Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar

Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar
Episode 6


__ADS_3

Hari itu karena sudah dibuatkan surat izin, Lanlan pun memutuskan untuk pulang sekalian istirahat, agar bisa memulihkan kembali kondisi fisik juga mentalnya.


Gaby dan Mora hanya bisa mengantarnya sampai mendapat taksi, karena mereka harus mengisi absen di pelajaran selanjutnya.


Taksi yang ditumpangi Lanlan menuju kearah tempat tinggalnya. Setelah dia mengatakan alamat tujuan, selang beberapa menit taksi itupun sampai di depan rumah Lanlan. Jarak antara rumah dan Kampus Mercusuar memang tak begitu jauh, dia biasa bersepeda kala berangkat dan pulang kuliah.


Dia naik taksi hari ini pun, karena paksaan dua sahabatnya. Mereka tidak mau hal buruk terjadi kepadanya, kalau sampai dia mengendarai sepedanya untuk pulang. Biaya taksi sudah dibayarkan oleh Mora, karena dia bersikukuh agar Lanlan mau menaiki taksi.


Sebenarnya bukan karena ongkos taksi yang mahal, uang jajan yang Bundanya berikan sangat cukup untuk naik taksi.Hanya saja dia tidak mau terlalu memanjakan diri dan menghamburkan uang untuk hal kecil. Sedang dia sendiri masih bisa mengayuh sepeda barunya, yang dibelikan orang tuanya saat dia mendapat juara satu di sekolah dulu.


Bukan karena tak mau meminta sesuatu yang mahal, tapi karena sepedanya yang lama sudah mulai rusak. Maka sepeda yang menjadi hadiah atas prestasinya itu.


Ayah serta Bundanya, memang sangat menyayangi Lanlan. Bukan karena dia anak pertama dan perempuan satu-satunya, tapi lebih kepada nasib dan kisah hidupnya. Sejak kecil, hidup Lanlan sudah sangat menderita, dia tak bisa makan dan bermain layaknya anak seumurannya. Sejak Ayah dan Bundanya menikah sampai Lanlan lahir kedunia, hidup keluarganya memang tidak tergolong bagus. Bisnis yang diwariskan oleh kakek Lanlan jatuh bangkrut, Ayahnya mengalami penipuan dari teman sekaligus rekan bisnisnya. Saat itu usia Lanlan masih sangat kecil, di usianya yang baru menginjak satu tahun dia harus mengalami hal yang menyedihkan.


3 tahun kemudian, ekonomi keluarganya sudah jauh lebih stabil. Ayahnya sudah memiliki warung makan sendiri, yang dikelolanya bersama Bunda Lanlan. Di tahun itu pula, saat kehidupan ekonomi mulai meningkat, Bunda Lanlan melahirkan 2 bayi kembar dimana keduanya berjenis kelamin laki-laki.


" Alhamdulillah, kedua bayi serta ibunya selamat dan sehat tanpa suatu apapun " kata Bu Bidan yang membantu proses persalinan.


" Alhamdulillah, terima kasih Bu Bidan. Boleh saya melihat istri dan bayi saya, Bu Bidan? " tutur Ayah Lanlan saat itu.


" Iya boleh, tapi nanti ya Pak. Saya masih harus membersihkan dan mengurus hal lain, nanti akan saya beritahu kalau sudah selesai " sahut Bu Bidan.


" O iya Bu, silahkan " kata Ayah, kembali duduk di kursi ruang tunggu.


" Ayah, Aya punya dede baru ya, Yah? " celetuknya, saat itu usia Lanlan menginjak 4 tahun. Jadi dia sudah tau dan paham, akan arahan yang diucapkan orang tuanya mengenai adiknya nanti.


" Iya sayang, sekarang Aya punya 2 adik. Nanti kalau sudah besar, bisa diajak main bareng Aya " sahut Ayah Lanlan.

__ADS_1


" Asikk, Aya punya temen baru " seru Lanlan saat itu.


Sejak kecil nama panggilan Lanlan adalah Aya, karena namanya yang Cahaya Rembulan. Namun sejak masuk kuliah, dia memperkenalkan dirinya dengan nama Lanlan sebagai panggilannya. Bukan tanpa alasan, dia mengganti nama panggilan itu.


Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, Lanlan pernah mengenal seorang pria yang juga memiliki nama yang sama dengannya, yaitu Aya. Nama asli pria itu sebenarnya adalah Arya Sangsangan, tapi lebih sering dipanggil Aya oleh teman dan juga keluarganya.


Lanlan memiliki kenangan yang tidak mengenakan dengan Aya, maka dari itu dia memutuskan untuk mengganti nama panggilannya menjadi Lanlan. Namun Bunda dan kedua adiknya tetap memanggilnya Aya, meski Lanlan berkali-kali menolak dan meminta mereka untuk mengikutinya seperti Ayahnya.


°•°•°•°•°•°•°•°•°


Masih tergolong pagi, saat Lanlan sampai di rumahnya. Tidak ada orang disana, karena Ayah dan Bundanya pergi bekerja. Sedangkan kedua adik kembar Lanlan, Ata dan Ari masih di sekolah.


Lanlan berbaring diatas tempat tidurnya yang berukuran sedang. Menatap langit-langit, mendengarkan suara kicauan burung yang kerap kali terdengar saling bersahutan.


Sejenak Lanlan memejamkan mata, mencoba merilekskan diri. Tiba-tiba saja kalimat yang dilontarkan oleh Dhan kembali menusuk telinga. Pikirannya kembali kacau, Lanlan menutup kedua telinga dan memejamkan mata, berharap tak lagi mendengar kalimat itu. Namun, harapan hanyalah harapan semata, takkan menjadi nyata. Kata-kata itu semakin jelas terdengar, hingga membuatnya stress.


" Sayang, ada apa, Nak? " tanya Bunda, langsung masuk kedalam kamar putrinya.


" Bunda " Lanlan menghampiri Bundanya dan langsung memeluknya.


Saat itu, Bunda kebetulan pulang ke rumah untuk mengambil beberapa stok salon yang sudah hampir habis. Namun saat membuka pintu, Bunda terkejut saat melihat sepatu putrinya tergeletak disana. Bunda baru akan mengetuk pintu kamar Lanlan, tapi diurungkannya karena tak ada suara apapun disana. Beliau kira Lanlan sedang tidur karena kelelahan.


Bunda masih memeluk putrinya, beliau memastikan agar putrinya untuk tenang sebelum beliau bertanya akan pertanyaan yang hinggap dikepalanya saat ini.


" Bunda ngga tanya kenapa Lanlan pulang awal? " tanyanya setelah melepas pelukannya pada Bunda.


" Bunda tau, hari ini kamu pasti mengalami hari yang cukup berat dan melelahkan. Bunda hanya ingin memberikan waktu agar kamu cukup mampu untuk bercerita lebih dulu sama Bunda " kata Bunda bijak.

__ADS_1


" Makasih Bunda, aku tau Bunda bukanlah orang yang akan memaksakan sesuatu " ucap Lanlan kembali memeluk Bundanya.


" O iya, kok tumben Bunda udah pulang? " tanya Lanlan saat kembali melepas pelukannya.


" Iya ya, tadi Bunda pulang mau ngapain ya? " ditanya seperti itu, Bunda justru bertanya balik karena lupa.


Tak mengherankan jika Bunda melupakan alasannya untuk pulang, apalagi setelah melihat putrinya. Pada saat hari biasa pun, Bunda juga lupa. Entah bagaimana bisa lupa, apa karena berjalan kaki hingga lupa karena tertiup angin? Atau memang karena sifat Bunda yang pelupa?


" O iya, Bunda ingat sekarang " seru Bunda membuat kaget putrinya.


" Apa itu, Bun? " tanya Lanlan kemudian.


" Bunda pulang itu mau ambil persediaan salon yang sudah tinggal sedikit. Kenapa jadi lupa sih " jelas Bunda.


" Oh gitu.... Ya udah, Lanlan bantuin ya. Apa aja Bun yang udah abis? " tanya Lanlan, sembari melihat almari yang berisi persediaan salon.


Lanlan membantu Bundanya mengambil beberapa persediaan yang dibutuhkan, dia juga ikut membawa persediaan itu ke salon Bunda. Untunglah, salon Bunda tidak terlalu jauh. Mereka bisa berjalan kaki menuju tempat usaha itu.


Kini, usaha salon Bunda sudah lumayan rame. Saat itu Bunda memutuskan membuka salon pada saat Lanlan duduk di bangku SMP kelas 2, sedangkan si kembar duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 5. Ya, sudah 5 tahun Bunda merintis usahanya. Lumayan untuk menambah kehidupan ekonomi keluarganya.


...°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°...


Note : Kenangan masa kelam, akan tertutup dengan semua kenangan indah. Tergantung bagaimana kita menghadapinya 😇


...°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°...


Bantu like 👍 rate ⭐ vote 🎟 kirim hadiah 🎁 dan kritik sarannya 💬 sebagai masukan ya 🙏 terima kasih ☺

__ADS_1


__ADS_2