Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar

Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar
Episode 38


__ADS_3

Just info, author minta maaf karena lupa untuk mengganti nama Gaby menjadi Putri. Mungkin karena sudah terbiasa memakai nama itu, makanya jadi lupa deh kalau harus ganti nama 😁 maafin author yang satu ini ya 🙏


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semua mahasiswa masuk ke dalam ruang kelas. Sesi belajar bersama dosen killer akan segera dimulai. Namun Putri dan Mora belum juga melihat Lanlan memasuki ruang kelas.


" Kamu mau duduk dimana? " suara tanya pria terdengar tidak asing ditelinga Putri.


Sungguh dibuat terkejut, Putri melihat Lanlan justru datang ke kelas bersama dengan Erik, bukannya Dhan. Gimana ceritanya?


" Putri, kok si Lanlan bisa barengan sama dia sih? " bisik Mora pada Putri yang masih syok melihat pemandangan tersebut.


" Dasar si Dhan ini, bukannya dateng sama Lanlan malah bareng si gaje itu " timpal Putri, melirik tajam pada 2 pria yang baru saja masuk.


" He'em, ngga jelas banget si Dhan " gumam Mora. Tapi terdengar oleh Putri, dia merasa sedikit kesal mendengar saudaranya di jelek-jelekkan.


" Apa kamu bilang? " geram Putri.


" Hee, tenang dulu tenang. Yang penting itu, mereka berdua mesti di gimanain sekarang " saran Mora, mengalihkan kekesalan Putri.


" Kamu bener, Ra. Pokoknya kita harus membuat mereka jadian. Aku ngga mau kalo si Erik itu sampe nembak Lanlan duluan, liat mukanya aja males aku " gerutu Putri.


" Ehem. Selain pengajar dilarang berbicara " ucap dosen killer. Rupanya sang dosen sudah berada disana sekitar 5 menit, namun tak ada yang menyadari kehadirannya.


Mendengar larangan yang terucap, apalagi larangan itu keluar dari dosen killer membuat semua mahasiswa diam.


Sesi pembelajaran pun dimulai. Sang dosen berkelamin laki-laki, berkepala botak dan berperut buncit mulai dengan mata kuliahnya.

__ADS_1


¤•¤•¤•¤•¤•¤•¤•¤


90 menit lamanya belajar bersama sang dosen killer, membuat Lanlan, Putri juga Mora merasa ngantuk. Pergantian mata kuliah yang berjarak hampir satu jam itu, mereka manfaatkan untuk mengistirahatkan mata dan pikiran.


Semua orang keluar ruangan. Tinggallah satu orang pria, yang mengabaikan ajakan temannya sendiri hanya untuk tetap diam didalam ruangan itu.


" Kamu beneran ngga mau ke kantin dulu, Dhan? " tanya sang teman.


" Ngga perlu. Kalo kamu mau pergi, pergi aja " balasnya.


" Oke, aku pergi ke kantin dulu kalo gitu " pamit temannya.


" Dion, tunggu " cegah Dhan.


" Ada apa? "


" Oke, tiga ya "


" Sekalian sama cemilannya juga " tambahnya.


" Terus apa lagi? " tanya Dion memastikan pesanan Dhan.


" Ngga ada, makasih " balas Dhan.


" Hmm, oke. Tiga minuman plus cemilannya juga ya " ulang Dion.


Sepeninggal Dion dari ruang kelas, Dhan tampak sibuk membaca sebuah buku. Buku yang selalu dia bawa, meski sudah mendapatkan jawabannya. Namun Dhan tetap membacanya, karena memang belum diselesaikannya.

__ADS_1


Dalam mode baca, Dhan tampak melirik ke arah tiga gadis yang tengah menelungkupkan kepalanya diatas meja. Bukan ketiganya yang dia perhatikan, melainkan satu gadis yang terlihat tampak manis bahkan saat tidur.


" Biasa aja kali liatinnya " Dion berdehem saat kembali dari kantin, lalu melihat temannya tampak memperhatikan satu gadis dengan serius.


" Kamu tuh yang biasa aja kalo ngomong " tangkis Dhan.


" Lah kok jadi aku? "


" Iya lah, kalo ngomong bisa kan ngga usah pake speaker " ucap Dhan.


" Astaga, saking ngga mau-nya kah dia kebangun gara-gara suaraku? " cicit Dion.


" Suara kamu udah ngalahin suara anak-anak komplek bangunin saur tau " jelas Dhan.


" Yang bener aja, ngga segitunya lah " sangkal Dion.


" Aduh, berisik amat sih " cuat Putri. Dia terbangun karena mendengar percakapan mereka.


" Putri. Kok kamu bangun? " seru Dhan bertanya pada saudarinya.


" Iyalah, kalian berdua berisik sih " ucap Putri.


" Put " panggil teman Putri yang lain.


next...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2