
" Apaan coba, masa hadiahnya kayak gitu sih? " ucap Dion protes, dia merasa dirugikan karena apa yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan perjuangan mereka.
" Udahlah, yang penting nilai semester kan dapet plus " kata Dhan.
" Tapi Dhan, yang bener aja kali tuh Asdos masa ngasih kita hadiah kayak begitu " Dion masih mengulangi perkataan yang sama seperti sebelumnya.
" Ngga kira-kira deh, masa yang menang cuma dapet botol minum doang? Emangnya kita anak TK apa dikasih beginian " kali ini giliran Mora yang meradang, dia terlihat jauh lebih kesal dibanding Dion.
" Mora dengerin ya, dapet tumbler juga ada untungnya kok " bujuk Lanlan.
" Untung apaan coba? " tanya Mora.
" Biar kita bawa minum sendiri " balas Lanlan, diikuti senyum jail.
" Iiihh Lanlan, sebel deh " Mora semakin kesal akan sikap jail sahabatnya.
" Iya iya, maksud aku itu kalo kita punya tumbler sendiri kan bisa buat macem-macem minuman sehat, Ra " tambah Lanlan.
" Nah betul tuh Ra, kamu kan suka jajan yang ngga jelas gitu. Makanya harus bikin minuman sendiri, Ra, biar sehat " timpal Gaby menyetujui anggapan Lanlan.
" NGGA MAU " tegas Mora, memalingkan muka seraya menyilangkan kedua tangan didepan dada.
" Ya udah kalo ngga mau, sini buat aku aja " ucap Gaby merebut tumbler Mora.
" E e eh, enak aja. Kamu kan udah punya " Mora tidak terima kalau tumbler miliknya diambil oleh Gaby.
" Katanya tadi ngga mau " goda Lanlan dengan senyum jailnya.
" Mau kok " jawab Mora, lesu.
" Hahaha... Haha " tawa Dion terdengar sangat renyah.
" Apaan sih Yon? Ngga jelas banget deh " celetuk Mora.
" Apaan sih, Yan Yon Yan Yon mulu " balas Dion kesal, dia paling benci kalau mendengar Mora memanggilnya Yon.
" Ya kamu ngapain tiba-tiba ketawa ngga jelas gitu? " tanya Mora.
" Tau, jangan tiba-tiba gila deh gara-gara dapet tumbler " sahut Gaby.
" Eh, jangan gitu ah ngomongnya. Ngga baik tau ngatain orang kayak gitu " ucap Lanlan menasehati.
" Iya iya, sorry " ucap Gaby meminta maaf.
" Dion, kamu kenapa tiba-tiba ketawa kayak gitu? " Lanlan bertanya mengenai Dion yang tertawa tiba-tiba.
" Oh itu, liat deh tumbler si Dhan. Warnanya pink, ahahaha haha " lagi lagi Dion tertawa lepas.
__ADS_1
" Ssssttt " Lanlan memberi kode pada Dion agar ia berhenti tertawa, tapi kode hanyalah kode. Dion tetap saja tertawa, justru semakin keras dan renyah.
bukk
Satu pukulan mendarat di punggung Dion.
" Dhaaaann, sakit tau " rintih Dion
" Mau diem ngga? " ancam Dhan.
" Lucu tau, coba kalian bayangin deh, seorang Dhan yang terkenal dengan sikap cool dan cueknya dapet tumbler warna pink. Hahaha haha " Dion kembali tertawa di akhir kalimatnya.
bukk
Satu pukulan kembali mendarat di punggung Dion, dia pun kembali merintih kesakitan.
" Udah udah, Dion berhenti tertawa ya. Dhan, kamu juga ngga boleh mukulin Dion lah, kasian tau " lerai Lanlan.
" Udah Lan, biarin aja mereka. Mau pukul-pukulan kek, mau jambak-jambakan kek, terserah mereka " Mora berceloteh, bersikap sok tidak peduli.
" Wah, punyaku warna merah. Seneng deh dapet warna favorit " celetuk Gaby.
" Punya kamu udah dibuka? " tanya Mora pada Gaby.
" Udah, nih " balas Gaby menunjukkan Tumbler dengan warna favoritnya.
" Wah, punyaku warna apa ya? " Mora bertanya sendiri sambil membuka pembungkus tumbler miliknya.
" Asyik, dapet warna biru. Ya, walaupun bukan warna favorit tapi lumayan lah " ucapnya.
" Ra, tukeran dong tumblernya " pinta Dion.
" Tukeran? Enak aja " tolak Mora langsung.
" Lan, punya kamu warna apa? Buka ya " pinta Gaby.
Lanlan membuka pembungkus tumbler miliknya, sedangkan Dion masih sibuk membujuk Mora agar dia mau tukeran tumbler dengannya.
" Kayaknya ada yang penasaran deh Lan, sama warna tumbler punya kamu " ucap Gaby.
Gaby melihat Dhan terlihat mencuri pandang ke arah benda yang Lanlan pegang, sepertinya dia juga penasaran padahal itu hanya masalah warna tumbler saja.
" Hm? Penasaran? Maksud kamu? " tanya Lanlan bingung.
" Iya, ada orang lain juga yang ikut menantikan kamu membuka pembungkus itu. Kayaknya ada yang berharap couple-an sama kamu deh " goda Gaby melirik ke arah Dhan.
" Gaby, apaan sih kamu? Jangan aneh-aneh deh, ini kan cuma tumbler " jawab Lanlan.
__ADS_1
Lanlan sudah membuka pembungkus itu, lalu menarik tumbler dari dalam kardus. Tak ada harapan warna, apapun warnanya dia akan suka.
" Hah? Pink juga? " ucap Gaby dengan nada tinggi.
" Pink? " dua orang yang sempat berebut tumbler tadi, mengulangi warna yang Lanlan dapatkan secara bersamaan.
" Coba liat, coba. Bener dapet pink kamu, Lan? " tanya Mora tak percaya.
" Hah? " Dion melongo setelah apa yang didengarnya itu benar.
" Alhamdulillah, couple juga warnanya " ucap Gaby.
" Maksud kamu? " Mora tidak paham dengan apa yang Gaby katakan.
" Cie cie, couple-an nih ye " goda Dion, tersenyum sambil terus mencolek lengan Dhan.
" Apa sih? Ngga jelas " Dhan berucap dan berlalu pergi.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
Dhan masih memegang erat tumbler miliknya, dia berjalan menuju taman. Sebenarnya Dhan tidak merasa keberatan karena mendapat warna yang sama dengan Lanlan. Hanya saja, godaan yang teman-temannya katakan membuatnya semakin tidak karuan.
" Dhan " suara seorang wanita memanggil namanya.
Sebelum Dhan sempat melihat siapa orang yang memanggil namanya tadi, orang itu sudah duduk di sampingnya.
" Tim kamu juga dapet tumbler? " tanya wanita tadi.
" Siapa kamu? " tanya Dhan, cuek.
" Masa lupa sih sama aku? Aku Rini, namaku Arini Namatri " katanya.
" Ngga kenal " balas Dhan. Dia berdiri, bersiap pergi dari tempatnya duduk.
" Tunggu, kamu dapet warna apa? " tanyanya lagi.
" Bukan urusan kamu " balas Dhan datar.
" Iya, emang bukan urusanku kok. Tapi apa salahnya kalo aku nanya " entah apa tujuan Rini tiba-tiba mendekati Dhan.
" Pink " jawab Dhan jujur.
" Pink? Tumbler kamu warna pink? Wah, sama dong. Punyaku juga warna pink, jangan-jangan kita jodoh ya " dengan PD-nya Rini berkata seperti itu.
" Ngga jelas " kata Dhan sebelum pergi.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
__ADS_1
" Ternyata banyak yang dapet warna pink, aku kira beneran couple "
next.....