
Dua jam lamanya Dhan berada dalam kamar, bahkan sampai Rasya pulang dari kantor pun dia masih belum keluar kamar.
tok tok tok (suara ketukan pintu kamar, membuyarkan lamunan Dhan)
" Siapa? " tanya Dhan pada si pengetuk pintu.
" Ini Tante Sasa, Dhan. Boleh Tante masuk? " jelasnya.
Dhan berjalan membuka pintu yang sedari tadi ia kunci. Mempersilahkan Tasya untuk masuk kedalam kamarnya.
" Ada apa Tante? " tanyanya kemudian.
" Kamu ada masalah apa sih, Dhan? Kenapa pulang pulang basah kuyup, penuh luka memar. Cerita sama Tante, atau semua ini ada hubungannya dengan gadis yang bernama Lanlan itu? " todong Tasya, tanpa aba-aba.
" Lanlan? Tante tau dia darimana? " Dhan bingung mendapat todongan seperti itu.
" Tidak penting Tante tau darimana, sekarang kamu jawab pertanyaan Tante. Kamu suka sama gadis bernama Lanlan? " lagi lagi Tasya menodong Dhan dengan pertanyaan-pertanyaan anehnya.
" Tante... "
" Dhan... "
" Oke oke. Dhan mesti jawab yang mana dulu? " tanyanya.
" Suka sama Lanlan atau tidak? " ucap Tasya memulai sesi wawancaranya.
__ADS_1
" Iya, suka dikit " jawab Dhan, jujur.
" Sedikitnya itu seperti apa, Dhan? "
" Ya cuma dikit aja, ngga yang terlalu over apalagi sampe bucin " jelas Dhan, sontak membuat Tasya tertawa.
" Loh, kok Tante Sasa ketawa? " Dhan dibuat bingung dengan sikap Tasya yang berubah seketika.
" Itu artinya kamu sudah jatuh cinta sama dia " jelas Tasya.
" Maksud Tante? Aku itu cuma sedikit suka aja sama dia. Kenapa sampe situ bahasnya? "
" Dhan, Dhan. Kamu ini ya. Tadi kan Tante cuma nanya sedikit suka gimana maksud kamu. Kamu sendiri yang menyangkal sukanya terlalu over, sampai bucin. Itu artinya kamu sudah tahap jatuh cinta, keponakan Tante yang cuek " ucap Tasya, mencubit gemas kedua pipi Dhan.
" Ehem " rupanya Putri sudah berdiri didepan pintu Dhan yang terbuka lebar sejak tadi, menyaksikan dan mendengarkan langsung perbincangan Dhan dan Tasya.
" Kamu yang cerita sama Tante Sasa? " todong Dhan begitu Putri duduk disamping Tasya.
" Cerita? Soal apa? " Putri bertanya balik, kura-kura dalam perahu.
" Soal Lanlan " balas Dhan.
" Lanlan? Emangnya dia kenapa? " Putri berpura-pura bingung dan terkejut seakan ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya.
" Putri "
__ADS_1
" Iya Dhan "
" Tolong jawab yang jujur " pinta Dhan.
" Jujur gimana sih, aku aja ngga tau kamu nanya apaan? " jawab Putri.
" Kamu yang cerita sama Tante Sasa soal aku suka sama Lanlan? iya kan? " tanya Dhan.
" Loh, kamu suka sama temen aku, Dhan? Kenapa ngga bilang, harusnya kamu cerita dong sama aku " jawaban Putri yang melenceng dari jalurnya membuat Dhan mulai kesal.
" Terserah kamu lah mau ngomong apa, aku mau makan, laper " balas Dhan. Berjalan keluar kamar menuju ruang makan. Dimana Rasya, ternyata sudah duduk di salah satu kursinya.
Mendapat jawaban sinis Dhan tidak membuat Putri kesal, dia justru merasa senang karena berhasil menggoda saudaranya. Putri dan Tasya tampak tertawa gembira kala melihat ekspresi Dhan yang seperti itu.
Setelah Dhan pergi, Putri dan Tasya tidak mengikutinya untuk segera keluar kamar Dhan. Mereka berdua malah melihat sekeliling kamar, seperti mencari sesuatu.
" Kayaknya percuma juga kita nyari disini, ngga ada apa-apa, Tan. " ucap Putri. Tak mendapat apa yang mereka cari, Putri mengajak Tasya untuk meninggalkan kamar Dhan.
" Om Rasya " sapa Dhan, lalu duduk diseberang meja berhadapan dengan Rasya.
" Om Rasya ngapain disini? " tanyanya kemudian.
" Nungguin kamu, Om ngga boleh makan malem sebelum anggota keluarga kumpul semua " jawab Rasya.
Setelah Rasya pulang dari kantor, dia sudah merasa kelaparan. Namun, Tasya menyuruhnya untuk menunggu semua orang kumpul di ruang makan. Rasya memang jarang makan malam di luar, hampir tidak pernah malahan. Paling kalau Tasya yang minta untuk makan di luar, karena dia harus menemani Tasya makan malam di rumah. Apalagi setelah Dhan dan Putri tinggal bersama mereka. Sarapan dan makan malam harus bersama keluarga, hitung-hitung mengganti makan malam yang sudah terlewat puluhan tahun lalu.
__ADS_1
next.....