
Lanlan juga Mora menyiapkan makan malam untuk Gaby, mereka pergi setelah selesai karena tidak ingin menggangu istirahat sahabatnya.
" Untuk saat ini kayaknya kita harus biarin Gaby sendiri deh, biar dia siap dan mau menceritakannya lagi " ujar Mora.
" Iya, sebaiknya kita pulang sekarang. Tulis note aja disini, takutnya dia bingung bangun bangun udah ada makanan " sahut Lanlan, meminta Mora menulis pesan.
" Iya " jawab Mora lalu menulis pesan, yang menandakan dia dan Lanlan baru saja dari rumahnya juga memasak makan malam sebagai permintaan maaf.
" Yuk " ajak Mora kemudian.
Kedua sahabat Gaby membiarkannya istirahat lebih lama lagi, semoga saja hari esok suasana hatinya sudah kembali lebih baik.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
Satu minggu telah berlalu sejak hari pertama penerimaan Maba, semua mahasiswa menjalani kegiatan kuliahnya dengan normal.
Sejak kejadian hari itu, Gaby mulai membuka diri dan menceritakan semua kisah hidupnya. Mulai dari pindahnya dia dan mamanya dari luar negeri, hingga insiden dimana mamanya mendekam dipenjara dan melakukan percobaan bunuh diri.
Mora sangat terkejut setelah mendengar semua kebenarannya, dia selalu menerka-nerka mengapa keluarga dari pihak ayahnya sangat tidak menyukai dan tidak mau menerima sahabatnya itu. Ternyata ada kisah lain dibaliknya, dimana dia baru mengetahuinya saat ini, setelah bertahun-tahun lamanya mereka menjalin hubungan persahabatan.
" By, kenapa kamu tidak pernah menceritakan yang sebenarnya sejak dulu? " seru Mora sesaat, setelah Gaby selesai bercerita.
" Aku tidak berani Ra, maafin aku. Aku takut kenyataan ini membuat hubungan persahabatan kita menjadi renggang " keluh Gaby, saat membayangkan bagaimana persahabatannya akan hancur. Setelah Mora tau bahwa dia adalah seorang anak narapidana.
" Tidak mungkin By, itu tidak akan mungkin. Kau tau kita sudah berteman sejak TK, bukan? Dan aku juga tidak akan melakukan hal itu sama kamu, kita ini kan sahabat " sahut Mora, senyum terkembang diakhir kalimatnya.
" Makasih ya, makasih karena kalian berdua masih mau menganggapku sebagai sahabat " timpal Gaby, berlalu memeluk kedua sahabatnya.
Di sudut taman, dibawah rindangnya pohon mangga, beralaskan tikar yang memang telah tersedia. Di sanalah tiga gadis cantik yang saling bertukar cerita berada.
__ADS_1
Sebenarnya bukan bertukar cerita, karena hanya Gaby yang menceritakan kisah hidupnya. Sedang Lanlan masih menutup rapat kisahnya, berharap masalah Gaby bisa terselesaikan lebih dulu.
Meski Gaby telah menceritakan semuanya, dia sama sekali tidak bisa percaya, bahwa mamanya telah melakukan percobaan pembunuhan kepada ayahnya dan juga istri sahnya.
" Woy, ngapain sih diem disini? " seru seorang pria, tidak jauh dari tempat tiga gadis berada.
" Aku penasaran deh, sebenarnya selama ini buku yang selalu kamu bawa itu buku apaan sih, Dhan? Kenapa kamu ngga pernah kasih tau aku? " tanya si pria yang baru saja datang.
" Tak ada niat " jawab pria yang duduk sambil membaca sebuah buku.
Ternyata pria yang sedang ditanya, juga sedang membaca buku itu adalah Dhan. Dia memang sering membaca buku di Taman, karena suasananya yang memang nyaman dan sejuk.
" Oke deh, ngga tanya lagi. Ngomong ngomong ngapain duduk sendiri disini sih? " tanyanya lagi.
" Lagi baca buku " balas Dhan lagi dengan singkat.
Ketiga gadis yang berada disudut, memperhatikan mereka. Karena suara pria yang baru saja datang, membuat tiga gadis teralihkan untuk melihat kearah mereka.
" Sudahlah, dia memang ada disana sejak tadi, bukan? " sahut Lanlan.
" Jangan jangan, si Dhan itu denger cerita kita lagi. Gimana kalo dia cerita ke Dion, terus Dion cerita ke orang lain? " seru Mora dilanda kepanikan.
" Ngga lah, ngga mungkin dia bakal cerita " jawab Lanlan yakin.
" Kok kamu bisa seyakin itu Lan? " tanya Mora.
" Kamu ngga denger dia jawab pertanyaan Dion singkat banget? Orang kayak dia ngga mungkin bergosip, apalagi cerita masalah Gaby tadi " tambah Lanlan dengan argumennya yang sangat masuk akal.
" Oh, iya juga ya " timpal Mora.
__ADS_1
" Iya, Dhan bukanlah orang yang akan membicarakan masalah orang lain " sahut Gaby, menatap lurus kearah pria yang masih sibuk membaca itu.
Lanlan dan Mora bingung, mengapa Gaby bisa mengatakan hal yang terdengar sangat yakin itu. Satu hal yang belum Gaby ceritakan adalah tentang Dhan, yang statusnya sebagai anak dari ayah dan istri sahnya.
Setelah mengatakan itu, Gaby bangkit lalu berjalan pergi meninggalkan dua sahabatnya.
" Apa maksud perkataannya? " tanya Lanlan.
Mora hanya bergidik tanda tak tau, mereka pun segera pergi menyusul Gaby.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
Sepeninggal Lanlan, Mora juga Gaby. Dhan masih duduk ditempatnya, sedangkan Dion pergi ke kantin untuk membeli cemilan.
" Ternyata benar dia Gaby " ucap Dhan lirih.
Memang benar yang dikatakan Mora, Dhan mendengar semua pembicaraan mereka. Bukan karena sengaja, dia sudah berada disana sedikit lebih lama sebelum mereka datang.
Berniat akan pergi, tapi saat Lanlan menanyakan tentang hal yang membuat Gaby memilih hidup mandiri. Dhan menjadi penasaran, akan cerita yang dikatakan oleh Gaby kepada dua sahabatnya itu.
Benar, yang dikatakan Gaby memanglah benar. Bahwa ibunya, Vionalisa memang melakukan percobaan pembunuhan kepada orang tua Dhan. Dengan cara menyabotase mobil yang dikendarai oleh ayahnya. Sebenarnya mobil itu pada awalnya dipakai oleh Resha, ibu Dhan untuk mengantarnya pergi ke sekolah. Namun, karena suatu kendala hingga membuat ayahnya juga ikut naik di mobil yang sama dengan mereka.
" Andai saja saat itu aku tidak ngotot untuk ikut acara sekolah, pasti mereka masih hidup " batin Dhan, saat mengingat kembali kejadian mengerikan yang menimpanya 8 tahun lalu.
Tidak mau kembali bersedih, Dhan memutuskan pergi ke kantin menyusul Dion. Ditengah perjalanan Dhan menuju kantin, sayup sayup terdengar percakapan mahasiswa yang tengah membahas mengenai saudara kembar. Mereka mengatakan kalau ada dua orang gadis kembar yang juga kuliah di Kampus Mercusuar, namun sayangnya mereka sudah lulus sejak 2 tahun yang lalu.
Entah apa yang sebenarnya para mahasiswa bicarakan sebelumnya, Dhan hanya mendengar sedikit saat melewati mereka. Karena tidak mau dibilang kepo atau pun semacamnya, Dhan tidak jadi bertanya pada mahasiswa itu. Meskipun dia sangat penasaran akan topik yang mereka bicarakan.
" Putri. Dimana kamu sebenarnya? " batin Dhan.
__ADS_1
Sejak kecil Dhan telah mengetahui bahwa dia memiliki saudara kembar yang bernama Putri, bahkan saat Dhan mengetahuinya dia juga ikut mencari keberadaan Putri. Mengorek informasi dari orang suruhan ayahnya, bahkan Dhan juga turut menyuruh orang untuk mencari keberadaan saudaranya itu.
8 tahun sudah ia jalani seorang diri, tak kenal lelah tetap mencari keberadaan Putri. Satu hal yang membuatnya sangat terpukul atas kepergian orang tuanya adalah, kenyataan bahwa mereka belum menemukan keberadaan Putri. Bahkan disaat terakhir hidup mereka.