Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar

Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar
Episode 49


__ADS_3

Seperti biasa, semua mahasiswa masuk kuliah sesuai dengan mata kuliah masing-masing. Masih sama, para gadis terus saja membahas topik yang kemarin telah dibahas. Jelas saja, topik bahasan adalah tentang mahasiswa baru yang tampan. Sampai kapan pun, tidak akan pernah habis pokok bahasan mereka.


Belum ada yang tau, bagaimana sifat asli si mahasiswa baru nan tampan itu. Semua hanya tertipu oleh penampilan luar saja, termasuk Ketua Pengurus Kampus, Reno Wijaya.


Sesuai dengan kesepakatan, Putri dan Mora mendekati Arya secara perlahan. Tentu saja, alasan mereka mendekatinya karena terpukau dengan ketampanannya. Disaat Putri dan Mora mengajukan diri untuk mendekati Arya, Dion jelas tidak suka. Tapi mau bagaimana lagi, semua itu mereka lakukan hanya untuk mencari tau alasan Arya melakukan itu pada Lanlan.


" Kalian udah tanya sama Lanlan? " tanya Dhan saat Putri dan Mora menemuinya.


" Udah, pokoknya kalian berdua tenang aja. Kita pasti bisa mencari tau jawabannya " ucap Putri percaya diri.


" Ya, tenang sih tenang. Kalo nanti salah satu diantara kalian ada yang suka beneran, gimana? " sahut Dion dengan nada sinisnya.


" Maksud kamu Mora? " telisik Dhan. membuat Putri dan Mora jelas tercengang.


" Aku? Emangnya kenapa kalo aku suka? " balas Mora enteng.


" Ini kan misi. Jadi, ngga boleh ada yang melenceng dari jalur " jawab Dion.


" Udah deh, Yon. Apaan sih kamu, ngga mungkin lah Mora suka sama si Arya. Orang yang dia suka kan, kamu " timpal Putri, jelas membuat Mora malu.


" Put, ngomong apa sih " bisik Mora.

__ADS_1


" Kenyataan kan? " balas Putri.


" Udah udah, itu orangnya udah dateng. Mulai sekarang aja, lebih cepat lebih baik " titah Dhan.


Ketiganya melihat ke arah topik yang Dhan bicarakan. Dari kejauhan, tampaklah sesosok laki-laki tampan dan memiliki postur sempurna berjalan menuju gedung kampus.


" Ayo Ra, kita pergi dulu ya " ajak Putri, pamitan kepada Dhan dan Dion.


" Semoga sukses, hati-hati " seru Dhan.


Dhan dan Dion masih menatap kepergian Putri dan Mora. Semoga saja keputusan yang mereka ambil tidak sia-sia, dan bisa menghasilkan suatu jawaban.


" Pagi " sapa Lanlan, melihat Dhan serta Dion yang masih terpaku menatap bayangan kosong.


" Oh, pagi juga Lan " sapa Dion.


" Iya, pagi. Kalian berdua liatin apa sih? Serius banget kayaknya " ucap Lanlan bertanya.


" Oh, itu Lan. Kita lagi liatin cewek cantik yang baru lewat tadi " sahut Dion.


" Oh, cewek cantik ya? Secantik apa sih? Apa kayak artis gitu? " selidik Lanlan. Ada semburat kesal dan marah yang terlukis diwajahnya.

__ADS_1


" Enggak-enggak. Ngga ada cewek cantik kok, ngawur aja nih Dion " sahut Dhan, menyadari aura kehitaman disekelilingnya.


" Ah iya, salah jawab aku. Maksudnya bukan liat cewek cantik, tapi liat dosen baru yang cantik " ralat Dion.


" Dosen baru? Emang ada ya? " tanya Lanlan kepancing.


" Udah udah, jangan dibahas lagi ya. anggap aja si Dion lagi sakit gigi, jangan didengerin " saran Dhan.


Meski Lanlan terlihat curiga, tapi dia tidak mau bertanya lebih lanjut. Siapa dia tanya-tanya hal mendetail seperti itu, itukan hak mereka mau liatin siapa aja.


" O iya, kalian ada liat Putri sama Mora, ngga? " tanya Lanlan tak melihat batang hidung mereka.


" Mereka lagi lakuin sesuatu " jawab Dhan.


" Hm? Apa itu? " tanya Lanlan.


" Bukan apa-apa kok " balas Dhan lagi.


" Kalo gitu, kita duluan ya " pamit Dhan, mengajak Dion juga.


.

__ADS_1


next....


__ADS_2