemburu bisa jadi. Orang bilang cemburu itu tanda suka, cemburu itu tanda sayang, cemburu juga tanda cinta. Apa benar yang Dhan rasakan itu, seperti apa yang orang bilang?


Sayang dan cinta bukan mengukur perkataan dan penglihatan seseorang, melainkan hati sendiri yang merasa. Merasa takut kehilangan, merasa rindu meski berpisah sesaat, merasa sakit dihati kala melihat sang gadis bersama laki-laki lain.


" Oke, Tante bakal bantuin kamu " seru Tasya, setelah semua cerita asmara Dhan usai.


" Aku juga " timpal Putri menambahi.


Dua orang wanita dalam rumah itu mendukung penuh kisah asmara Dhan. Rasya yang melihat istri dan keponakan perempuannya tampak sangat bersemangat, hanya terpaku heran. Tidak ada kata yang Rasya ucapkan, hingga detik kemudian tatapan tajam Tasya dan Putri menghunus kearahnya.


" Ah, iya. Om juga dukung, tapi tidak ikut dalam peran ya. Om ikut andil lewat materi saja, apa yang kalian butuhkan pasti disiapkan " jelas Rasya, mengerti akan tatapan tajam Tasya dan Putri.


Dhan menepuk dahi, semua orang yang ada di rumah itu memang terlihat aneh.

__ADS_1


" Oke, terserah kalian. Asal jangan malu-maluin " sahut Dhan menimpali semuanya.


" Dhan balik ke kamar " pamitnya.


Jawaban terserah yang Dhan katakan, tentunya membuat Tasya dan Putri menarik senyum lebar mencurigakan.


" Putri juga pamit ke kamar dulu Om, Tante " ucapnya, tak menghilangkan sedikit pun senyum dari wajahnya.


" Iya sayang, selamat istirahat ya " jawab Tasya.


Setelah kepergian dua keponakan, Rasya tampak membuang napas kasar. Tidak tau, apa yang akan diperbuat oleh dua wanita itu.


" Tidak apa " jawab Rasya berbohong.


" Mas "


" Hm? "

__ADS_1


" Kenapa? " Tasya bertanya lagi. Dia tidak akan berhenti bertanya, sebelum dia mendapatkan jawabannya.


" Kamu sama Putri mau ngapain? " akhirnya Rasya berani bertanya.


" Ngapain gimana sih, Mas? "


" Itu tadi, soal Dhan sama gadis yang dia suka. Kalian mau ngapain, hayoo? Jangan buat yang aneh aneh " ucap Rasya.


" Aneh gimana sih, aku sama Putri kan cuma mau bantuin Dhan. Supaya dia berani ungkapin perasaan " jelas Tasya.


" Kalau tidak cepat, keburu ditikung. Soalnya ada banyak pria yang naksir gadis itu. Memangnya Mas Rasya tidak kasihan sama Dhan? Nanti kalau dia patah hati sebelum ungkapin gimana? " tambahnya.


" Hhh, terserah kalian saja. Seperti kata Dhan, jangan malu-maluin " sahut Rasya, mengikuti apa yang Dhan katakan.


" Oke Mas Rasya, sayang " balas Tasya. Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi kiri Rasya.


" Satu lagi? " pinta Rasya.

__ADS_1


next...


__ADS_2