
Halo guys ☺ masih setia dengan anak kisah PoCi kan? penasaran dengan kisah sebelum ini? Langsung klik di karya Potongan Cinta ya 😉
Bantu author yang belum femes ini dong 🙏
hanya perlu tinggalkan cap jempol di setiap episode kok 👍 jika tertarik tambahkan ke favorit ya 😉
kalau mau kasih dukungan lain juga bisa kok, bisa lewat hadiah 🎁 atau vote 🎟 gampang kan? 👍 makasih ya 🙏
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari kedua maba di Kampus Mercusuar, mereka mulai menjalani hari-hari seperti mahasiswa pada umumnya. Hari ini Lanlan lebih mempersiapkan diri, bagaimana pun rintangannya dia harus tetap masuk kuliah. Kejadian yang dialaminya kemarin hanya 1% dari 100% hal yang pasti akan terjadi. Karena dunia perkuliahan jauh lebih luas cakupannya, ketimbang dunia Sekolah Menengah Pertama ataupun akhir.
" Lanlan " panggil seorang gadis yang terdengar akrab suaranya.
Lanlan menghentikan langkahnya, lalu menengok ke belakang dimana namanya disuarakan.
Senyum merekah saat tau orang yang memanggilnya barusan, dia adalah teman baru sekaligus teman pertamanya setelah menjadi maba.
" Gaby " serunya, menghampiri teman yang tengah berjalan kearahnya.
" Sudah baikan? Pagi sekali datangnya " ucap Gaby.
" Sudah, sengaja datang pagi. Soalnya mau lihat catatan mata kuliah kemarin " jelasnya.
" Oh itu, salinnya di kantin kampus aja ya. Aku belum sarapan soalnya " ucap Gaby, sembari meringis menunjukkan deretan gigi indahnya.
" Kamu belum sarapan? Memangnya tidak ada yang masakin? " tanya Lanlan, mereka memang sudah menjadi teman. Namun, Gaby belum menceritakan kisah hidupnya yang tinggal seorang diri.
Hanya senyum yang mampu Gaby berikan, berlalu menggandeng lengan Lanlan menuju kantin dengan segera.
Ditengah jalan, ponsel Gaby berdering. Nama yang sangat dikenalnya berkedip di layar ponsel, berlangitkan sebuah foto berwajah mungil nan imut.
🤙 ` Halo Ra. Ada apa? `
🗣️ ` Dimana By? Aku udah sampe kampus nih `
🤙 ` Di kantin sama Lanlan, nyusul ya `
🗣️ ` Oh, oke `
__ADS_1
" Pasti Mora ya " tebak Lanlan, dan dibalas dengan anggukan yang menandakan benarnya tebakan Lanlan.
" Bilang apa? " tanya Lanlan.
" Mau nyusul kesini katanya " jawab Gaby.
Gaby memesan makan dan minum, sedangkan Lanlan sibuk menyalin catatan mata kuliah yang tertinggal kemarin.
" Hey, asyik bener sih makan sendiri " sapa Mora, langsung duduk didepan Gaby yang sedang melahap sarapannya.
" Uhuk uhuk.. mmmm, kaget tau " protes Gaby yang tersedak karena suara kejut Mora.
" Ups, sorry " senyum Mora terkembang kala melihat Gaby terbatuk-batuk.
" Eh Lan, kamu ngga sarapan? " kini pandangannya teralihkan pada sahabat satunya yang sibuk menulis.
" Engga, aku udah sarapan tadi di rumah " jawab Lanlan.
" Kayak Lanlan dong By, kenapa ngga sarapan di rumah aja sih? " celetuk Mora. Dia lupa bahwa Gaby memutuskan hidup sendiri sejak masih kelas 3 SMP.
Lanlan yang sibuk menulis, sejenak menghentikan kegiatannya. Dia masih penasaran, mengapa pertanyaan yang dia ajukan soal sarapan di rumah, tidak di jawab oleh Gaby. Padahal sejak mereka saling mengenal, Gaby selalu menjawab setiap pertanyaan yang dia ajukan. Karena pada dasarnya Gaby memang memiliki sifat yang ramah dan murah senyum.
Lanlan dapat melihat raut wajah Gaby yang terlihat sedih, juga menampakan rasa kecewa yang mendalam.
" Aku minta maaf By, aku ngga bermaksud mengatakan hal itu " ujar Mora merasa bersalah.
" Tidak apa, karena itulah kenyataan yang sebenarnya " ucap Gaby, lalu menenggak habis minumannya sebelum pamit pada dua sahabatnya yang masih diam mematung.
" Gaby, tunggu, By " cegah Mora. Namun langkah kakinya tak mempu mengejar langkah kaki Gaby yang terbilang lebar.
Lanlan merasa sangat bingung pada sikap dua temannya itu, mengapa Gaby terlihat sangat kesal? batinnya.
Dia menghampiri Mora yang masih berdiri mematung ditempatnya, menatap kepergian Gaby yang tertutup dinding kaca kantin. Pandangan Lanlan dan Mora terhenti, pada sosok laki-laki yang tak sengaja ditabrak Gaby. Laki-laki itu adalah laki-laki yang membangkitkan kenangan masa kelam Lanlan.
Laki-laki yang diserukan namanya oleh mahasiswi di kantin, ternyata tidak datang seorang diri. Dibelakangnya berdiri satu laki-laki yang tak kalah tampan, senyuman yang ia pasang di wajahnya membuat semua gadis-gadis terpesona.
" Ih, sok ganteng banget sih dia. Masih ganteng yang didepan tadi tau " ucap Mora bergeming.
" Yang mana? " pancing Lanlan, barangkali Mora tau siapa nama laki-laki yang membuatnya kembali merasakan sakit itu.
" Yang itu tuh, masa kamu udah lupa sih? Kita kan ketemu dia di Perpus kemarin " tunjuk Mora pada laki-laki yang saat ini tengah mengambil makanan.
" Kamu tau siapa namanya? " lanjut Lanlan menginterogasi.
__ADS_1
" Aku denger-denger sih namanya Dhan. Loh, kamu kan satu kelompok sama dia Lan " pekik Mora, saat mengingat kenyataan bahwa dikelompoknya tidak ada satupun pria tampan.
" Ah iya, aku lupa. Dia yang waktu itu kenalannya paling singkat itu kan? " Lanlan justru bertanya pada Mora yang tidak tau menau.
" Kayaknya sih gitu " jawab Mora.
" Kok kayaknya sih? " protes Lanlan dengan jawaban Mora yang terdengar meragukan.
" Ya ampun Lanlan, aku kan ngga satu kelompok sama kamu, gimana sih " timpal Mora.
" Iya iya, maaf deh. Aku lupa "
Ditengah perdebatan mereka berdua, ternyata bintang topik yang sedang diperdebatkan itu justru duduk tepat dihadapan Lanlan.
" Kamu? Ngapain duduk disini? " tanya Lanlan, cukup terkejut dengan kehadiran bintang topik dihadapannya.
Dhan yang tak merasa ditanya pun celingukan, mencari sosok yang ditanyakan gadis dihadapannya itu.
" Kamu nyari siapa? " Dion bertanya, saat akan gabung bersama Dhan juga dua gadis cantik.
" Dia ngomong sama siapa sih? " tunjuk Dhan pada Lanlan, tapi pandangannya tertuju pada Dion.
" Hah? " Dion bengong, melihat kesana kemari. Melihat kearah Dhan juga Lanlan secara bergantian.
" Aku tanya dia ngapain duduk disini? " ulang Lanlan, dengan gerakan yang sama dengan yang dilakukan oleh Dhan.
" Hah? " lagi-lagi Dion melongo kebingungan.
Mora membuang napas kasar, agak kesal dengan sikap 2 orang laki-laki dihadapannya itu.
" Hey, kamu Dhan kan? " seru Mora menunjuk Dhan.
" Iya, aku Dhan " balasnya singkat.
" Heeuuhhhh... Lanlan nanya kamu ngapain duduk disini? Tempat lain kan masih banyak yang kosong, jangan-jangan mau modus ya " ujar Mora curiga.
" Tempat lain banyak gadis ngga jelas " ucapan Dhan membuat ketiga orang disampingnya terheran-heran.
" Apa sih maksudnya? Dasar aneh " gumam Lanlan.
" Aku bukan aneh, hanya malas berurusan dengan gadis-gadis yang cari muka dan cari perhatian " tambah Dhan.
" Ya benar aneh lah, cowok lain malah senang kalo di kerubutin cewek-cewek " sindir Mora.
__ADS_1
" Itu cowok lain, aku tidak termasuk " jelas Dhan.